Dari Sudut Distrik Sayeda Zaynab

0 344

Pada suatu sore di awal tahun 2020, saya bersama seorang teman sedang menyimak diskusi hangat para guru besar filsafat Universitas Kairo di al-Jam’iyyah al-Falsafiyyah al-Mashriyyah, sebuah lembaga kajian filsafat independen yang disupervisi Hassan Hanafi.

Diskusi yang bertajuk Nadwah al-Yawm al-Kamil ini merupakan agenda baru Jam’iyyah. Kata Hassan Hanafi pada sambutannya sore itu, seminar-sehari-penuh semacam ini penting untuk membahas topik-topik filsafat secara serius sehari penuh, dari pukul sembilan pagi hingga sembilan malam. Sebagai rilis agenda baru ini, Hassan Hanafi bersama Mustafa Nassyar menggelar diskusi seputar buku al-Tafsîr al-Mawdlû’iy, karya terbaru Hassan Hanafi.

Apa yang dimaksudkan dengan Tafsir Tematik oleh Hassan Hanafi bukanlah sebagai bagian dari ilmu tafsir per se, dimana untuk membaca itu, kita memerlukan piranti ilmu bahasa dan retorika, asbabbunnuzul dan perangkat ilmu al-Quran lainnya. Hanafi, melalui buku ini sedang menafsiri kesadaran nasionalis bangsa Mesir secara khusus. Pembacaan terhadap kesadaran ini ditempuh melalui pemahaman terhadap lingkungan dan kebudayaan bangsanya di hari ini. Pemahaman atas kultur dan kondisi masyarakat inilah yang melahirkan teks. Teks al-Quran harus dibaca berdasarkan realitas, sehingga terjadi dialektika yang hidup dari konteks menuju teks, bukan sebaliknya.

Saat realitas yang marak ialah perang saudara, kemiskinan, hegemoni liyan atas bangsa Arab, bobroknya birokrasi dan otoritarianisme, Hanafi merasa bahwa kesadaran publik atas ini perlu dibangunkan salah satunya dengan ayat-ayat al-Quran, korpus yang sangat dekat dengan alam bawah sadar bangsanya. Ini menarik. Saya teringat salah satu pernyataan Ibnu Rusyd yang masyhur ialah bahwa al-Quran ialah kitabnya orang awam. Hanafi seolah ingin mendekat dan mindah roso, bagaimana publik awam selama ini meletakkan ayat-ayat sebagai sumber inspirasi.

Di dalam presentasinya, ia bercerita bahwa kesejahteraan merupakan hal mewah bagi masyarakat sejenis Darrasah, atau Hay Asyir, saat dimana kemiskinan adalah hal asing bagi para penghuni real estate di Maadi, distrik-distrik di Heliopolis, atau seperti kompleks Tajammuk Lima di kawasan Ibukota Baru (al-‘Ashimah al-Jadidah) sana.

Saat keluar dari sebuah ruangan setelah mengisi sebuah kajian di bilangan Sayeda Zaynab, ia ditukas oleh seorang warga biasa. “Anda selalu menulis dan menjelaskan ketimpangan sosial serta pentingnya kesetaraan kesejahteraan masyarakat bawah. Namun, lihat apa yang Anda lakukan? Anda bahkan ke sini membawa mobil.” Sontak Hassan Hanafi tertegun dan melihat ke arah mobil butut yang baru pertama kali dibeli dengan susah payah.

Dari konteks menuju teks

Hassan Hanafi memaksudkan buku itu sebagai akhir dari trilogi mega proyeknya yang memetakan hubungan kita (Muslim) dengan turats, kita dengan Barat dan kita dengan realitas sehari-hari. Titik tolak megaproyek itu ialah prinsip bahwa sebelum bisa melakukan revolusi pertanian, industri maupun politik, yang perlu direvolusi pertama kali ialah manusia itu sendiri. Turats, dalam hal ini tidak bernilai kecuali ia dapat menjadi sarana dalam memberikan sebuah teori aksi negara Arab dalam membentuk-ulang manusia dan hubungannya dengan Tuhan.

Di dalam ensiklopedi sikap-kita-terhadap-turats, Hanafi membuat serial yang terdiri dari delapan topik yang membahas ilmu keagamaan kaitannya dengan isu kontemporer. Ada beberapa disiplin ilmu yang pernah berkembang namun telah berakhir, seperti ilmu al-Quran dan Hadits, sebab keduanya berkaitan dengan keragaman bacaan dan tranmisi oral. Kedua ilmu tersebut telah selesai, namun perlu mengalami pengembangan yang sesuai dengan kebutuhan realistis hari ini. Ini termasuk ilmu yang terkait erat dengannya seperti tafsir, fikih dan sirah. Di proyek ini, Hassan Hanafi mengkaji secara lebih mendalam teologi, filsafat, usul fikih (jurisprudensi) dan sufisme sebagai diskursus ilmu yang diturunkan dari al-Quran dan Sunnah. Di satu sisi, kemunculan ilmu tadi merupakan produk gabungan antara wahyu Tuhan dengan kondisi spesifik pada masanya; dan di sisi lain, keempat disiplin itu perlu direkonstruksi sebagai sistem kultural baru yang sesuai dengan kebutuhan era modern.

Untuk memahami bagaimana Hassan Hanafi mengarahkan buku Tafsir Tematik ini, kita perlu mengingat satu persoalan krusial yang menjadi titik berangkat kesadarannya. Hal yang pertama kali dibahas oleh Hassan Hanafi di jilid awal serial proyeknya (lihat: Min al-‘Aqîdah ilâ al-Tsawrah) ialah konsep kebudayaan nasional. Mesir, merupakan salah satu negara Arab yang ideologi kebangsaannya sangat resisten dengan ideologi liyan. Corak keagamaan yang biasa terlihat dalam salah satu paham teologi yang lebih otoritatif dari lainnya telah membersihkan liberalisme yang bahkan telah ada sejak revolusi 1919 hingga sebelum revolusi Mesir modern. Buku-buku yang sempat terbit di era kebebasan ini di antaranya Hayât Muhammad dan Fî Manzil al-Wahyi. Namun, ideologi ini hanya tumbuh di kalangan para pasya (kalangan elit setingkat menteri). Budaya masyarakatnya (tsaqâfat al-jamâhîr) masih sangat konvensional dan tradisionalis sebagaimana tergambar di dalam ketegangan yang mewarnai terbitnya al-Islâm wa Ushûl al-Hukm, Fî al-Syi’ri al-Jâhiliy, Tahrîr al-Mar’ah dan Min Hunâ Nabda’.

Mesir pernah juga mengalami ideologi sosialisme Arab. Namun, ini hanya terbatas di kalangan pemerintah saja. Oleh sebab narasi pemerintah lebih kepada sekulerisasi, ideologi ini ditentang keras publik umum. Muncul kemudian buku-buku seperti al-Adâlah al-Ijtimâ’iyyah fî al-Islâm, Ma’rakat al-Islâm wa al-Ra’sumâliyyah dan al-Salâm al-‘Âlamiy wa al-Islâm sebagai konter-narasi untuk mempertahankan status quo. Akibatnya, muncullah konflik antara representator Islam yang dalam hal ini diwakili IM dengan aparat negara (militer). Dari sinilah kemudian kelompok-kelompok Islam mulai menarik diri dari partisipasi sosial. Sayyid Qutb telah dieksekusi dan represi tetap berlanjut. Di bawah tekanan semacam inilah muncul Islam fundamentalis yang berkehendak untuk membalas dendam dan menolak segala yang datang dari luar kelompoknya.

Pada sisi yang lebih inklusif, Partai Mishr al-Fatah merupakan salah satu yang mencoba menggabungkan antara nasionalisme dan Islam. Namun, relasi antara keduanya di sini lebih bersifat khitabi (ceramah satu arah) daripada ilmu rasionalis yang mencoba memahami Islam sesuai dengan kebutuhan hari ini.

Pembentuk utama kebudayaan nasional Mesir ialah agama Islam. Munculnya kelompok Islam sebagai terusan dari IM membuat narasi yang ramai dibahas kajian hari ini berkutat pada bagaimana umat membela agamanya. Penekanan seperti soal identitas, karakteristik, jati diri kewarganegaraan Mesir lebih terlihat sebagai sebuah tujuan, bukan sarana. Akibatnya, bagaimana menjadi muslim yang baik ialah tentang menjadi hamba Tuhan yang saleh secara spiritual, sesuai dengan ajaran-ajaran Islam awal.

Gerakan puritanisme yang muncul di awal abad ke-19 merupakan titik balik gerakan pembaharuan Islam progresif di dunia Arab secara umum. Di dalam konteks Mesir, pembaharuan wacana keagamaan yang dimulai sejak Rifaah Thahtawi hingga Muhammad Abduh terbentur gerakan politik Muhammad bin Abdul Wahab di Saudi Arabia, yang karena bersekutu dengan keluarga Ali Saud memperoleh otoritas dan subsidi pendanaan. Gerakan ini lantas menyebar dengan cepat dan lantas dikenal sebagai gerakan anti-progresif.

Hassan Hanafi ingin kita melampaui islam-fundamentalis, islam-liberal, maupun penggabungan antara turats dan modernitas yang eklektik itu. Turats, sebagaimana identitas dan kebudayaan nasional ialah sarana, yang dengannya kita memahami diri di hadapan konteks global. Yang dibutuhkan hari ini ialah pembacaan ulang atas turats sebagai kekuatan psikologis umat Islam. Pembacaan ulang ini memungkinkan pembuangan anasir negatif turats dan mengambil anasir positif sebagai yang autentik, untuk bisa diejawantahkan hari ini.

 

 

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.