Mengurai Simbol-simbol Puisi Hafiz Syairazi

0 384

Saat modernitas datang, segala yang non-material dilibas dan diberangus. Eropa seolah cukup kenyang dengan jargon-jargon abad pertengahan yang kental religius dan anti duniawi. Semua keidealan dan kebahagiaan dipasrahkan kepada gereja; kepada langit.

Mendung abad pertengahan Eropa seketika menghilang kala modernitas hadir dengan spirit-spirit baru: rasionalitas dan kebebasan. Keduanya mengarah kepada titik yang sama, yakni sekularisme. Babak kegemilangan Barat pun dimulai.

Tapi ada yang aneh di sana. Ternyata tak semua bergembira atas capaian dunia baru itu. Di antaranya kita mendapatkan kenyataan itu dari Goethe, filsuf besar Jerman, sekaligus salah satu tokoh sentral dalam aliran romantisisme. Di tengah kemeriahan kehidupan modern itu, ia justru merintih. Kita simak Goethe menggambarkan situasi zamannya.

 “Aku merasakan kekacauan sangat dalam yang mengharuskanku keluar dari alam realitas ini, penuh bahaya mengancam baik secara diam-diam ataupun terang-terangan supaya aku bisa hidup dalam alam imajinasi serta alam ideaku, yang di dalamnya aku bebas bersenang-senang serta bermimpi sesukaku.”

Singkatnya, dia beranjak keluar dari realitas yang dia anggap penuh kekacauan itu. Pada ujung pencariannya, Goethe menemukan dunia yang dia idam-idamkan. Ia menemukan dunia yang menurutnya ideal: Timur. Timur yang ia maksud adalah Hafiz Syairazi.

Bukti keterpesonaan Goethe atas Hafiz menjadi jelas ketika ia menulis karya monumentalnya, West-Ötslicher Divan, sebuah buku yang berisi dialog imajinatif antara keduanya. Karya tersebut menandai pula adanya pertemuan antara sastra Jerman dan sastra Persia.

Fakta ini memang mengejutkan. Kita bisa melihat betapa yang Muslim nan sufistik mampu menembus Barat (Jerman) yang tak punya ikatan religius secara selaras, yang Kristiani. Tapi apakah yang terpengaruh selalu dibenarkan saat ia berbicara tentang sosok yang dipuja-puja tersebut? Benarkah sosok Hafiz ditampakkan secara utuh di dalam pandangan Goethe yang begitu mengaguminya itu?

Alquran menekankan bahwa kecondongan intuisi-subjektif tak bisa dipisahkan dari status kebenaran. “Katakanlah (Muhammad)! Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu. Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.” (Ali Imran: 31)

Bukan hal mudah untuk memahami puisi-puisi sufistik. Kata menjadi begitu tak sederhana ketika ia terlahir dari rahim kesufian yang mengalami ekstase: pengalaman-pengalaman yang terasing dari kesadaran biasa yang cenderung luar, fisik, dan rasional.

Para pembaca Hafiz, khususnya di Barat, merasa kesulitan menangkap substansi puisi-puisi Hafiz. Ada yang mengambil sikap bahwa sejatinya Hafiz hanya berputar-putar dalam fantasi fisik belaka. Ada juga yang mengatakan bahwa untuk memahami Hafiz, kita harus berangkat dari makna-makna metafora. Tapi Goethe tidak memihak pada keduanya, ia mengambil jalan tengah.

Bagi Goethe, Hafiz adalah keduanya: fantasi fisik yang sekaligus dibersamai pengalaman-pengalaman ruhani. Berarti “khamr”, “saqi” (penuang anggur), dan “haura'” (gadis jelita) mau tak mau dipahami sebagaimana umumnya. Dari hal itu, ia berani mempertentangkan antara sosok Hafiz sebagai penyair-imajiner dan Hafiz sebagai sufi. (lihat catatan Goethe dalam Diwan as-Syirqi lil Muaalif al-Ghorbi terj. Abdurrahman Badawi)

Kalau kita amati, kesulitan dalam mendedah hakikat makna sebenarnya tak terkhususkan dalam puisi-puisi gazal Hafiz saja, akan tetapi juga berlaku pada puisi-puisi sufistik pada umumnya.  Kita juga mendapatkannya pada sosok Umar Khayam, Ibnu Arabi, Rumi serta penyair-penyair sufistik yang lain.

Seperti dalam kasus Umar Khayyam misalnya, di saat ia berbicara tentang khamr, terdapat silang pendapat di kalangan kritikus. Ada yang mengembalikannya pada pemaknaan materiil, ada pula yang mengembalikannya pada tasawuf. Abdul Mun’im Khafaji, seorang guru besar Sastra Arab di Universitas al-Azhar mengatakan bahwa lebih tepatnya puisi-puisi Umar Khayam diarahkan pada tasawuf. Maka khamr di sana tak berarti lebih dari sekadar simbol.

Di dalam bukunya yang berjudul Adab fî al-Turâts al-Shûfiy, Abdul Mun’im Khafaji memberi pemaparan yang cukup lengkap seputar sastra sufistik. Dia menjelaskan, alasan mengapa simbol-simbol (ramziyat) memiliki peran signifikan dalam puisi-puisi sufistik adalah karena kaum sufi belum bisa menemukan independensi kebahasaan untuk mewakili cinta ilahiah (hub ilahi) yang mereka rasakan.

Untuk mengejawantahkan makna yang bersifat ruhani, yang berasal dari suatu pengalaman mistis yang dalam terminologi kesufian hal itu disebut sebagai “wijdani”, mereka mau tidak mau harus berpijak pada fondasi kebahasaan fisik, karena makna yang dalam (ruhani) tak mampu melepaskan diri dari kendali artikulasi materiil. Sebab itu, pembaca tak boleh terperangkap oleh pemaknaan “luar” nan material, karena di sana bahasa bertugas tak lebih dari sekadar “simbol”.

Namun satu hal yang mungkin untuk kita catat bersama: makna pun memiliki puncak tertentu yang tak boleh didaki dan dijamah oleh kata. Yang boleh untuk dikerjakan kata, pada titik tersebut, ialah mengagumi makna dari kejauhan, lalu berusaha mendekatinya melalui kiasan-kiasan dan metafora. Sehingga ketika para sufi menyebut kata-kata seperti “khamr”, “mata”,  “paha”,  “rambut” dan  ” wajah”, maka jelas salah bagi pembaca jika melarikan semuanya itu pada makna fisik belaka.

Setelah memahami tata cara memaknai puisi sufistik secara umum, selanjutnya mari kita melihat bentuk penerapannya dalam puisi Hafiz. Di sini alangkah baiknya kita menyimak penjelasan Salah Sawi, seorang pengkaji pemikiran Hafiz dan dianggap sebagai penerjemah paling otoritatif atas puisi-puisi gazal Hafiz ke dalam bahasa Arab.

Untuk memahami secara benar esensi pemikiran Hafiz, sebagaimana yang dikatakan Salah Sawi, mula-mula kita harus mengerti bahwa ada empat aspek dasar yang terkandung di dalam diri Hafiz: aspek qurani, aspek irfani, aspek kerinduan, dan aspek kesusastraan. Empat aspek ini tidak bisa dipisah-pisahkan. Jadi, romantisisme yang keluar dari Hafiz tak bisa dipahami murni imajinatif pada umumnya. Puisinya adalah manifestasi kerinduan yang disiram dengan irfani: makrifat ilahiah. Mengejutkannya lagi, seperti yang dikatakan Salah Sawi, di balik puisi-puisi cinta Hafiz tersimpan isyarat-isyarat bernafaskan Alquran.

Hafiz berpuisi:

Minumlah anggur itu

Seraya menatap wajah gadis jelita

Seperti Hafiz di kala menikmati

Minuman segar teramat putih

Puisi-puisi di atas disenandungkan oleh Hafiz sebagai ekspresi atas tajali. Bagaimana cara dia membahasakan kehadiran Dzat Yang Maha Tinggi melalui kedangkalan kata-kata? Bukan hal mudah pastinya. Namun Hafiz tetap berusaha menjaga adab, dia tak berbicara terang-terangan bahwa si penuang anggur (“saqi”) adalah si gadis jelita itu.

Yang dilakukan oleh penyair, adalah mendekati peristiwa ruhani tersebut melalui perabot jasad. Di dalam hal itu, dia meminjam kata  “gadis jelita” sebatas simbol. Mengenai situasi mabuk dan ihwal minuman yang disinggung dalam puisi di atas juga mempunyai landasan dalam Alquran: “Dan Tuhan memberikan kepada mereka minuman yang bersih (dan suci).” (Surat al-Insan ayat 21)

Hafiz juga mengatakan:

Aduh betapa mengherankan

Dengan terburu-terburu

Mereka menutup kedai arak itu

Terus berulang hingga musim ini

Pada puisi ini, kita lihat Hafiz seolah mengaduh. Ia begitu terheran dengan perilaku manusia yang, dalam bahasanya, begitu ceroboh karena terburu menutup tempat menikmati arak itu: surga.

Manusia yang terjebak oleh hawa nafsu dan kesesatan, hakikatnya sama dengan menutup pintu surga, terlempar dari kemuliaan musim firdausi menuju musim duniawi. Sebab itu, Hafiz merasa begitu keheranan. Lebih tragis lagi, ia melihat bahwa hingga musim ini (zaman akhir) pun manusia masih bersikukuh menutup pintu itu. “Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu wahai anak cucu Adam agar kamu tidak menyembah setan? Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagi kamu.” ( Surat Yasin ayat 60)

Simbol-simbol adalah suatu keniscayaan dan merupakan unsur terpenting dalam memahami puisi-puisi sufistik. Kaum sufi dengan terpaksa menggunakan itu karena ada ketidakmungkinan untuk mengungkap hal-ihwal mistik yang bersifat rahasia.

Ibnu al-Farid mengatakan:

Cukup dengan isyarat, perasa mampu memahami makna

Mereka tak butuh ungkapan yang terang layaknya si keras kepala

Maka tak usah menyingkap hakikat jika ia tak merelakan darahnya

Karena dalam isyarat makna terwakili melampaui batas kata-kata

Meskipun demikian, tetap saja terdapat orang-orang yang mengembalikan pemaknaan pada sisi zahir—dan ini berakibat fatal—berakhir pada pengingkaran eksistensi tasawuf.  Goethe memang mengagumi Hafiz, dan di antara berkat Goethe pula Hafiz disebut-disebut di Barat. Namun ada hal yang harus diluruskan di sana, terkhusus dalam caranya menginterpretasi puisi-puisi sufistik Hafiz Syairazi.

Tapi Hafiz tak sepenuhnya berisi simbolik. Masih terdapat satu titik yang bisa mempersatukan dan terpahami oleh kita semua, yakni ajarannya tentang cinta dan kerinduan. Di mata Hafiz, Tuhan adalah asal-usul segala keindahan. Tak ada setitik pun selain cinta dan kasih yang terpahami dari Tuhan. Ajaran seperti inilah yang membuat Goethe terpesona dengan dunia Timur, yang ia sebut-sebut sebagai Air Mata Khidlir, air mata kehidupan yang bisa menyelamatkannya dari kepalsuan modernitas; sebuah realitas yang mendewakan material,  kehidupan yang dipenuhi mara bahaya dan kekacauan.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.