Dalam rangka memeriahkan Konferensi Cabang (Konfercab) XII, Lembaga Bahtsul Masail Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (LBM PCINU) Mesir menggelar Bahtsul Masail Kubro (BMK) antar-almamater dan afiliatif.
Jika dihitung, ini merupakan BMK keempat yang digelar sebagai pra-acara Konfercab.
Bahtsul Masail adalah ajang kajian dan diskusi ala pesantren Nahdlatul Ulama, khususnya di Jawa, dalam membahas suatu persoalan menurut pandangan ulama Ahlussunnah wal Jamaah.
Ulasan permasalahannya mengarah pada persoalan kontemporer ataupun klasik. Umumnya, persoalan yang didiskusikan belum pernah teraba oleh masyarakat dan kalangan ulama di dalam kitab-kitab, al-Quran maupun Hadis. Sebuah persoalan yang membutuhkan pengkajian lebih jauh serta diskusi lebih mendalam.
BMK kali ini mengangkat dua permasalahan besar, yakni Monetisasi YouTube dan Problematika Ibadah Wafidin. Gelaran diskusi yang dihadiri oleh dua musahih dan tiga muharir ini terbilang sukses dan lancar. Para peserta terlihat aktif beradu argumen hingga akhir acara. Meski serius, tak jarang guyon saling bertukar antar-peneliti.
Selain sebagai rangkaian Konfercab, BMK ini penting diadakan, “… sebagai ajang silaturahmi intelektual, guna merawat tradisi keilmuan khas Indonesia, juga sebagai usaha LBM yang ingin ikut andil dalam memecahkan persoalan Masisir,” ungkap Ali Arinal Haq, salah satu anggota LBM.
Ia juga menambahkan bahwa BMK merupakan ajang menerapkan teori fikih yang telah dipelajari di al-Azhar.
Yang menarik, BMK ini tidak hanya diikuti oleh santri Indonesia, namun juga Malaysia. “Tak kurang dari 90 peserta mengikuti kegiatan ini. Bahkan delegasi dari Malaysia pun rutin mengirim delegasi setiap tahunnya,” tambah eks pemimpin redaksi numesir.net itu.
Hal demikian juga dirasakan oleh Muhammad al-Kautsar, salah satu delegasi dari Ikatan Keluarga Alumni Daarul Rahman (Ikdar). “Yang paling berkesan bagi saya adalah ajang silaturahmi yang dikemas dalam balutan musyawarah dan sharing ilmu”, ungkap Alka, sapaan akrabnya.
Untuk diketahui, BMK yang digelar pada Ahad (6/11) di Griya Jawa Tengah, Hay Asyir berlangsung selama tujuh jam, dari pukul 14.00-22.00 waktu Kairo. BMK tahun ini diikuti oleh 25 almamater, empat lembaga kajian NU, lima afililatif, dan satu delegasi dari Ruwaq Jawi, Malaysia.











