Numesir
  • Profil
  • Warta
  • Opini
  • Kolom
  • Internasional
  • Ubuddiyah
  • Sejarah
    • Kajian
      • Kajian Lakpesdam
    • Tokoh
    • Terjemah
    • Resensi
No Result
View All Result
NU Mesir
  • Profil
  • Warta
  • Opini
  • Kolom
  • Internasional
  • Ubuddiyah
  • Sejarah
    • Kajian
      • Kajian Lakpesdam
    • Tokoh
    • Terjemah
    • Resensi
No Result
View All Result
NU Mesir
No Result
View All Result
Home Kolom

Islam dan Negara; Perdebatan Literasi Pascaruntuhnya Turki Utsmani

Hafidz Alwi by Hafidz Alwi
19 August 2021
in Kolom
0
0
SHARES
44
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Runtuhnya Khilafah Turki Utsmani pada 1924 tidak hanya menimbulkan gejolak militer dan politik, namun juga perdebatan-perdebatan seputar hubungan Islam dengan negara di antara para tokoh pemikir Islam. Adu argumen dan perdebatan alot terwujud dalam dua arus “al-Islām wa Ushūl al-Hukmi” dengan  “Naqdlu Kitāb Islām wa Ushūl al-Hukmi.”

“Benarkah Islam juga menyinggung negara?” pertanyaan itulah yang menjadi titik debat antar-kedua arus saat itu. Syekh Ali Abdurraziq yang menjadi penulis buku pertama pada 1925 menegasikan hubungan Islam dengan negara. Islam hanya mengatur individu saja tidak ada kaitannya dengan negara. Pandangannya itu didukung oleh beberapa argumen historis dan dalil primer Islam.

Dalam bukunya, sebagaimana disarikan oleh Abdurrazaq Sanhuri, Syekh Ali Abdurraziq secara umum mengemukakan dua pandangannya. Pertama, sistem kepemimpinan (khilafah) bukanlah bagian dari ajaran Islam. Jadi khilafah yang terwujud selama berabad-abad yang lalu tidak lain merupakan sistem politik yang menjadi tuntutan kehidupan berbangsa. Argumen yang digunakan adalah kenyataan yang ada dalam sejarah akan tidak adanya dalil ijmak atau kesepakatan atas khilafah, namun kesepakatan sebab paksaan kekuatan. Fakta ini menegasikan dalil yang diklaim sebagai dalil atas adanya kepemimpinan dalam Islam.

Kedua, Islam adalah agama yang murni berfokus pada urusan agama atau ritual antara manusia dengan Tuhannya. Islam sama sekali tidak memasuki ranah negara. Sehingga dalam hal ini pandangannya sama dengan pandangan para pejuang kebangkitan Barat yang memisahkan agama dengan negara, “Agama adalah ruang privat semata, bukan urusan publik” sebagaimana disampaikan oleh Mohammad Imarah.

Argumen yang digunakan mendukung pandangannya adalah andai saja Islam juga mencakup perihal kenegaraan, pastilah Nabi sudah menjelaskan prinsip-prinsip tentang kenegaraan dan kenyataannya tidak. Menurutnya, peran Nabi adalah penyampai Risalah Tuhan. Bukan membentuk pemerintahan Islam, dalam salah satu bab dengan jelas ia menuliskan “Kerasulan… bukan pemerintahan, agama… bukan negara.”

Sebenarnya saya mencium motif kekecewaan dari Syekh Ali Abdurraziq ketika menuliskan bukunya.  Setidaknya itu terlihat dari ungkapannya “Andai para ulama menyadari pentingnya memisahkan agama dari politik seperti yang dilakukan Barat dengan agama mereka (Kristen) pasti saat ini tidak terjadi hegemoni asing terhadap kawasan Islam.” Benar, kekecewaan yang muncul sebab kondisi dunia Islam di Timur Tengah saat itu yang berada dalam ambang perpecahan dan kekalahan.

Terlebih setahun sebelum bukunya terbit, Khilafah Turki Utsmani runtuh setelah mengalami kekalahan Perang Dunia I dan hegemoni Barat sebagai pemenang perang dalam mengendalikan situasi politik di negara-negara bekas Khilafah Turki Utsmani. Sehingga lengkap sudah kekecewaan dirinya terhadap atas kondisi yang dialami dunia Islam di Timur Tengah.

Buku yang tidak biasa itu lantas ditolak keras oleh Syekh Khadr Husain yang kemudian menjadi Grand Syekh al-Azhar. Beliau menuliskan bantahan-bantahannya dalam bukunya yang berjudul “Naqdlu Kitāb Islām wa Ushūl al-Hukmi.”Di sana dengan sangat gamblang beliau memerinci satu persatu kesimpulan Syekh Ali Abdurraziq dan menjawabnya dengan argumen yang tidak kalah kuatnya. Buku Syekh Ali Abdurraziq yang tidak lebih dari 70 halaman itu disanggah oleh Syekh Khadr Husain dengan buku setebal 252.

Kemudian tokoh besar yang kelak menjadi pelopor undang-undang Timur Tengah; Abdurrazaq Sanhhuri juga membantahnya dalam buku disertasi yang ditulisnya di Lyon, Prancis. Ia memakai argumentasi yang menampilkan sejarah masa lalu dan sikap Rasul dalam menata negara. Belakangan disertasinya itu menjadi ikon kebangkitan fikih negara modern berjudul “Khilafah dan Liga Arab.”

Perdebatan soal Islam dan negara menjadi sangat menarik ketika Grand Syekh Ahmad Tayib di dalam salah satu programnya di bulan Ramadan mengulas tentang dua buku itu dengan menggambarkan kondisi sosial yang terjadi saat dua buku tersebut beradu. Dalam hal ini beliau memberi pesan bahwa dengan membaca literatur kita bisa melihat fakta dan kenyataan yang layak menjadi pegangan.

Meskipun ada kabar berhembus bahwa setelah Syekh Ali Abdurraziq mendapat bermacam sanggahan lantas merujuk kembali pemikirannya, namun hal itu membuktikan bahwa hubungan negara dengan Islam tidak pernah selesai, dalam tataran praktik.

Editor: Hamidah
Ilustrator: Khoiruman

ShareTweetSend
Hafidz Alwi

Hafidz Alwi

Wakil ketua PCINU Mesir 2021-2023 bidang Kajian dan Keilmuan. Mahasiswa Al-Azhar Fakultas Ushuluddin, alumnus Pesantren Lirboyo.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Bias Kesenjangan Generasi di antara Masisir

Bias Kesenjangan Generasi di antara Masisir

14 September 2022
Urgensi Akal dalam Etika Islam

Urgensi Akal dalam Etika Islam

7 December 2019
Menyoal Dalil Rasional Perspektif Asyairah (1)

Menyoal Dalil Rasional Perspektif Asyairah (1)

31 October 2019
Karakteristik Nalar Arab

Karakteristik Nalar Arab

20 July 2021
Peringati HUT RI ke-76, Nahdliyin Mesir Gelar Malam Tirakatan

Peringati HUT RI ke-76, Nahdliyin Mesir Gelar Malam Tirakatan

21 August 2021

Sebagai Bentuk Kepedulian, PCINU Mesir Gelar Istigasah Kubra untuk Sumatera

10 December 2025
NU Care-Lazisnu Kirim Tiga Kontainer Bantuan Kemanusiaan ke Perbatasan Gaza

NU Care-Lazisnu Kirim Tiga Kontainer Bantuan Kemanusiaan ke Perbatasan Gaza

10 December 2025
Menyambangi Nahdliyyin Mesir, Gus Ulil Tekankan Pentingnya Sebuah Peradaban

Menyambangi Nahdliyyin Mesir, Gus Ulil Tekankan Pentingnya Sebuah Peradaban

25 September 2025
Bertemu Menteri Wakaf Mesir, PBNU Kokohkan Kemitraan Strategis

Bertemu Menteri Wakaf Mesir, PBNU Kokohkan Kemitraan Strategis

25 September 2025
Bukti Nyata Diplomasi Budaya, ISHARI NU Mesir Tampil Memukau pada Acara Muktamar Internasional

Bukti Nyata Diplomasi Budaya, ISHARI NU Mesir Tampil Memukau pada Acara Muktamar Internasional

16 September 2025

Numesri.net putih

Tentang Kami | Kontak | Redaksi | Kirim Tulisan

Ikuti juga sosial media kami

  • Profil
  • Warta
  • Opini
  • Kolom
  • Internasional
  • Sejarah
  • Kajian
  • Tokoh
  • Ubuddiyah
  • Terjemah