Haiah Kibar Ulama al-Azhar (Fase 1911-1961)

Oleh: Amirul Mukminin

0 321

Sejarah

Semenjak didirikannya Madrasah Qadha Syar’i pada 1325 H (1907 M), para Azhari (orang yang berintisab kepada al-Azhar) merasa bahwa pemerintah sudah tidak terlalu memedulikan al-Azhar. Mereka lebih mengkhususkan diri kepada madrasah tersebut yang mengeluarkan para kadi syar’i. Begitu juga dengan madrasah Darul Ulum yang didirikan pada 1289 H (1872 M) yang mengeluarkan para pengajar bahasa Arab.

Para pembesar al-Azhar yang melihat keadaan tersebut khawatir akan menyusutnya pembelajaran di al-Azhar dan ketiadaan penerimaan masyarakat lagi. Karena pada masa itu —dengan kurang pedulinya pemerintah—, keluaran (alumni) al-Azhar hanya menjadi imam dan khatib di masjid-masjid. Maka, para pembesar al-Azhar kala itu ingin kembali memperbaharui tata tertib (tanzhim) al-Azhar seperti madrasah Qadha Syar’i dan madrasah Darul Ulum.

Sebab kedua, al-Azhar pada abad 19 akhir hingga awal abad 20 sering kali mendapat campur tangan pemerintah yang semena-mena dalam mengubah sistem al-Azhar, baik dari jabatan, administrasi, bahkan kurikulum pelajaran. Hal ini juga turut menjadi perhatian besar bagi para pembesar ulama al-Azhar, yang mesti dituntaskan sedikit demi sedikit.

Setahun kemudian, setelah melalui rapat panjang, muncullah Undang-undang al-Azhar Nomor 1, pada 11 Maret 1908, yang intinya berbunyi sebagai berikut.

 “Bahwasanya kurikulum keilmuan yang diajarkan di madrasah diniyah Islamiyah adalah:

  • Ulum Diniyah; Tajwid, Tafsir, Ulum al-Quran, Hadis, Ulum al-Hadits, Tauhid, Fikih, Usul Fikih, Akhlak, Sirah Nabawiyah, dan lainnya.
  • Ulum Lughawiyah; Nahu, Saraf, Balaghah, Adab, ‘Arudl, Qawafi, Khath, Imla, dan lainnya.
  • Ulum Riyadliyah; Mantik, Adab al-Bahts, Matematika, Geografi, Aljabar, Sejarah, dan lainnya.”

Para pembesar al-Azhar kemudian membentuk tim dengan nama Ittihad al-Azhari (persatuan para Azhari) yang beranggotakan para santri al-Azhar pilihan. Tim ini mempunyai misi menghapus undang-undang yang dibuat pemerintah dengan jalan diplomasi dan didukung penuh oleh kumpulan Tadlamun al-Ulama (solidaritas para ulama) yang dipimpin langsung oleh pembesar ulama al-Azhar.

Kedua tim ini mulai dengan menyebarkan permintaan dan permohonan melalui surat yang diajukan kepada pemerintah melalui jalur khusus. Mereka akan terus begitu hingga permintaan dikabulkan. Permintaan ini jika dilihat dengan sebelah mata terlihat seperti memaksa. Pun sebenarnya mereka hanya meminta hak dalam pembelajaran di madrasah. Tapi, jika dilihat dengan dua belah mata, akan terlihat bahwa tata tertib dan kurikulum pembelajaran kontemporer yang digencarkan oleh pemerintah menyempitkan pergerakan keilmuan di al-Azhar dan madrasah diniyah. Itu semua disebabkan metode keilmuan kontemporer lebih diutamakan dibandingkan dengan metode turats, sehingga hilanglah porsi pelajar agama untuk mempelajari kitab-kitab turats.

Melihat gencarnya gerakan al-Azhar, pemerintah akhirnya membuat komite dalam menyikapi pergerakan ini yang diketuai oleh Ahmad Fathi Zaghlul, saudara Sa’ad Zaghlul (wakmen pengadilan), Ismail Shidqi (wakmen dalam negeri), dan Abdul Khaliq Tsarwat (wakil umum).

Pada 1 Mei 1910 M, terbitlah sebuah ketetapan dari pemerintah yang isinya sebagai berikut.

“Tujuan asli dari adanya al-Azhar adalah pengajaran ilmu agama. Adapun cita-cita dan tujuan dari mempelajari ilmu tersebut ialah agar dapat beribadah kepada Tuhan, dengan mengikuti perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya serta memberi kemanfaatan bagi masyarakat agar memperoleh kehidupan yang diridai.”

Kurikulum yang diajarkan adalah kurikulum agama, tanpa ada sangkut paut dengan madrasah kontemporer dan kurikulumnya, seperti: hukum, kedokteran, perkebunan, dan seumpamanya. Intinya, lajnah tersebut sepakat akan kembalinya al-Azhar dengan sistem pembelajaran lama.

Apapun keputusan dari undang-undang kali ini, tapi ketetapan ini sangat peduli dengan sistem pembelajaran di al-Azhar dan ma’had diniyah di bawah naungan al-Azhar. Hal ini terlihat dari 10 bab undang-undang ini:

  1. Menambah masa pembelajaran hingga 15 tahun;
  2. Menjadikannya dengan beberapa jenjang. Tiap jenjang selama 5 tahun dengan ketentuan yang berlaku tiap jenjangnya;
  3. Menambah tiap bidang mata pelajaran;
  4. Membatasi spesialisasi Grand Syekh al-Azhar;
  5. Mendirikan Majlis al-Azhar al-A’la yang berperan sebagai penanggung jawab sistem al-Azhar;
  6. Mendirikan Haiah Kibar ulama al-Azhar (Dewan Senior Ulama al-Azhar) dengan mempunyai hak dan ketentuan tersendiri;
  7. Menjadikan tiap-tiap mazhab dari empat mazhab yang diajarkan di al-Azhar (Hanafi, Maliki, Syafii, dan Hanbali) seorang syekh al-Sadah yang mengetuai tiap mazhab;
  8. Membuat pengurusan administrasi di setiap ma’had diniyah;
  9. Membuatkan staf yang bekerja di al-Azhar sebuah sistem, baik dari pengangkatan, aturan disiplin, dan masa libur;
  10. Mengatur sistem kelulusan pelajar, dari sistem ujian, ijazah, dan syahadah.

Sesuai dengan poin ke-6, berdirilah Haiah kibar ulama al-Azhar (Dewan Senior Ulama al-Azhar). Pelantikan perdana diresmikan pada 6 Zulqadah 1329 H bertepatan dengan 28 Oktober 1911 M. Anggota Dewan Senior Ulama al-Azhar terdiri dari tiga puluh guru besar al-Azhar yang diketuai langsung oleh Grand Syekh al-Azhar, yang ketika itu adalah Syekh Salim al-Bisyri. Semua anggota diambil dari tiap-tiap mazhab empat; 11 dari Hanafiyah, 9 dari Malikiyah, 9 dari Syafiiyah, dan 1 dari Hanabilah.

Setelah dilantik, para anggota Haiah Kibar mulai mengatur jadwal dan metode pembelajaran di ruwaq-ruwaq al-Azhar, kembali menggunakan kitab-kitab turats, sistem halakah, serta mengembalikan posisi al-Azhar sebagaimana mestinya.

Syarat dan perubahan di tiap masa

Adapun syarat terpilih menjadi anggota Dewan Senior kala itu adalah sebagai berikut.

  1. Umur tidak kurang dari 45 tahun;
  2. Pernah di al-Azhar atau pun ma’had selainnya sekurang-kurangnya 10 tahun atau 4 tahun di al-Qism al-‘Ali (sekarang selevel perguruan tinggi);
  3. Menulis sebuah buku yang tidak bertentangan dengan akidah, metode penulisannya ilmiyah, dan urutan bab harus sesuai dengan kaedah ajar-mengajar;
  4. Pernah mendapatkan penghargaan ilmiah;
  5. Dikenal akan ketakwaannya serta tidak memiliki masa lalu yang buruk.

Dalam perjalanannya, Haiah Kibar memiliki berbagai macam wewenang, keputusan, dan perkembangan. Pun dari semua itu, Haiah mengalami beberapa perubahan di beberapa masa. Seperti di masa kepemimpinan Grand Syekh Muhammad Abu al-Fadl al-Jizawi, terbit Undang-undang Nomor 28 Tanggal 24 Juli 1920 yang mengubah dan menambah beberapa syarat menjadi haiah, yaitu:

  • Pernah di madrasah Qadha Syar’i paling kurang 15 tahun atau berhasil mendapatkan syahadah alimiyah melalui sidang atau pernah menjabat di beberapa jabatan diniyah, seperti menteri wakaf dan mufti.
  • Rekomendasi langsung dari Grand Syekh al-Azhar dengan syarat disetujui oleh separuh anggota Haiah waktu pemilihan.
  • Mampu untuk menjalankan tugas yang dibebankan kepadanya.

Begitu juga terjadi perubahan di masa kepemimpinan Grand Syekh Muhammad al-Ahmadi al-Zhawahiri dengan terbitnya Undang-undang Nomor 49 Tanggal 16 November 1930 yang menggantikan ketetapan seperti:

  • Mengubah jenjang masa belajar selama 15 tahun menjadi madrasah ibtidaiyah selama 4 tahun, madrasah tsanawiyah selama 5 tahun dan penghapusan al-Qism al-‘Ali yang diubah menjadi kuliah Ushuluddin, Syariah dan Lughah Arabiyah.
  • Mengubah sistem halakah menjadi sistem kelas dan muhadarah seperti sekolah dan universitas lain.
  • Memindahkan tempat pembelajaran dari masjid al-Azhar ke Universitas al-Azhar m

Di masa beliau juga terjadi perubahan dan penambahan dalam beberapa syarat menjadi haiah, yaitu:

  • Telah mendapat syahadah alimiyah dan gelar profesor minimal 5 tahun
  • Telah mengajar di salah satu kuliah yang tiga (ushuluddin, syariah, dan lughah) atau bekerja di salah satu lembaga fatwa atau ketua mahkamah agung, dan seumpamanya.

Perubahan selanjutnya terjadi pada masa kepemimpinan Grand Syekh Muhammad Mustafa al-Maraghi dengan keluarnya Undang-undang Nomor 26 Tanggal 26 Maret 1936. Undang-undang ini berisikan banyak hal terkait al-Azhar. Adapun yang berkaitan dengan al-Azhar yaitu perubahan nama Haiah Kibar menjadi Jamaah Kibar.

Perlu diketahui, bahwasanya Jamaah Kibar pada masa beliau lebih fokus kepada penggalakan metode dakwah dan wejangan kepada para ulama dan tokoh-tokoh sufi. Semua itu dikarenakan pada zaman beliau terjadi banyak pergolakan dan fanatisme antarmazhab empat. Begitu juga dengan merebaknya aliran sufi yang tidak terkontrol, berbuat semena-mena, dan tak sesuai dengan syariat Islam.

Haiah/Jamaah Kibar Ulama al-Azhar selalu dalam keadaan seperti biasanya hingga terbitnya Undang-undang Nomor 103 Tanggal 5 Juli 1961 di masa Grand Syekh Mahmud Syaltut yang memutuskan untuk menutup lembaga ini dan menggantikannya dengan Majma’ Buhuts Islamiyah (Lembaga Riset Islam).

Walaupun Haiah/Jamaah Kibar ditutup, haiah memiliki peran besar dalam sejarah perjalanan al-Azhar. Ia juga membantu para Grand Syekh al-Azhar di tiap-tiap masanya dalam menetapkan kebijakan, baik dari segi kehidupan, sosial, beragama, fatwa, bahkan politik sekalipun. Sebenarnya semangat Haiah Kibar akan selalu ada di dalam tubuh Majma’ Buhuts selaku penggantinya.

Anggota Haiah Kibar fase 1911-1961 M

Sejak diresmikan, Haiah Kibar setidaknya berjumlah 74 tokoh pembesar al-Azhar hingga saat ditutup dan digantikan dengan Majma’ Buhuts Islamiyah. Jika melirik kepada sejarah al-Azhar kontemporer, jasa dan kiprah Haiah Kibar sama besarnya dengan apa yang dilakukan oleh para Grand Syekh al-Azhar. Bahkan, dapat dikatakan, mereka adalah kaki-tangan daripada pimpinan tertinggi al-Azhar.

Hanya saja, masih sedikit orang yang melihat Haiah Kibar sebagai sesuatu yang wah dan perlu diapresiasi. Setidaknya dengan mengenal siapa saja anggota Haiah sejak pertama kali diresmikan. Maka, penulis sengaja menyebutkan nama mereka satu persatu, bahkan menyesuaikannya dengan urutan kalender pelantikan. Semoga ini bisa menjadi langkah awal dalam mengenal Haiah Kibar Ulama al-Azhar.

Pelantikan 6 Zulqadah 1329 H (28 Oktober 1911 M):

Syekh Salim al-Bisyri (Grand Syekh), Syekh Abul Fadl al-Jizawi (Grand Syekh), Syekh Muhammad Hasanain Makhluf, Syekh Harun Abdurraziq, Syekh Muhammad Rasyid, Syekh Muhammad ar-Rubi, Syekh Dusuqi Abdullah al-Arabi, Syekh Ahmad Nasr al-‘Adawi, Syekh Muhammad Thumum, Syekh Hasunah al-Nawawi (Grand Syekh), Syekh Bakri ‘Asyur ash-Shidfi (Mufti Agung Mesir), Syekh Muhammad Bekhit al-Muthi’i (Mufti Agung Mesir), Syekh Muhammad Syakir, Syekh Mustafa Ahmad Hamidah, Syekh Ahmad Idris, Syekh Mahmud Ridlwan al-Jaziri, Syekh Muhammad Ahmad al-Thukhi, Syekh Ibrahim al-Hadidi, Syekh Muhammad Thaha Najati, Syekh Muhammad Radli al-Bahrawi, Syekh Sulaiman al-‘Abd, Syekh Muhammad ar-Rifa’i al-Mahallawi, Syekh Muhammad Ibrahim al-Qayati, Syekh Muhammad al-Najdi, Syekh Abdul Hamid Zayed, Syekh Sa’id al-Muji, Syekh Abdul Mu’thi al-Syarsyimi, Syekh Yunus Musa al-‘Athafi, Syekh Muhammad Qindil al-Hilali, dan Syekh Ahmad al-Bisyuni.

Pelantikan 21 Zulqadah 1338 H (6 Agustus 1920 M):

Syekh Muhammad Ismail al-Bardisi (Mufti Agung Mesir), Syekh Abdurrahman Qurra’ah (Mufti Agung Mesir), Syekh Abdul Ghani Mahmud Mustafa, Syekh Muhammad Ibrahim al-Samaluthi, Syekh Yusuf Nashr al-Digwi, Syekh Ibrahim Bushailah, Syekh M. al-Ahmadi al-Zhawahiri (Grand Syekh), Syekh Mustafa al-Hahyawi, dan Syekh Yusuf Syalabi al-Syaranujumi.

Pelantikan 9 Muharram 1339 H (23 September 1920 M):

Syekh Mahmud Hamudah, Syekh Ahmad al-Dalbasyani, dan Syekh Muhammad Sabi’ al-Dzahabi.

Pelantikan 7 Rabiul Awal 1343 H (6 Oktober 1924 M):

Syekh Muhammad Mustafa al-Maraghi (Grand Syekh), Syekh Husein Wali, Syekh Muhammad al-Halabi, dan Syekh Sayyid Ali al-Marshafi.

Pelantikan Rabiul Akhir 1345 H (Oktober 1926 M): Syekh Abdurrahman ‘Ulaisy.

Pelantikan 3 Jumadil Akhir 1345 H (9 Desember 1926 M): Syekh Ahmad Harun Abdurraziq.

Pelantikan 15 Sya’ban 1347 H (27 Januari 1929 M): Syekh Abdul Majid Salim (Grand Syekh).

Pelantikan 8 Rabiul Awal 1349 H (3 Agustus 1930 M):

Syekh Abdul Majid al-Lubban, Syekh Abdul Hakam ‘Atha al-Nawawi, dan Syekh M. al-Syafii al-Zhawahiri.

Pelantikan 28 Muharram 1350 H (15 Juni 1931 M): Syekh M. Abdul Lathif al-Fahham.

Pelantikan 28 Safar 1353 H (11 Juni 1934 M):

Syekh M. Mamun al-Syinnawi (Grand Syekh), Syekh Ibrahim Humrusy (Grand Syekh), dan Syekh Mahmud al-Dinari.

Pelantikan 25 Zulhijah 1355 H (8 Maret 1937 M):

Syekh M. Abdul Fattah al-‘Annani, Syekh Ibrahim al-Jabali, Syekh Mahmud Abu Daqiqah, Syekh Ali Muhammad al-Mi’dawi, Syekh Ali Surur al-Zankaluni, Syekh Mahrus Syaraf, Syekh Farghali Sayyid al-Ridi, Syekh Muhammad Ahmad al-Qathisy, Syekh Ali Abdurrahim Idris, Syekh Qindil Qindil Darwisy, dan Syekh Muhammad Hilal al-Abyari.

Pelantikan Muharram 1356 H (Maret 1937 M): Syekh Ahmad Makki.

Pelantikan 21 Rabiul Awal 1358 H (11 Mei 1939 M):

Syekh Abdurrahman ‘Id al-Mahallawi, Syekh Ali Mahfuzh, Syekh M. Sayyid Abu Syusyah, Syekh Isa Ahmad Manun.

Pelantikan 24 Rajab 1360 H (18 Agustus 1941 M):

Syekh Yusuf Musa al-Marshafi, Syekh Muhammad Ahmad ‘Arafah, Syekh Mahmud Syaltut (Grand Syekh), Syekh Muhammad Ahmad al-‘Itris, Syekh Amin Muhammad al-Syekh, Syekh Muhammad al-Syirbini Sulaiman, Syekh Ahmad Muhammad Hamida, Syekh Husein Yusuf al-Bayumi, Syekh Hamid Muhaisin, dan Syekh M. Harun Abdurraziq.

Pelantikan 13 Zulqadah 1361 H (22 November 1942 M): Syekh Muhammad al-Mursi Gharabah.

Pelantikan 22 Muharram 1365 H (27 Desember 1945 M): Syekh M. Musthafa Abdurraziq (Grand Syekh).

Pelantikan 29 Muharram 1369 H (20 November 1949 M):

Syekh Abdurrahman Hasan Abdul Mun’im, Syekh Hasanain Muhammad Makhluf (Mufti Agung Mesir), Syekh Al-Husein Sulthan, Syekh Mahmud Ahmad al-Ghamrawi, Syekh Abdul Aziz Musthafa al-Maraghi, Syekh M. Nurul Hasan Zainal Abidin, dan Syekh Muhammad Abdul Lathif Darraz.

Pelantikan 23 Rajab 1370 H (29 April 1951 M):

Syekh Muhammad al-Khadlr Husein (Grand Syekh), Syekh Abdurrahman Taj (Grand Syekh), Syekh Muhammad Abdurrahman al-Thanikhi, Syekh M. Muhammad al-Syafii al-Zhawahiri, dan Syekh Afifi Utsman.

Pelantikan 10 Safar 1371 H (10 November 1951 M): Syekh Abdullah Musa, Syekh Abdul Lathif al-Subki, Syekh Riziq al-Zalabani, Syekh Muhammad al-Juhaini, Syekh al-Thayyib al-Najjar, Syekh Shalih Syaraf al-‘Adawi, Syekh Muhammad Ali al-Sayis, dan Syekh Abdul Qadir Khulaif.

 

Sumber Pustaka:

  • Haiah Kibâr al-‘Ulamâ (1911-1961), Zawat Irfan al-Maghribi;
  • Jamharah A’lâm al-Azhar al-Syarîf, Usamah al-Azhari;
  • Al-Azhar fî Alfi ‘Âm, Muhammad Abdul Mun’im Khafaji dan Ali Ali Shubh.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.