Memaknai Islam dengan Kerahmatan

0 139

Manusia sebagai homo socius (makhluk sosial), tak bisa hidup sendirian. Secara biologis, ia berkeinginan untuk selalu berinteraksi, membentuk pertemanan atau kelompok di dalam golongan, untuk bertahan dari kerasnya hidup dan meraih hal-hal yang ia perjuangkan. Bahkan untuk sekadar srawungan (kumpul-kumpul), saling bercerita tentang realitas kehidupan, makan dan tertawa bersama.

Ketika srawung di salah satu kafe, seorang kawan pernah resah kepada saya, saat itu dia sedang liburan ke distrik Darrasah, dia menyampaikan bahwa satu-satunya cara membereskan masalah-masalah kekerasan dalam dan atas nama agama adalah dengan gencar menyampaikan dan mengampanyekan Islam ramah, Islam yang penuh kasih sayang. Kita menyepakati pembicaraan ini sambil mengacungkan selang shisha ke langit, “generasi muda harus turut serta dalam hal ini.”

Kawan saya berangan-angan akan sebuah dunia yang ideal. Ia menyampaikan idenya kepada saya seperti membacakan hafalan panjang diktat kuliah yang sudah dikuasai mendekati ujian. Kawan sampingnya juga tak mau ketinggalan, dia juga ikut menambahkan beberapa penyampaiannya. Alhasil jadi seperti suara son-son dagangan di pasar Attaba yang saling beradu suara dan memasarkan dagangan. “Tapi bung, konsep itu sudah lama digaungkan dan mewujudkannya tak segampang menghirup dan melepaskan udara, jika kaum Muslim berani membuktikannya, bukan sekedar meyakini, bahwa Islam benar-benar rahmat bagi semua orang, bagi semesta, tapi ternyata itu belum terjadi.”

Meski obrolan selalu bersahutan, hal yang masih bisa saya ingat dari pergumulan malam itu adalah bahwa sebuah pemikiran atau konsep merupakan anak zamannya (at-turats ibn ‘ashrih). Maka dari itu tadzkir dan takrir adalah dua tradisi yang diturunkan untuk menjaga sebuah pemikiran atau konsep menjadi relevan dengan zamannya. “Maka, menyampaikan kembali konsep Islam ramah, Islam kasih sayang adalah sebuah keniscayaan.” ucap kawan saya berapi-api sambil mengacungkan kembali selang shisha ke atas.

Makna Kata Rahmat

Dalam Islam, kata rahmat bermakna kebaikan yang Allah anugerahkan kepada manusia berupa tubuh yang sehat, pikiran yang cerdas dan jiwa yang bersih. Sedangkan rahmat dalam Alquran, memiliki konotasi pemberian tanpa sekat yang dirasakan oleh seluruh manusia. Hal ini karena Allah mempunyai sifat rahman dan dianugerahkan kepada siapa pun. Nabi Muhammad SAW menegaskan, bahwa kehadirannya di alam semesta ini sebagai rahmat kepada manusia. “Yâ ayyuha al-Nâsu, innamâ anâ rahmatun muhdâtun”.

Pada awal masa kemunculannya, Islam di tanah Arab hadir dengan misi memperbaiki tatanan kehidupan manusia menuju arah yang lebih baik, menegakkan hukum secara adil, menegasikan segala bentuk penindasan dan mereformasi kehidupan yang sejajar bagi seluruh manusia. Islam membawa manusia menuju kehidupan yang aman, damai dan sejahtera. Sebagaimana firman Allah: “Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam. (Q.S. al-Anbiya: 107).

Makna “rahmat bagi semesta alam”, menurut al-Imam Muhammad Sayyid Tantawy dalam tafsirnya al-Wasith adalah tidaklah Allah mengutus rasulnya kepada umat manusia dengan agama yang benar ini, yang lurus, agama Islam, kecuali agar itu menjadi kasih sayang, welas asih bagi semesta, manusia dan jin. Utusan itu membuat mereka bahagia dalam menjalani agama mereka di dunia, dan kebahagiaan di akhirat ketika mereka mengikuti ajarannya, melaksanakan perintah dan menjauhi larangannya.

Selaras dengan hal itu dalam tafsir al-Kasyaf, diutusnya Nabi Muhammad Saw. sebagai “kasih sayang kepada semesta” karena dia membawa apa yang akan menyenangkan bagi mereka yang mengikutinya. Dengan penjelasan tersebut, hal-hal seperti: kekacauan, kerusuhan, pemboman di tempat umum, unjuk rasa yang merusak, mencederakan bahkan menghilangkan nyawa merupakan antitesis dari ajaran Islam ramah, Islam kasih sayang. Hal-hal buruk itu menjadi akar penderitaan dan sangat merugikan bangsa kita, merusak kehidupan damai yang kita semua cita-citakan dan perjuangkan.

Konsep Islam ramah, Islam kasih sayang telah digaungkan ke seluruh belahan dunia. Sejak era K.H Hasyim Muzadi memimpin NU—baik bersama Gerakan Moral Nasional (Geralnas), International Conference of Islamic Scholars [ICIS] maupun dalam Konferensi Dunia Agama untuk Perdamaian (World Conference on Religion for Peace/WCRP) ke 8 yang berlangsung di Kyoto, Jepang, pada Agustus 2006—hingga kini oleh al-Azhar maupun World Sufi Forum, yang mana terus mengimplementasikan ajaran-ajaran Islam dengan baik, dengan pola dakwah tawassuth (moderat), i’tidal (adil), tasamuh (toleran) dan tawazun (seimbang). Meskipun citra buruk acapkali pandai mengambil momentum dan membuat wajah Islam terlihat kembali marah penaka tuarang dan angin kencang bersilangan, slogan “Islam ramah, Islam kasih sayang” akan terus dihadirkan sekali lagi, lagi dan lagi.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.