Kritik Syekh Buthi atas Gerakan Anti-Mazhab

0 435

Sekitar tahun 1970, seorang pemuda bernama Muhammad Said Ramadan al-Buthi (Syekh Buthi) menerbitkan sebuah buku berjudul al-Lâmdzhabiyyah. Melalui buku ini, Syekh Buthi berusaha menjawab kegelisahan bagaimana sikap seorang Muslim terhadap empat ulama mazhab. Apakah seorang Muslim wajib menganut salah satu imam dari empat mazhab?

Buku tersebut berdampak pada pergeseran sosio-kultural masyarakat Damaskus dan mengguncang sisi keagamaan pemudanya. Sebab, kala itu, anggapan yang ramai di kalangan masyarakat awam ialah bahwa di dalam praktik beragama, seseorang tidak membutuhkan hukum-hukum terperinci yang mewajibkan dirinya mengikuti pendapat mujtahid atau imam. Mereka meyakini bahwa beragama Islam hanya membutuhkan keimanan semata. Mereka menyandarkan anggapan ini kepada Hadits ketika Malaikat Jibril bertanya kepada Rasulullah tentang iman, Islam dan ihsan yang menurutnya, hanya menitikberatkan pada keimanan dan keislaman. Di dalam Hadits yang lain, disebutkan bahwa Islam dibangun dengan lima dasar, dengan demikian kelima dasar ini bisa mencukupkan dari aspek agama yang lain.

Masyarakat awam Damaskus juga melihat bahwa pendapat-pendapat ulama mazhab tidak harus diikuti. Barangsiapa yang mengikuti pendapat mereka, maka ia temasuk orang yang fanatik mazhab dan taklid buta semata. Kelompok penganut gagasan ini mengakui bahwa dasar pegangan agama Islam adalah Alquran dan Hadits, keduanya tidak mungkin mengandung kesalahan. Adapun pendapat ulama mazhab, menurut mereka merupakan pergeseran hukum dari kedua sumber utama hukum Islam tersebut ke pendapat empat ulama mazhab. Resiko kesalahan tidak bisa dihindari. Bahkan, mereka meyakini bahwa terbentuknya mazhab merupakan bidah yang terjadi setelah abad ke-3 H.

Bagi masyarakat awam tadi, ulama empat mazhab berusahan menyaingi mazhab Rasulullah yang seharusnya diikuti oleh setiap Muslim. Mereka juga mendapati bahwa Allah dan Rasul-Nya tidak memerintahkan hamba-Nya untuk mengikuti pendapat empat ulama mazhab. Mereka menyuarakan taklid terhadap Alquran dan Hadits karena keduanya merupakan petunjuk yang tidak menyesatkan.

Ketiga pemahaman atas mazhab fikih dalam agama Islam barusan disampaikan oleh shâhib al-kurrâs yang dalam hal ini masih diragukan kepada siapa julukan ini dinisbatkan. Menanggapi kerancuan semacam ini, Syekh Buthi melihat bahwa pemahaman menyimpang tersebut perlu diluruskan. Menurutnya, jika seorang Muslim tidak membutuhkan hukum-hukum terperinci, untuk apa para ulama membukukan Hadits-hadits yang memerinci detail kehidupan seorang Muslim? Untuk apa mantik dan usul fikih, jika bukan sebagai piranti dalam membaca teks sesuai kebutuhan zaman?

Logika ‘kembali kepada Alquran dan Hadits’ memang benar, jika ditujukan untuk ulama mujtahid yang mampu menggali hukum dari kedua sumber tersebut. Mereka boleh tidak terikat suatu mazhab, sebab letak pentingnya mengikuti mazhab ialah ketidakmampuan seseorang dalam memahami persoalan baru yang belum pernah ditulis dan dijelaskan oleh para ulama terdahulu. Persoalan akan menjadi rumit saat orang awam memaknai bahwa mereka juga bisa kembali kepada Alquran dan Hadits. Mereka tidak akan mampu menyeimbangkan teks agama dan realitas. Oleh karenanya, kaidah yang dipakai dalam hal ini berbunyi bahwa mazhab orang awam adalah mazhab muftinya. Artinya, ketika ada orang awam bertanya terhadap mufti, lantas sang mufti memberikan hukum sebagaimana hukum Mazhab Syafii, maka orang tersebut termasuk dalam Mazhab Syafii.

Di antara klaim lain yang juga masyhur ialah ketidakmaksuman pendapat empat ulama mazhab. Orang-orang ini mengatakan bahwa ijtihad ulama mazhab merupakan ijtihad yang bersumber dari selain Alquran dan Hadits. Menurut Syekh Buthi, pendapat ulama mazhab memang mengandung kesalahan, karena ia merupakan hasil ijtihad manusia terhadap teks agama. Akan tetapi, banyak Hadits yang mengatakan bahwa kesalahan hasil ijtihad manusia akan mendapatkan pahala.

Ketika melirik ke referensi sejarah terkait cara-cara berargumentasi (istidlal), akan kita dapati bahwa ulama mazhab merupakan perwujudan dari pemahaman para Sahabat yang disampaikan melalui para Tabiin, baik di Irak maupun Madinah. Imam Abu Hanifah, misalnya, berguru langsung kepada pembesar ahli Irak, Ibrahim al-Nakhai. Perbedaan pendapat Imam Abu Hanifah dan Ibrahim al-Nakhai tidak begitu banyak, justru saling melengkapi. Pendapat-pendapat Imam Malik juga tersambung dengan pemahaman gurunya, yaitu Said bin Musayyib dan Rabiah bin Abu Abdurrahman Farrukh yang terkenal dengan sebutan Rabiah al-Rayi. Adapun Imam Syafii, ia merupakan jembatan antara kedua mazhab, sebab ia belajar langsung kepada Imam Malik di samping berguru kepada Muhammad bin Hasan, pembesar mazhab Imam Abu Hanifah. Imam Ahmad bin Hanbal, imam mazhab Hanbali berguru kepada Imam Syafii. Dengan rantai keilmuan yang menyambung kepada Rasulullah, bagaimana shâhib al-kurrâs mengklaim bahwa empat ulama mazhab menyaingi mazhab beliau? Tanpa keempat imam mazhab, niscaya kita tidak akan mengerti ajaran-ajaran Rasulullah.

Lantas apakah sepeninggal Nabi para Sahabat dan Tabiin tidak bermazhab? Di dalam buku-buku sejarah diceritakan bahwa para Sahabat Nabi tidak semuanya memiliki kemampuan untuk beristinbat ataupun memahami perincian hukum Islam. Para Sahabat akan bertanya kepada Sahabat tertentu sesuai dengan tempat tinggal masing-masing, seperti Ibnu Masud bagi penduduk Irak dan Ibnu Umar bagi penduduk Madinah, Atha’ bin Abi Rabbah dan Mujahid bagi penduduk Makkah. Fakta ini menunjukkan bahwa para Sahabat yang telah hidup bersama Nabi tidak mengingkari seorang Muslim untuk bertaklid. Lantas bagaimana dengan zaman sekarang yang tidak pernah bertemu dengan Nabi dan para Sahabatnya? ‍

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.