Numesir
  • Profil
  • Warta
  • Opini
  • Kolom
  • Internasional
  • Ubuddiyah
  • Sejarah
    • Kajian
      • Kajian Lakpesdam
    • Tokoh
    • Terjemah
    • Resensi
No Result
View All Result
NU Mesir
  • Profil
  • Warta
  • Opini
  • Kolom
  • Internasional
  • Ubuddiyah
  • Sejarah
    • Kajian
      • Kajian Lakpesdam
    • Tokoh
    • Terjemah
    • Resensi
No Result
View All Result
NU Mesir
No Result
View All Result
Home Kajian

Laporan Kajian: Sunni-Progresif sebagai Jalan Keluar

numesir by numesir
27 October 2019
in Kajian
0
0
SHARES
12
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Meminjam istilah Cak Nur, pemberitaan mengenai radikalisme agama tak ubahnya memasukkan anggur baru ke dalam botol-lama, dalam artian bukan lagi hal baru. Modus “semangat keagamaan” yang sama hanya dipoles sedemikian rupa sesuai dengan perkembangan pembuatan minuman yang ada. Akibatnya, pembiasan realitas atas kepentingan-kepentingan lain yang berkedok agama bisa merasupi berbagai wilayah manusia; politik, ekonomi, agama hingga budaya guna melebarkan sayap pasar bebasnya, suatu modus kapitalis yang oleh Muhammad Fayyadl disebut “Islam Pasar”.

Melihat tantangan di atas, Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) PCINU Mesir mecoba melakukan pendekatan ilmiah dengan menawarkan istilah Sunni-Progresif sebagai jalan-keluar. Tema yang dipresentasikan oleh Lukman Hakim Rohim ini menitikberatkan pada posisi Ahlusunnah sebagai pemegang status quo dalam upaya progresivitasnya yang lebih eksistensial terhadap problem dunia global.

Beberapa hal penting seputar kajian yang digelar pada Kamis, 24 Oktober 2019 tersebut membahas tentang persingggungan Islam dan Kapitalisme Barat yang memunculkan respon berbeda dari tubuh umat Islam. Perbedaan ini menjelma menjadi beberapa golongan, yakni golongan tradisionalis, golongan modernis atau liberal, golongan revivalis, dan terakhir transformatif. Dari golongan tradisionalis inilah yang tidak lain adalah Ahlussunnah akan dibahas secara historis-epistimologis yang nantinya menjadi basis pergerakan Sunni-Progresif.

Namun menjadi masalah ketika membahas definisi dari Ahlussunnah itu sendiri, melihat banyaknya adu klaim bahkan otoritas mengatasnamakan Ahlussunnah. Grand Syeikh Ahmad Thayyib mecoba memberikan jawaban apik dengan mangutip perkataan Imam Tajudin as-Subki dalam “Syarh ‘Aqidat Ibnu Hajib’, bahwa terminologi Ahlussunnah mengacu pada 3 golongan yang disepakati; ahlu hadits, ahli rasionalitas dan paradigma berpikir, dan ahli intuitif; mukasyafah.

Nyatanya, walaupun kondisi internal umat Islam terlihat baik-baik saja, akan tetapi realita kemunduran umat Islam saat ini tidak bisa ditampik lagi. Tantangan globalisasi dan kapitalisme dunia menyebabkan perlunya kesadaran akan krisis yang terjadi, khususnya Ahlussunah dengan massa terbanyak di dunia. Krisis internal ataupun eksternal yang menjangkiti umat ini antara lain; watak teologi dogmatis Ahlussunnah yang pada beberapa bagian terjebak pada dualitas. Corak berpikir macam ini dicurigai telah memberangus pluralitas corak berpikir yang rentan menimbulkan perpecahan di tubuh umat Islam sendiri. Kedua, tantangan radikalisme yang menurut pemakalah dianggap telah mendapat penanganan secara apik, baik melalui ormas-ormas sunni ataupun lembaga pendidikan dan pengembangan masyarakat. Selanjutnya, yang menjadi sentral kritik Ahlussunnah sebagai pemegang otoritas keislaman dunia adalah sikap abai terhadap tantangan kapitalis dan neo-liberal dewasa ini. Sehingga, adanya program-program berbasis syariah justru menjembatani praktek kapitalisme yang semakin mencekik masyarakat kasta rendah.

Maka kaitannya dengan problem di atas, Sunni-Progresif hadir dan mencoba menawarkan upaya-upaya pembaharuan yang terangkum dalam 3 gagasan pokok, yakni; pendasaran basis teologi pembebasan, aktualisasi tiga ranah (teologi, fikih dan tasawuf), dan reorganisasi massa dalam basis pergerakan perkembangan masyarakat. Disamping itu, rekontruksi iman ta’abuddi menuju iman taqaddumi menjadi ciri khas dari wacana Sunni-Progresif ini.

Diskusi yang berlangsung selama 7 jam ini berlangsung lancar dan semakin seru lantaran berbagai kritik dan saran disampaikan peserta kajian perihal tema yang diusung. Walaupun dalam beberapa hal, pemakalah dianggap kurang terang menjelaskan tentang Neo-liberalisme beserta runtutan sejarahnya sehingga membawa ke pembacaan yang terlalu umum dan meluas. Namun secara keseluruhan, perihal kaidah kepenulisan dan ketatabahasaan dinilai cukup baik, terlebih tema yang diangkat sangat menarik dan kontekstual dengan zaman sekarang.[]

Simak #LaporanKajian Lakpesdam Mesir lainnya di sini: LAKPESDAM.

Tags: lakpesdam
ShareTweetSend
numesir

numesir

Akun tim redaksi numesir.net 2022-2024. Dikelola oleh Divisi Website Lembaga Ta’lif wa Nasyr (LTN) PCINU Mesir.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Rayakan Momen Idulfitri, PCINU Mesir adakan Halalbihalal dan Pesta Nahdliyin

Rayakan Momen Idulfitri, PCINU Mesir adakan Halalbihalal dan Pesta Nahdliyin

21 April 2024
Karakteristik Nalar Arab

Karakteristik Nalar Arab

20 July 2021
Neo-Salafisme Wahabi; Dilema Pengusung Ultra-tekstualisme Agama

Resolusi Jihad: Dulu dan untuk Kini(?)

21 October 2018
Sayidah Aisyah Ra. dari Sisi Lain

Sayidah Aisyah Ra. dari Sisi Lain

15 April 2020
Ramadan dan Takwa

Ramadan dan Takwa

21 May 2020

Sebagai Bentuk Kepedulian, PCINU Mesir Gelar Istigasah Kubra untuk Sumatera

10 December 2025
NU Care-Lazisnu Kirim Tiga Kontainer Bantuan Kemanusiaan ke Perbatasan Gaza

NU Care-Lazisnu Kirim Tiga Kontainer Bantuan Kemanusiaan ke Perbatasan Gaza

10 December 2025
Menyambangi Nahdliyyin Mesir, Gus Ulil Tekankan Pentingnya Sebuah Peradaban

Menyambangi Nahdliyyin Mesir, Gus Ulil Tekankan Pentingnya Sebuah Peradaban

25 September 2025
Bertemu Menteri Wakaf Mesir, PBNU Kokohkan Kemitraan Strategis

Bertemu Menteri Wakaf Mesir, PBNU Kokohkan Kemitraan Strategis

25 September 2025
Bukti Nyata Diplomasi Budaya, ISHARI NU Mesir Tampil Memukau pada Acara Muktamar Internasional

Bukti Nyata Diplomasi Budaya, ISHARI NU Mesir Tampil Memukau pada Acara Muktamar Internasional

16 September 2025

Numesri.net putih

Tentang Kami | Kontak | Redaksi | Kirim Tulisan

Ikuti juga sosial media kami

  • Profil
  • Warta
  • Opini
  • Kolom
  • Internasional
  • Sejarah
  • Kajian
  • Tokoh
  • Ubuddiyah
  • Terjemah