Apakah Agama itu Sederhana?

0 219

P. A. Van der Weij di dalam bukunya, Filsuf-filsuf Besar tentang Manusia yang dialihbahasakan oleh K. Bertens menyinggung agama dengan cemberut. Menurut Weij, makna kehidupan manusia bisa diraih jika ia mengetahui kemungkinan ultim kehidupannya. Hal itu bisa ditemukan melalui beberapa pertanyaan, di antaranya: apa arti kehidupan itu, apakah nilainya, dan bagaimana saya dapat mengerti dan mengungkapkannya? Di mana kehidupan itu akan berakhir, apakah tujuannya, dan apakah peruntukannya?

Jawaban dari pertanyaan barusan bisa diberikan oleh para ilmuwan dan filsuf. Agama, di sini, bukannya tak memiliki jawaban atas persoalan di atas. Jawaban-jawaban yang disediakan olehnya, menurut Weij, sangat sederhana. Jawaban-jawaban tersebut, dengan demikian, tak cukup ilmiah.

Ia mengatakan, “Untuk mendapat jawaban atas pertanyaan itu, seseorang yang beragama dengan sederhana mungkin hanya akan mencari di dalam apa yang dikatakan oleh agamanya. Orang beragama yang berpendidikan akan meminta bantuan ilmu pengetahuan dan filsafat. Sedangkan orang yang tak beragama akan mencari jawabannya hanya dalam ilmu pengetahuan dan filsafat. ”

Berangkat dari teks tersebut, saya ingin membuka klaim kesederhanaan agama sebagaimana dipandang oleh Weij. Porsi agama dalam pandangan Van der Weij pertama-tama diwakili dengan kata “hanya”. Agama diposisikan sebagai lawan dari ilmu pengetahuan dan filsafat. Agama diletakkan dalam situasi yang sederhana, tak kritis, luar, ringan, tak begitu eksis sedangkan ilmu pengetahuan dan filsafat adala sang hakim perdebatan dikotomi agama vs filsafat. Klise.

Tapi benarkah agama itu sederhana? Bagaimana agama menjelaskan kemungkinan ultim manusia?

Muhammad Iqbal dalam bukunya, Reconstruction yang diterjemahkan ke dalam bahasa Arab Tajdîd al-Tafkîr al-Dîn fi al-Islâm membagi agama ke dalam tiga tahap: iman, pemikiran, dan ketersingkapan. Pada tahap pertama, baik individual maupun kelompok meski tunduk kepada aturan-aturan dan hukum agama secara total. Tidak ada ruang bagi akal untuk menyoal perihal ajarannya.

Pada tahap kedua, seseorang mulai bertanya mencari pemahaman soal-soal keagamaan yang berasas pada ketuhanan (metafisika). Ia mulai merenungkam alam semesta, dituntun oleh akal agar mendapat pemahaman yang benar dan sistematis. Pada tahap inilah seseorang akan bernalar tentang Tuhan, seputar Dzat Allah SWT.

Pada tahap selanjutnya, ilmu rohani (ilmu nafs) menempati posisi ilmu metafisika. Pada titik inilah agama memenuhi keinginan manusia untuk bertemu dengan realitas yang paling tinggi (al- haqiqah al-qushwa). Jika kita amati, tahap ketiga ini agak mirip dengan konsep alam ide atau dunia kayangan Plato.

Kesederhanaan agama yang dimaksud oleh Weij barangkali dapat disesuaikan dengan tahap pertama, yakni iman dalam pembagian Iqbal. Padahal, bagi kita, iman ialah langkah pokok yang dibangun di atasnya pemikiran serta ketersingkapan akan hal-hal metafisis-ketuhanan. Dengan demikian, apa yang dikatakan Van der Weij bahwa agama itu sederhana hanyalah sepertiga fakta dari hakikat agama sebagaimana dimaksud oleh Iqbal. Sampai di sini, pandangan Weij hanyalah fatwa ontologis saja. Tidak ada pembenaran epistemologis di sana. Lebih dari itu, efek samping klaim kesederhanaan agama sebagaimana tersebut ialah lemahnya nalar kritis para pemeluknya, dalam hal ini kaum muslim. Hal ini bertentangan dengan Alquran dan fakta-fakta historis-diskursif yang mencatat perkembangan ilmu kalam hingga memuncak pada perdebatan sikap atas Imam Ghazali.

Perihal kemungkinan ultim manusia, Ibnu Arabi di dalam Fushus al-Hikam mengatakan: “Ketika al-Haq adalah hakikat (huwiyyah) dari alam semesta ini, maka semua hukum yang ada tidaklah hadir kecuali berasal dari-Nya (minhu) dan tentang-Nya (fihi). Itulah makna dari firman ‘dan kepada-Nya segala urusan dikembalikan’, baik secara hakikat maupun secara tersingkap, dan ayat ‘Maka sembahlah Dia dan bertawakallah kepada-Nya,’ secara terhijab dan tertutupi. ”

Dari sini jelas, bahwa alam semesta tunduk kepada al-Haq karena ialah hakikat di balik wujud segala makhluk. Itulah kemungkinan ultim manusia.

Menariknya, Ibnu Arabi juga menjelaskan bahwa kebenaran tak semuanya dirangkum dan dipusatkan pada akal manusia. Selain akal, ada suatu ilmu yang menurut Ibnu Arabi lebih otoritatif dan absah dalam menjelaskan hal ini. Ia menyebutnya ilmu al-adzwaq, ilmu  rasa. Di dalam istilah Iqbal, ilmu semacam ini tergolong tahap ketiga dalam agama Islam, tahap ketersingkapan.

Ibnu Arabi mengatakan: “Begitu juga ilmu al-adzwaq yang tak didapatkan melaui proses pemikiran. Ilmu tersebut adalah ilmu yang benar. Sedangkan selainnya hanyalah firasat dan dugaan semata, bukan ilmu yang sebenarnya.”

 

 

 

 

 

 

 

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.