Kidung Kehidupan Ummu Kultsum

0 587

Pelantun lagu Arab Ummu Kultsum berpulang pada 3 Februari 1975. Hari ini, meski telah 45 tahun ia meninggalkan dunia,  alunan suaranya masih sering terdengar entah dari siaran-radio yang disetel di gerai barber, dari tape yang diputar pengemudi taksi, atau dari panggung konser di berbagai rumah-budaya seantero Kairo, ibukota Mesir.

1/ Alunan Syair dari Mesir

Ummu Kultsum ialah pemilik suara yang mampu mempersatukan tidak hanya masyarakat Mesir namun juga bangsa Arab seluruhnya. Demikian seperti dipaparkan oleh seorang penulis berkebangsaan Amerika, Virginia Danielson, yang menuliskan hasil penelitiannya tentang Ummu Kultsum dalam buku The Voice of Egypt: Ummu Kulthum, Arabic Song, and Egyptian Society in the Twentieth Century. Buku ini juga telah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab dengan judul yang sama oleh Pusat Terjemah Nasional Mesir dan dibedah bersama penulisnya pada Pameran Buku Internasional Kairo tiga tahun yang lalu.

Lantunan kidungnya disebut oleh Virginia Danielson mampu memikat dan menyatukan bangsa Arab dari belahan Barat hingga Timur, dari kafe-kafe rakyat di kota Fes hingga sudut pasar di kota Baghdad, dari orang-orang berdasi di kota besar hingga para badui di tenda padang pasirnya.

Sementara Nusantara, yang berada jauh dari Timur Tengah turut menyaksikan betapa kidung-kidung yang dibawakan Ummu Kultsum mampu memikat dan menyiar ke negeri kepulauan. Lagu Ala Baladi al-Mahbub (ditulis menjadi Alabaladhi) misalnya menjadi judul album grup-musik Nasida Ria volume I (1978) dan disebut-sebut sebagai andalan album perdana itu. Itu belum termasuk Ghanni Li Shwayya Shwayya yang mendapat tempat tersendiri di hati masyarakat Indonesia, penikmat gambus khususnya.

Ummu Kultsum membawakan beragam lagu bercorak nasionalis, relijius, romantis dan penghias film-film yang ia sempat bintangi. Mungkin, itu pula yang menjadikannya berkesan pada banyak pasang telinga orang dari berbagai elemen.

2/ Istimaiah Ulama

Dalam sebuah wawancara pada program stasiun televisi Suriah, Syekh Muhammad Sa’id Ramadan al-Buti bercerita tentang pengalamannya mendengarkan lagu. Secara spesifik beliau mensyarah beberapa baris lagu berjudul al-Qalbu Ya’shaq Kulla Jamīl yang dikidungkan oleh Ummu Kultsum. Syekh al-Buti juga mengisahkan visi dan fase kehidupan penulis syair tersebut, Bayram al-Tunisi.

“Ketika mendengarkan lagu-lagu Ummu Kultsum, atau penyanyi lain siapapun, saya merasakan sesuatu yang tidak saya rasakan ketika membaca buku-buku pelembut-hati (kutub al-raqāiq),” tutur Syekh Al-Buti.

Syekh al-Buti bukanlah satu-satunya pemuka agama yang mempunyai pengalaman tersendiri dengan lagu Ummu Kultsum. Habib Ali al-Jufri dalam kunjungannya ke sebuah rumah budaya di Sudan juga mengisahkan kesannya mendengarkan lagu pelantun Arab yang berjuluk Sang Bintang dari Timur itu. “Suatu malam di Kairo, pada masa lampau yang jauh, saat saya naik angkutan umum dari Attaba menuju Zamalik si pengemudi itu memutar lagu Ummu Kultsum, semoga Allah merahmatinya, berjudul Amal Hayati,” tutur Habib Ali mengawali.

Dalam dokumentasi video kunjungan itu, Habib Ali menyitir beberapa bait dari Amal Hayati.

// Amal hayâti yā hubb ghāli mā yantahisy // Ya ahla ghenwa ghenwa sama’hā alby wa lā tetnasisy // 

“Sampai pada lirik syair yang berbunyi ‘khallīnī ganbak, khallīnī fī hudlni albak‘ (izinkan aku di sampingmu, tersimpan dalam hatimu) tak terasa saat itu saya sudah berlinangan air-mata. Saya teringat satu yang kinasih. Perjalanan berlalu begitu saja hingga tak terasa sekira dua halte terlewati dari halte yang seharusnya saya turun. Setelah itu, saya tahu lagu itu berjudul Amal Hayati yang ditulis oleh seorang penyair Ahmad Syafiq Kamil.”

Beberapa tahun lamanya setelah pengalaman malam itu, Habib Ali al-Jufri ditakdirkan bertemu dengan Ahmad Syafiq Kamil. Beliau saat itu berkesempatan mengisi pengajian di Masjid al-Bahjah, kota Sitta Oktober yang juga direkam dalam serial pengajian al-Thariq ila Allah (Jalan Menuju Allah).

Seorang sepuh yang duduk di belakang dan tampak berjalan ditatih istrinya. Ia salah satu dari jemaah pengajian itu. Usai ceramah, Habib menyapa penyair itu. Beliau menceritakan kekagumannya dan bertanya, “Tuan Ahmad Syafiq Kamil, kepada siapa sebenarnya syair Amal Hayati Anda tulis?”

Ahmad Syafiq Kamil terperanjak dan berkata, “Saya bersumpah demi Tuhan! Di Raudah (Masjid Nabawi) sanalah saya menulis Amal Hayati dan Enta Umri. Dan wahai Habib, kisah ini pun sebenarnya hanya diketahui oleh tiga orang, yakni Ummu Kultsum sebagai pelantun kidung, Muhammad Abdul Wahab pengaransemen, dan saya. Karena itulah, Ummu Kultsum dahulu sempat mengutarakan ketidak-setujuannya memakai diksi ‘wa kifayah ashha ala shafaifak’ (cukuplah aku terbangun atas bibirmu). Ia mengubahnya menjadi ‘ala ibtisamtak’ (atas senyummu).” Demikian untuk menjaga adab pada Rasulullah. Selain itu, Ummu Kultsum memang dikenal kerap mengubah syair yang ia bawakan, utamanya pada diksi yang membuatnya masygul atau kurang puas.

3/ Ummu Kultsum Tak Sendiri

Dari dua penuturan ulama ini, semakin terang bahwa setiap kidung melibatkan banyak individu dalam kehidupan Ummu Kultsum. Penulis syair dan pengaransemen juga punya andil dalam setiap karyanya. Belum lagi, para pemusik yang mengiringi di setiap pertunjukan.

Sederet penyair dan musikus memang tidak seterang Ummu Kultsum sebab ia bak bintang yang dilihat penduduk seantero jagat. Tetapi, seorang penggemar atau sekadar pendengar yang terkesan pada galibnya akan menyadari bahwa Sang Bintang tidaklah sendiri. Dus, membincang tentang mereka yang ada di balik layar serta mendaras karyanya adalah satu aspek yang krusial untuk lebih bestari.

Lembaga Seni dan Budaya Nahdlatul Ulama (LSBNU) Mesir melalui kegiatan bulanan Tadarus Budaya kali ini mengajak para Nahdliyin di Mesir untuk mendaras “Kidung Kehidupan Ummu Kultsum” pada hari pertama (indoor). Pembicaraan dimulai dari riwayat-hidup, syair-syair pilihan, hingga musik di tengah masyarakat Timur-tengah yang akan diulas dalam topik beragam seperti musikologi, musikalitas Arab, legalitasnya dalam agama Islam, dan gerakan perempuan di era Sang Bintang.

Pada acara di dalam-ruangan ini, kawan-kawan NU Mesir yang berseni musik dan tersebar di beberapa grup juga akan menampilkan kidung-kidung pilihan sebagai persembahan. Sedangkan pada hari berikutnya (outdoor), para partisipan akan diajak mengunjungi museum Ummu Kultsum di Pulau Raudah serta berziarah ke pusaranya yang tak jauh dari kawasan Imam Syafii, di kawasan Al-Basatin, Kairo.

Selamat bertadarus dan semoga menjadi bagian amal baik untuknya!

 

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.