Numesir
  • Profil
  • Warta
  • Opini
  • Kolom
  • Internasional
  • Ubuddiyah
  • Sejarah
    • Kajian
      • Kajian Lakpesdam
    • Tokoh
    • Terjemah
    • Resensi
No Result
View All Result
NU Mesir
  • Profil
  • Warta
  • Opini
  • Kolom
  • Internasional
  • Ubuddiyah
  • Sejarah
    • Kajian
      • Kajian Lakpesdam
    • Tokoh
    • Terjemah
    • Resensi
No Result
View All Result
NU Mesir
No Result
View All Result
Home Kolom

Jadi Pesimis Tak Buruk-Buruk Amat

Pandu Aditya Syahputra by Pandu Aditya Syahputra
31 October 2021
in Kolom
0
0
SHARES
276
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Di tengah maraknya gembar-gembor optimisme, kawan A pernah mengoceh bahwa ia muak mendengar frasa pun kalimat yang bernada demikian. Menurutnya jika hal itu berlebihan lambat laun akan timbul toxic positivity, sebuah sikap positif yang beracun. Toxic positivity menyeruak ketika seseorang percaya bahwa satu-satunya cara yang benar untuk menjalani hidup hanyalah dengan bersikap positif, dalam pengertian bahwa hanya boleh fokus pada hal-hal positif dan membuang semua perkara yang memicu emosi negatif. Padahal, sikap seperti ini justru menumpuk emosi negatif dalam diri manusia dan membuatnya merasa lebih buruk.

Bersilang jalan dengan sikap optimistis, toxic positivity adalah sikap yang keliru dan memaksa manusia mengabaikan rasa sedih, kecewa, marah, dan emosi sejenisnya. Toxic positivity justru menyalahkan seseorang atas perasaan yang mereka alami. Seperti acapkali kita dengar: “Jangan selalu jadi orang yang negatif.”, “Jangan terlalu lebay. Lihat dari sisi positifnya.”, “Coba lebih banyak bersyukur. Masih banyak orang lain yang masalahnya lebih berat dari kamu.”, “Nanti masalahmu juga akan selesai, kok.”, dan ucapan-ucapan yang terdengar seragam.

Tak mengafirmasi malah sebaliknya, saya bertanya, “Bukankah sebaliknya pun sama (pesimisme)? Gembar-gembor pesimisme yang berlebihan juga bisa membuat orang bunuh diri?”. Kawan A dengan tatapan tajam pelan-pelan beringsut sembari menjawab bahwa pesimisme lebih jujur, setidaknya untuk diri sendiri. Ia kemudian bercerita tentang Schopenhauer.

Arthur Schopenhauer adalah seorang filsuf Jerman, terkenal dengan ajaran pesimisme tentang kehidupan sebagai “pendulum yang berayun antara rasa sakit dan kebosanan.” Dalam bukunya, Le Monde comme will et comme représentation (1818) pesimisme Schopenhauer didasarkan pada dua jenis pengamatan. Yang pertama adalah pandangan ke dalam bahwa kita bukan hanya makhluk rasional yang mencari tahu dan memahami dunia, tetapi juga makhluk yang menginginkan sesuatu dari dunia. Schopenhauer mengklaim bahwa di balik setiap upaya ada kekurangan akan sesuatu dan itu menyakitkan, tetapi mendapatkan sesuatu juga jarang membuat bahagia. Bahkan jika kita dapat memuaskan satu keinginan, akan selalu ada banyak keinginan yang belum terjawab dan siap menggantikannya. Atau sebaliknya, menjadi bosan ketika bisa mendapatkan semua hal yang diinginkan, menyadari bahwa hidup dengan semua keinginan yang tercapai itu membosankan dan kosong.

Katakanlah ketika cukup beruntung untuk memenuhi kebutuhan dasar seperti lapar dan haus, setelah itu untuk melepaskan diri dari kebosanan, kita mengembangkan kebutuhan baru akan barang-barang mewah, seperti kopi, tembakau, atau pakaian modis. Berangkat dari hal tersebut, penderitaan luar biasa tumpah-ruah di dunia ini, bermula dari kebutuhan dan keniscayaan yang tak dapat dipisahkan dari hidup itu sendiri. Memandang kehidupan sebagai episode tak menguntungkan, sunyi dari ketakberadaaan (non-exsistence). Meskipun terkadang berjalan baik, semakin kita hidup lama semakin merasa bahwa, hidup adalah kekecewaan, bahkan tipu daya. Dalam pandangan Schopenhauer, kita tidak pernah mencapai kepuasan akhir dan abadi. Oleh karena itu pepatah terkenalnya: “Hidup berayun bolak-balik seperti pendulum; antara rasa sakit dan kebosanan.”

Ketika melihat dunia di sekitar kita menggunakan kacamata Schopenhauer kita menyangkal hipotesis optimis Gottfried Leibniz bahwa dunia kita adalah yang terbaik dari semua kemungkinan dunia. Schopenhauer juga mengklaim bahwa jika kita mengatur dunia kita dengan cara apapun, hasilnya tetap akan melipatgandakan rasa sakit dan penderitaan. Ia mencontohkan predator yang hanya bisa memangsa hewan lain untuk bertahan hidup, sehingga alam secara keseluruhan adalah merah di gigi dan cakar, mengadu satu makhluk dengan yang lain dalam pertempuran fana untuk bertahan hidup.

Lalu apakah tak ada kebahagian dalam hidup? Menurutnya, hal itu tentu harus. Tidak dapat diabaikan bahwa kebahagiaan itu ada, banyak yang telah mengalaminya sendiri dan melihatnya pada orang lain. Tetapi begitu Schopenhauer mengakui keberadaan kebahagiaan, ada bahaya bahwa pesimismenya akan mulai terurai. Sekalipun benar bahwa setiap makhluk hidup pasti mengalami penderitaan, penderitaan itu dapat dikompensasikan dengan terciptanya suatu ukuran kebahagiaan. Beberapa penderitaan mungkin merupakan sarana menuju kebahagiaan yang berharga atau bahkan menjadi bagian darinya. Kebahagiaan bisa membuat hidup layak untuk dijalani.

Dari situ bisa kita tangkap, Schopenhauer tidak menyangkal keberadaan kebahagiaan. Tapi dia pikir kita salah tentang apa itu bahagia. Baginya, kebahagiaan tidak lebih dari tidak adanya rasa sakit dan penderitaan. Momen kenyamanan yang terkadang kita rasakan antara terpenuhinya keinginan yang satu dan pengejaran yang lain. Misalnya, bayangkan betapa puasnya ketika membeli rumah pertama. Apa yang membuat kita bahagia, di sini kata Schopenhauer bukanlah keadaan positif sebagai pemilik rumah tetapi keadaan negatif dari rasa lega karena takut tidak memiliki rumah sendiri, terlantar di jalanan, terhempas cuaca (serta kelegaan dari proses pembelian real estat yang penuh tekanan). Schopenhauer menunjukkan, kebahagiaan ini kemungkinan akan memendek karena ketakutan dan tekanan baru muncul seperti melunasi hipotek atau membersihkan kamar mandi, dan perawatan rumah.

Jika kita mengamati dan melihat lebih teliti lewat psikologis akan kita temukan sifat negatif kebahagiaan. Mereka semua menyoroti sulitnya mencapai dan menghargai kebahagiaan. Misalnya, cenderung tidak memperhatikan semua hal yang berjalan baik, tetapi sebaliknya fokus pada yang buruk. Seperti sepotong makanan yang dinikmati, perlahan kehadirannya lekas hilang saat sampai di tenggorokan.

Jalan untuk menjadi bahagia harus bertujuan untuk menghilangkan rasa sakit dan penderitaan dalam hidup, merasakan kemujuran lahir-batin, meluangkan waktu untuk merenungkan ketidakhadiran. Dalam mencari sistem etika yang didasarkan pada pandangan yang sama, Schopenhauer beralih bukan kepada para filsuf moral pada zamannya, tetapi ke aliran pemikiran Yunani kuno. Dari semua aliran ini, dia menyarankan pandangannya sendiri tentang kebahagiaan terkait erat dengan Stoisisme: dia menyodorkan fakta bahwa para filsuf Stoa seperti Estepius, Epictetus, dan Seneca, mengidentifikasi kehidupan yang bahagia dengan keberadaan yang tidak menyakitkan.

Secara umum, Yunani kuno adalah tempat yang baik untuk memulai pencarian filosofi kebahagiaan. Orang Yunani menyepakati satu hal: tugas pikiran praktis ialah untuk menemukan jenis kehidupan terbaik dan bagaimana hal itu dapat dicapai. Kecuali Plato, mereka menyeimbangkan semuanya dengan memberikan panduan menuju kehidupan yang bahagia.

Memikirkan kebahagiaan sebagai cara menghindari penderitaan adalah pandangan yang membedakan Stoisisme dari aliran lain. Perencanaan dan pemikiran yang matang memungkinkan orang Stoa untuk memilih dan mengikuti jalan yang paling tidak menyakitkan dalam hidup. Fungsi langsungnya adalah alih-alih menghilangkan atau menghindari rintangan di jalan kehidupan, orang Stoa mempertimbangkan kembali rintangan-rintangan ini dengan cara mengubah perasaannya terhadap mereka, seperti dengan mengubah praktik atau mengubah pemikiran.

Untuk sepenuhnya menghindari perasaan menyakitkan, posesif harus dihilangkan, begitu pun ambisi besar dan harapan berlebih  untuk mencapainya, karena itu dapat memperlebar rasa sakit ketika kita gagal. Jika keengganan untuk memiliki beberapa hal tidak ada di tangan kita, setidaknya kita harus menjaga keinginan itu dalam format yang realistis dan dapat dicapai. Schopenhauer mungkin kembali ke pesimismenya, dan menambahkan bahwa kita harus meragukan diri kita sendiri jika kita mulai mengharapkan begitu banyak kebahagiaan di masa depan;  tentu itu tidak realistis. “Semua kesenangan hidup adalah ilusi,” katanya.

Jadi, saran Stoik mengulurkan “ketenangan” dimaksudkan untuk membawa keadaan ketenangan lebih-lebih ketenangan batin tidak peduli seberapa bergejolaknya dunia luar. Schopenhauer percaya bahwa pengamatannya tentang penderitaan yang tak terhindarkan dapat membantu mencapai tujuan jika dilihat sebagai keyakinan. Rasa sakit dan penderitaan meningkat jika kita pikir itu tidak disengaja dan bisa dihindari. Sementara ini mungkin benar untuk setiap penderitaan tertentu yang dapat dihindari, padahal penderitaan secara umum bersifat universal dan tak terhindarkan. Schopenhauer percaya bahwa jika kita dapat mengambil ini pada diri kita sendiri, kita mungkin tidak terlalu khawatir tentang mengalami penderitaan, atau setidaknya khawatir tentang hal itu seperti kita khawatir tentang hal-hal lain yang tidak dapat kita hindari, seperti usia tua dan kematian.

Schopenhauer memberi kita gambaran berbeda tentang hidup bahagia, yang bukan gambaran kebahagiaan seutuhnya. Meskipun penderitaan tidak dapat sepenuhnya dihilangkan dari kehidupan, penderitaan dapat dikurangi dengan memastikan tidak ada penderitaan dalam bentuk apa pun yang berlanjut untuk jangka waktu lama. Kembali ke gambaran “Pendulum” Schopenhauer, kehidupan bahagia meliputi cukup sukses dalam memenuhi keinginan sehingga kita tidak pernah merasa terlalu banyak kesakitan, tetapi, juga, cukup kegagalan untuk memastikan kita tidak pernah bosan. Ini akan menjadi permainan transisi konstan dari keinginan ke kepuasan dan dari keinginan ke keinginan baru, permainan yang jalur cepatnya adalah kebahagiaan dan jalur lambatnya adalah penderitaan. Sebuah osilasi halus antara keinginan dan pencapaian, yang sebagian besar adalah kehidupan setengah puas. Dan itu hal terbaik yang bisa kita harapkan mengenai kebahagiaan.

Alih-alih mencoba mengubah dunia menjadi sebuah kampung bahagia, Schopenhauer memilih etika lain guna menyelamatkan kita dari dunia. Kata-kata seperti ketenangan dan kedamaian cenderung  digunakan daripada kebahagiaan dan kesenangan. Seperti rutinitas hariannya di Frankfurt, bangun dan mandi busa air dingin pukul tujuh dan delapan pagi. Lalu, membuat kopinya sendiri dan menulis selama berjam-jam sebelum menerima beberapa pengunjung, dan pada siang hari petugas kebersihan rumah datang dan ia pergi keluar. Memainkan seruling selama setengah jam lalu pergi ke Hotel Inglitter untuk makan siang yang lezat. Kemudian, membuat kopi lagi untuk dirinya sendiri, tidur siang selama satu jam, membaca sedikit literatur sebelum bergaul dengan anjing pudel putihnya, Atma, dan merokok cerutu. Dipungkasi tamasya di kasur, tidur seperti biasa, sembilan jam.

Ia mengatakan bahwa hanya beberapa individu luar biasa yang mencapai kehidupan keselamatan sejati yang sederhana. Sisanya dari kita harus puas dengan kehidupan setengah puas yang terbaik. Namun, jika cara hidup Schopenhauer adalah contoh dari kehidupan seperti itu, pada akhirnya mungkin tidak terlalu buruk.

Pesimisme mungkin sebuah jalan hidup, tak dapat dijustifikasi sebagai sebuah keadaan mental yang sakit pun disposisi psikologis. Melihat dunia dengan cara berbeda, yang rumit yang penuh resiko, bahkan mengerikan. Namun, seperti kawan A bilang, ia lebih jujur meski naif. Hidup memang begini daripada optimistis yang kelewat lebih, apa yang dapat kita lakukan selain menerimanya?

Editor: Hamidatul Hasanah

Ilustrator: Khairuman

ShareTweetSend
Pandu Aditya Syahputra

Pandu Aditya Syahputra

Alumnus MAPK Surakarta. Almamater Misykati. Ketua PCINU 2021-2022 bagian media, seni dan budaya. Mahasiswa al-Azhar, Kairo jurusan akidah filsafat.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Rayakan Momen Idulfitri, PCINU Mesir adakan Halalbihalal dan Pesta Nahdliyin

Rayakan Momen Idulfitri, PCINU Mesir adakan Halalbihalal dan Pesta Nahdliyin

21 April 2024
Karakteristik Nalar Arab

Karakteristik Nalar Arab

20 July 2021
Neo-Salafisme Wahabi; Dilema Pengusung Ultra-tekstualisme Agama

Resolusi Jihad: Dulu dan untuk Kini(?)

21 October 2018
Sayidah Aisyah Ra. dari Sisi Lain

Sayidah Aisyah Ra. dari Sisi Lain

15 April 2020
Ramadan dan Takwa

Ramadan dan Takwa

21 May 2020

Sebagai Bentuk Kepedulian, PCINU Mesir Gelar Istigasah Kubra untuk Sumatera

10 December 2025
NU Care-Lazisnu Kirim Tiga Kontainer Bantuan Kemanusiaan ke Perbatasan Gaza

NU Care-Lazisnu Kirim Tiga Kontainer Bantuan Kemanusiaan ke Perbatasan Gaza

10 December 2025
Menyambangi Nahdliyyin Mesir, Gus Ulil Tekankan Pentingnya Sebuah Peradaban

Menyambangi Nahdliyyin Mesir, Gus Ulil Tekankan Pentingnya Sebuah Peradaban

25 September 2025
Bertemu Menteri Wakaf Mesir, PBNU Kokohkan Kemitraan Strategis

Bertemu Menteri Wakaf Mesir, PBNU Kokohkan Kemitraan Strategis

25 September 2025
Bukti Nyata Diplomasi Budaya, ISHARI NU Mesir Tampil Memukau pada Acara Muktamar Internasional

Bukti Nyata Diplomasi Budaya, ISHARI NU Mesir Tampil Memukau pada Acara Muktamar Internasional

16 September 2025

Numesri.net putih

Tentang Kami | Kontak | Redaksi | Kirim Tulisan

Ikuti juga sosial media kami

  • Profil
  • Warta
  • Opini
  • Kolom
  • Internasional
  • Sejarah
  • Kajian
  • Tokoh
  • Ubuddiyah
  • Terjemah