Lebaran, bagi Nahdliyin di Mesir tahun ini merupakan momen istimewa. Selain menandai liburan, lebaran merupakan wujud kesyukuran atas selesainya pembangunan rumah baru.
Liburan musim panas warga Nahdliyin Mesir tahun ini diawali dengan buka-pintu (open house) Iduladha. Selain dimaksudkan untuk menyemarakkan Hari Raya Kurban, acara ini juga dilangsungkan sebagai momen tasyakuran sekretariat baru yang berdiri di tengah pemukiman warga Mesir.
Sekretariat PCINU Mesir yang baru tepat berhadapan dengan Masjid Khadlrawi, kawasan belakang kampus tua Universitas al-Azhar, tepatnya di gang el-Bathneya, gedung 9, flat 1, el-Darb el-Ahmar, Darrasah.
Rumah bagi sekitar 3000 (berdasarkan pusat data PCINU Mesir) mahasantri NU di Mesir ini diresmikan beberapa waktu sebelum Ramadan.
Meski saat itu masih dalam proses perapian gedung, namun lembaga-lembaga di bawah naungan PCINU sudah aktif berkegiatan.
Setiap hari, hampir tak kurang dari dua hingga empat majelis dilaksanakan di sekretariat. Kegiatannya pun variatif, dari kajian Lakpesdam, LBM, Fatayat Study Club, kajian lembaga riset maupun diskusi-diskusi kecil antar-pengurus.
Di antara kegiatan yang mengawali pembukaan rumah baru warga Nahdliyin Mesir itu ialah program Ramadan 1443 H. Diniatkan sebagai tabarukan gedung, simakan harian Qiraat Asyr dilantunkan setiap menjelah salat tarawih.
Tak hanya itu, sebagai afiliatif yang konsen terhadap keilmuan dan kajian, PCINU Mesir juga menggelar kajian al-Ta’lîm wa al-Muta’allim, buku metodologis cara belajar-mengajar dan etika menuntun ilmu.
Sadar bahwa NU dan al-Azhar memiliki banyak persamaan, PCINU Mesir berinisiatif mengkaji karya ulama Nusantara bersama dengan ulama al-Azhar. Masih sebagai program Ramadan, Nahdliyin yang berjumlah sekitar hampir separuh jumlah Masisir mulai dikenalkan dengan model pengajian hibrid semacam ini; matan oleh ulama Nahdliyin dan syarah oleh ulama al-Azhar.
Untuk kali pertama, Syekh Zakariyya, ulama al-Azhar sekaligus mustasyar PCINU Mesir menjelaskan kitab Risâlah Ahli al-Sunnah anggitan Hadrastussyekh KH. Hasyim Asyari. Ini membuktikan bahwa karya ulama Nusantara, yang notabene berasal dari tradisi Islam-pinggiran sejajar dan bisa disandingkan dengan karya ulama Timur Tengah, tempat munculnya tradisi Islam-pusat.
Hal menarik lain selain internasionalisasi karya ulama lokal, kajian kitab Risâlah tadi juga menguatkan kemiripan kultur dan budaya santri-kiai di pesantren dan al-Azhar.
Yang lebih penting dari semua itu ialah bahwa di antara NU dan al-Azhar terdapat kedekatan tradisi pengetahuan; manhaj berpikir yang terbingkai oleh Ahlussunnah wal Jamaah.
Pola pikir moderat yang ditawarkan Ahlussunnah penting dipraktikkan dalam proses membaca dan mengkaji literatur keilmuan Islam secara sabar, serius dan istikamah. Sebab, alangkah mudahnya mengambil maklumat dari media sosial, atau buku-buku ringkasan turats (mulakkhash, talkhish, madkhal, muqaddimah), dan betapa rumit serta lamanya membaca referensi asli dan muktabar untuk memahami gambaran untuh akan sebuah topik.
Demikian, model kajian hibrid yang digagas oleh PCINU Mesir menyiratkan pesan bahwa untuk menjadi ulama, seorang santri mesti tekun, sabar dan berkelanjutan dalam proses membaca dan menganalisis sekian banyak referensi pokok ilmu di fan masing-masing.
Kegiatan masif sejak awal tahun 2021 sebagaimana baru saja disebut membuktikan bahwa keberadaan rumah bagi warga Nahdliyin merupakan kebutuhan yang niscaya. Tak berlebihan jika sekitar 500 Nahdliyin Mesir menghadiri tasyakuran rumah sekaligus buka-pintu Lebaran Gede.
Acara yang dilaksanakan pada Ahad (25/7) itu dilangsungkan dengan iktikad menaati prokes. Untuk menghindari kerumunan besar, panitia membagi jam kehadiran warga ke dalam empat slip waktu (shift sebagai) dengan rincian sebagai berikut.
1. Marhalah Aksara 2020
(Shift I : 10.00 – 13.00 WLK)
https://bit.ly/MarhalahAksara
2. Marhalah Cakrawala 2019
(Shift II : 13.00 – 16.00 WLK)
https://bit.ly/MarhalahCakrawala
3. Marhalah Khatulistiwa 2018
(Shift III : 16.00 – 19.00 WLK)
https://bit.ly/MarhalahKhatulistiwa
4. Marhalah Gajahmada ‘17, Pancasila ‘16, Nusantara ‘15, Pandawa ‘14, Fawwaz ‘13, Adzkiya ‘12, dst.
(Shift IV : 19.00 WLK – selesai)
https://bit.ly/MarhalahSyuyukh
Selain dihadiri oleh rais syuriah dan mustasyar, buka-pintu juga diramaikan oleh kehadiran sebagian para wakif sekretariat.
Setelah hidangan gulai sapi, sate kambing dan jajanan tradisional seperti pisang-coklat, kue brownies, sambosa dan es teh susu habis disantap, tasyakuran berakhir menjelang tengah malam waktu lokal Kairo. (hamid)











