Ciri Khas Akademisi al-Azhar

0 810

Lembaga dan institusi kajian studi Islam di belahan Timur Tengah tak terhitung jumlahnya. Di antara yang terkenal adalah al-Azhar di Kairo, Qarawiyyin di Maroko dan Zaitunah di Tunisia. Tiga lembaga kajian keislaman tersebut memiliki konsentrasi yang sama yaitu menjaga warisan Islam klasik. Di tulisan kali ini penulis akan membahas secara spesifik ciri khas akademisi al-Azhar, karena selain sebagai almamater tercinta, para guru dan senior al-Azhar banyak yang menjadi utusan untuk mengajar di banyak kampus di berbagai belahan dunia.

Universitas al-Azhar Kairo mewajibkan para mahasiswanya untuk berkutat dengan buku-buku keislaman klasik di jenjang strata satu. Sebagaian para mahasiswa al-Azhar tidak mencukupkan diri belajar tradisi keislaman klasik dari bangku kuliah saja, mereka menambah jam belajar belajar warisan klasik Islam ini di ruwaq-ruwaq (sebutan khas untuk serambi-serambi masjid al-Azhar yang difungsikan sebagai ruang mengaji).

Dikarenakan intensitas kami bersentuhan dengan tradisi Islam klasik lumayan serius, lambat laun kami mulai mengenali karakter para guru kami yang berstatus sebagai akademisi jebolan al-Azhar ‘tulen’. Sebagai kesimpulan sementara, para akademisi jebolan al-Azhar dalam membahas sebuah diskursus cenderung mengupas tuntas di bagian etimologi dan epistemologi sebelum mengarah ke kritik atas diskursus tersebut.

Di dalam Aqîdat Ahlissunnah wa al-Jamâ’ah misalnya, Syekh Ali Jumah (anggota Dewan Ulama Senior) terlebih dahulu membahas makna akidah secara etimologi dan epistemogi secara mendalam sebelum permasalahan beserta kritik atas golongan yang tidak sejalan dengan Ahlusunah.

Dalam membahas cinta tanah air, hijrah dan kepemimpian misalnya, Prof. Awwari mengawalinya dengan pembahasan istilah-istilah tersebut secara etimologi dan epistemologi secara mendalam sebelum mengkritik mereka yang salah mengartikan term-term tersebut. Bahkan beberapa buku karya akademisi Timur Tengah ini bisa dibilang normatif dan tidak menjawab tantangan zaman karena dari sisi kritik atas sebuah diskursus masih belum tajam.

Melihat kondisi yang demikian, saya masih saja mengimani, al-Azhar tetap menjadi rujukan primer perihal referensi Islam klasik, sedangkan Barat menjadi rujukan primer metodologi dan pengembangan. Secara metodologi dalam menyusun karya, Timur bisa jadi kalah dengan Barat. Tapi soal kekayaan jumlah karya, Timur tidak ada duanya.

Al-Azhar sendiri mempunyai banyak lembaga di bidang agama. Sekolah-sekolah khas al-Azhar tersebar di seluruh provinsi Mesir, sejak jenjang anak usia dini sampai strata tiga. Gemblengan turats ini khususnya ada di jenjang usia dini sampai strata satu. Di fakultas studi ilmu-ilmu keislaman misalnya, para mahasiswa diwajibkan menghafal al-Quran sekian juz ditambah lagi dengan kitab tafsir tertentu yang juga harus dihafalkan. Selain hafalan al-Quran beserta tafsirnya, para mahasiswa juga diharuskan menghafal dan memahami diktat kuliah yang tebalnya beratus-ratus halaman. Karena kesibukan ‘membaca’ teks inilah, para mahasiswa al-Azhar jika dibandingkan dengan mahasiswa di kampus lain, padahal masih sama-sama di jenjang strata satu, muatan materinya berbeda. Artinya, secara materi khazanah Islam klasik, mahasiswa al-Azhar lebih kaya jika dibanding mahasiswa di kampus lain.

Pendidikan formal al-Azhar mempunyai kurikulum tersendiri sampai di tingkat perguruan tinggi. Sekolah ini pun juga memiliki gedung sendiri-sendiri yang terpisah dari masjid al-Azhar. Sedangkan masjid al-Azhar berfokus pada kurikulum turats (klasik) dari jenjang pemula sampai jenjang tertinggi untuk berbagai disiplin ilmu. Para akademisi al-Azhar yang memfokuskan diri di sekolah formal dari jenjang sekolah dini sampai strata tiga, biasanya ia akan menjadi dosen di sekolah-sekolah formal milik al-Azhar dan tidak bisa semena-mena mengajar di masjid al-Azhar. Sedangkan pelajar al-Azhar yang belajar di sekolah-sekolah formal al-Azhar sekaligus istikamah belajar di masjid al-Azhar bertahun-tahun, maka ia layak mengajar di sekolah formal al-Azhar dan masjid al-Azhar.

Dari sini bisa kita pahami bahwa seleksi pengajar di masjid al-Azhar lebih ketat daripada seleksi mengajar di sekolah-sekolah formal al-Azhar. Maka dari itu, kapabilitas seorang pengajar dalam memahami warisan Islam klasik untuk para pengajar di masjid al-Azhar tidak diragukan lagi. Contohnya, Dr. Abdul Fattah al-Awwari ketika mengajar Tafsir al-Baidlwi di masjid al-Azhar, beliau tidak pernah membawa kitab ke majelis baik dalam bentuk cetak maupun soft file. Ia cukup mendengarkan seorang murid yang membaca di majelis sepotong-potong kalimat kemudian ia menjelaskan lengkap dengan referensi dari syair-syair klasik Arab, ilmu akidah, tasawuf, dan logika sekaligus.

Kapabilitas penguasaan materi yang mumpuni ini membuat akademisi pengajar di masjid al-Azhar sangat disegani oleh para muridnya. Hal ini tidak berlaku di belahan bumi Barat sana, dimana guru dan murid mempunyai posisi yang egaliter. Sebuah ciri khas yang dimiliki dunia Timur sejak generasi awal adalah adanya hierarki, tingkatan seseorang atau kelompok berdasarkan posisi akademisnya. Selain itu, transmisi keilmuan para ulama dari masa ke masa selain menjaga kualitas ilmiah, juga sebagai bukti kuat otoritas kepakarannya.

Masjid Al-Azhar dan majelis keilmuan yang ada di dalamnya sangat memperhatikan proses transmisi keilmuan ini dengan jelas. Rata-rata, hampir di setiap majelis ketika merampungkan satu kitab biasanya diiringi dengan ijazahan kitab tersebut dari guru kepada murid. Kita semua tahu bahwa mempelajari satu persatu turats untuk dikhatamkan, kemudian ijazahan membutuhkan waktu yang cukup lama. Di al-Azhar inilah sebuah diskursus ilmu dipelajari dengan serius dan biasanya membutuhkan waktu bertahun-tahun. Sebab, untuk menjadi pakar di dalam ilmu agama, menulis tesis, disertasi saja tidak cukup.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.