Hukum Selawatan

0 78

Beberapa komunitas muslim di Indonesia, sebut saja warga Nahdliyyin, senang mendendangkan selawat serta puji-pujian terhadap Baginda Nabi Muhammad SAW. Berbagai macam teks selawat, pujian, atau biografi tentang keagungan Baginda Nabi seperti Burdah, Barzanji, Diba’, Simthudduror, Thibbil Qulub, Nariyah, Fatih, dan lain sebagainya sudah sering dibaca oleh kaum Nahdliyyin. Sehingga membaca selawat telah menjelma sebagai corak umum dan tradisi yang sudah masyhur.

Hampir dipastikan semua muslim di Indonesia pernah mendengar atau membaca selawat di berbagai tempat dan kesempatan. Misal, di setiap kenduri atau acara riungan, pengajian, menunggu salat berjamaah, bahkan di berbagai waktu dalam kehidupan kita sehari-hari, kegiatan membaca selawat seakan-akan sudah mendarah-daging. Apalagi jika hari jumat tiba, para santri biasanya mengadakan acara khusus untuk memperbanyak membaca selawat dan pujian terhadap nabi.

Sebagian orang ada yang belum mengerti betapa agungnya aktivitas membaca selawat. Mereka beranggapan bahwa selawat yang sering dibaca oleh masyarakat Indonesia adalah bidah yang melanggar syariat. Hal ini tentu saja tidak benar. Sebab, meski sebagian teks yang kita baca hari ini bukanlah berasal dari nabi, akan tetapi teks-teks tersebut merupakan ekspresi cinta dari para ulama yang tidak sempat berjumpa Baginda Nabi SAW. Bahkan, sebagian ekspresi kecintaan terhadap Nabi itu sebenarnya juga telah dimulai oleh para sahabat nabi sendiri.

Berikut ini dalil-dalil yang bisa dijadikan sandaran dalam membaca selawat beserta keterangannya:

  1. Membaca Selawat


إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا

“Sesungguhnya Allah dan para malaikat-Nya berselawat kepada Nabi. Hai orang-orang yang beriman, berselawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya.” (QS. Al-Ahzab: 56)


عَن أَبِي هُرَيرَةَ رضي الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللهِ صلى الله عليه وسلم قَالَ: ((مَنْ صَلَّى عَلَيَّ وَاحِدَةً، صَلَّى الله عَلَيْهِ عَشْرًا))؛ رواه مسلم.

Dari Sahabat Abu Hurairah Ra., bahwasanya Rasulullah Saw. bersabda: “Barang siapa yang membaca satu selawat kepadaku, maka Allah pasti menurunkan sepuluh rahmat kepadanya.” (HR. Muslim: 70, Abu Dawud: 1532, Tirmidzi: 487, An-Nasa-i: 1295, Ahmad: 9089, 9117, 10558, Ad-Darimi: 2828)


قَالَ أَنَسُ بْنُ مَالِكٍ, قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَمَ : مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً وَاحِدَةً صَلَّي اللهُ عَلَيْهِ عَشْرَ صَلَوَاتٍ وَحُطَّتْ عَنْهُ عَشْرَ خَطِيْئَاتٍ وَرُفِعَتْ لَهُ عَشْرَ دَرَجَاتٍ

“Anas bin Malik Ra. berkata, Rasulullah Saw. bersabda: “Barang siapa yang berselawat kepadaku satu kali, niscaya Allah akan berselawat kepadanya sepuluh kali, dihapus darinya sepuluh kesalahan, dan diangkat baginya sepuluh derajat.’” (HR. An-Nasa-i: 1296)



عن عليّ رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ قال، قال رَسُول اللَّهِ ﷺ: (البخيل من ذكرت عنده فلم يصل علي) رَوَاهُ التِّرمِذِيُ

Dari Sahabat Ali Ra. berkata, Rasulullah Saw. bersabda, “Orang yang pelit adalah orang yang ketika namaku disebut di sisinya, ia tidak membaca selawat kepadaku.” (HR. Tirmidzi: 3891)

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- قَالَ « مَا قَعَدَ قَوْمٌ مَقْعَداً لاَ يَذْكُرُونَ اللَّهَ عَزَّ وَجَلَّ وَيُصَلُّونَ عَلَى النَّبِىِّ إِلاَّ كَانَ عَلَيْهِمْ حَسْرَةً يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَإِنْ دَخَلُوا الْجَنَّةَ لِلثَّوَابِ »

Dari Sahabat Abu Hurairah Ra. Rasulullah Saw. bersabda: “Tidak ada suatu kaum yang duduk di satu tempat, sedang mereka tidak berzikir kepada Allah Azza Wajalla dan tidak membaca selawat kepada Nabi Muhammad Saw., kecuali hal itu akan menjadi penyesalan bagi mereka di hari kiamat, meski mereka telah masuk surga karena pahala.” (HR. Ahmad)

  • Berkreasi dalam Teks Pujian terhadap Nabi SAW


عَنْ أَنَسٍ قَالَ كَانَتِ الْحَبَشَةُ يَزْفِنُونَ بَيْنَ يَدَىْ رَسُولِ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم- وَيَرْقُصُونَ وَيَقُولُونَ مُحَمَّدٌ عَبْدٌ صَالِحٌ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ –صلى الله عليه وسلم- « مَا يَقُولُونَ ». قَالُوا يَقُولُونَ مُحَمَّدٌ عَبْدٌ صَالِحٌ

“Dari Sahabat Anas Ra. berkata, bahwa orang-orang Habasyah (Ethiopia) menari di depan Rasulullah dan mereka mengatakan: “Muhammad hamba yang saleh”. Nabi bertanya (kepada para sahabat): “Apa yang mereka katakan?”. Mereka menjawab bahwa orang-orang Habasyah tengah mengatakan Muhammad hamba yang saleh.” (HR Ahmad, sanadnya sesuai kriteria Muslim)

أن كعب بن زهير بن أبي سلمى أنشد رسول الله صلى الله عليه وآله وسلم في المسجد قصيدته المشهورة التي مدح فيها النبي صلى الله عليه وآله وسلم، والتي مطلعها: بانَت سُعادُ فَقَلبي اليَومَ مَتبولُ مُتَيَّمٌ إِثرَها لَم يُـفَـدْ مَكبولُ

ويقول فيها:

أُنبِئتُ أَنَّ رَسولَ اللهِ أَوعَدَني وَالعَفُوُ عِندَ رَسولِ اللهِ مَأمولُ

مَهلًا هَداكَ الَّذي أَعطاكَ نافِلَةَ الـ ـقُرآنِ فيها مَواعيظٌ وَتَفصيلُ

لا تَأَخُذَني بِأَقوالِ الوُشاةِ وَلَم أُذِنب وَلَو كَثُرَت عَنِّي الأَقاويلُ

ثم ظل يمدح النبي صلى الله عليه وآله وسلم إلى نهاية القصيدة، ومن الأبيات التي يمدحه بها قوله:

إِنَّ الرَسولَ لَنورٌ يُستَضاءُ بِهِ مُهَنَّدٌ مِن سُيوفِ اللهِ مَسلولُ

فأقرَّ النبي صلى الله عليه وآله وسلم مدح كعب بن زهير له ولم ينهه عن مدحه ولا على إنشاده في المسجد، بل كساه بردة.

ينظر: “الإصابة في تمييز الصحابة” للحافظ ابن حجر (5/ 444، ط. دار الكتب العلمية)

Sesungguhnya Sahabat Ka’ab bin Zuhair bin Abi Sulma Ra. melantunkan sajak (kasidah) yang di dalamnya terdapat pujian kepada Nabi Saw., sedang permulaannya adalah:

Suad telah pergi, pada hari ini hatiku sedih ** Gelisah sesudahnya, ia masih teringat dan belum lepas

Dan dia juga mengungkapkan dalam sajaknya:

Aku diberitahu bahwa Rasulullah mengancamku ** Dan pengampunan di sisi Rasulullah benar-benar diharapkan

Janganlah tergesa-gesa, engkau telah dibimbing oleh Zat yang memberimu ** Mukjizat al-Qur`an yang di dalamnya berisi nasihat dan rincian

Jangan menghukumku dengan dasar ucapan penyebar isu ** Aku tidak bersalah walaupun orang-orang berkata buruk tentang diriku

Kemudian ia terus-menerus memuji Nabi Muhammad Saw. sampai akhir sajaknya, dan di antara bait yang terdapat pujiannya terhadap Nabi adalah ucapannya :

“Sesungguhnya Rasul adalah cahaya yang menerangi ** Seorang yang kuat nan pemberani laiknya pedang Allah yang terhunus”

Kemudian Nabi Muhammad Saw. menerima pujian Ka’ab bin Zuhair bin Abi Sulma kepadanya. Beliau pun tak melarang Ka’ab untuk memujinya, juga tidak melarang untuk melantunkan sajaknya di dalam masjid. Bahkan, (setelah kejadian itu) Nabi Muhammad Saw. memakaikan sebuah selimut (burdah) kepadanya.

Lihat: Al-Ishâbah fî Tamyîz al-Shahâbah, Al-Hafiz Ibnu Hajar, 5/444, Cet. Darul Kutub Al-‘Ilmiyyah.

وروى الطبراني في “المعجم الكبير” عن خُرَيْم بن أوس بن حارثة بن لام رضي الله عنه قال: كُنَّا عند النبي صلى الله عليه وآله وسلم، فقال له العباس بن عبد المطلب رحمه الله: يا رسول الله، إني أريد أن أمدحك، فقال له النبي صلى الله عليه وسلم: «هَاتِ، لا يَفْضُضِ اللهُ فَاكَ»، فأنشأ العباس يقول شعرًا؛ منه قوله:

وَأَنْتَ لَمَّا وُلِدْتَ أَشْرَقَتِ الْأَرْضُ وَضَاءَتْ بِنُورِكَ الْأُفُقُ

وَنَحْنُ فِي ذَلِكَ الضِّيَاءِ وَفِي سُبْلِ الْهُدَى وَالرَّشَادِ نَخْتَرِقُ

Dari Sahabat Khuraim bin Aus bin Haritsah bin Lam Ra. berkata: “Kami berada di dekat Nabi Muhammad Saw., kemudian Al-‘Abbas bin Abdul Muththalib Rahimahullah berkata kepada beliau: ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku ingin memujimu.’ Lalu Nabi berkata: ‘Kemukakanlah, (sesungguhnya) Allah tidak menutup mulutmu.’ Lalu Al-Abbas mengemukakan pujiannya sambil melantunkan syair; di antara syairnya terdapat bait-bait:

Dan engkau, ketika engkau dilahirkan, terang-benderanglah bumi, dan bersinarlah cakrawala sebab cahayamu.

Dan kami, di dalam cahaya itu dan di dalam jalan hidayah dan petunjuk, kami menyusuri.

Lihat: Al-Mu’jam al-Kabîr, Imam Ath-Thabrani.

Dengan dasar dalil-dalil yang telah disebutkan di atas, dapat disimpulkan bahwa membaca selawat dan puji-pujian kepada baginda Nabi dengan berbagai bahasa dan beragam ungkapan, sama sekali bukan hal yang terlarang di dalam agama. Bahkan, hal itu merupakan sesuatu yang telah dicontohkan oleh para sahabat Nabi sendiri. Andaikan memuji Nabi dengan kalimat-kalimat yang indah itu dilarang, pasti nabi sendirilah yang akan mencegah dan melarangnya pada saat itu juga. Namun, yang terjadi justru sebaliknya, Nabi Muhammad Saw. justru merasa senang dan memberikan hadiah kepada sahabat yang mendendangkan syair pujian tersebut. Dengan ini, marilah kita memperbanyak selawat dan salam kepada baginda Nabi Muhammad Saw., baik pada saat sendiri maupun secara berjamaah. Allahumma Shalli ‘ala Sayyidinâ Muhammad. Wallahu a’lam.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.