Meredam Konflik Keagamaan ala Hafiz Syairazi

0 446

November kemarin adalah November keterguncangan nan memilukan dalam sejarah keberagamaan Indonesia. Empat orang Kristen dibantai oleh Mujahidin Indonesia Timur (MIT) pimpinan Ali Kalora. Satu orang dipenggal kepalanya, tiga orang digorok, lalu tragisnya lagi satu orang dibakar. Peristiwa tersebut jelaslah merupakan kejahatan besar. Kita menamakannya dengan bencana kemanusiaan. Aksi kekejaman, sadis dan brutal diterjemahkan sebagai jihad yang mesti dilakukan. Sungguh kepalsuan yang mengerikan.

Selanjutnya apa yang mesti kita lakukan, apakah cukup menganggapnya sebagai berita harian yang muncul di beranda media sosial? Semestinya tidak. Itu adalah salah satu bentuk kemungkaran. Kita harus mencegahnya. Jika tangan dan mulut tak kuasa, setidaknya kita masih bisa mengingkari dengan derajat terlemah: melalui kesadaran.

Mengapa praktik cinta-beragama kadang malah menimbulkan kerusakan?

Sebuah kebenaran tidak mungkin berujung pada kejahatan. Seumpama kebenaran berujung pada kejahatan, maka bisa jadi ada kesalah-tafsir mengenai apa itu kebenaran.

Fenomena barusan mengingatkan saya pada sosok Hafiz (w. 792 H/ 1392 M), salah satu penyair sufistik terbesar dalam sejarah kesusastraan Persia dan Islam. Nama aslinya adalah Syamsuddin Muhammad, yang kemudian terkenal dengan sebutan Hafiz, sang penghafal Alquran. Ia memang hidup pada enam abad yang lalu, tapi puisi-puisi gazalnya terus menerus hidup dan relevan hingga kini. Hafiz adalah magnet, karena puisi-puisinya dianggap memiliki spirit cinta, persaudaraan, dan perdamaian.

Di Persia, sekarang Iran, puisi-puisi gazal Hafiz mendapatkan tempat yang istimewa di hati umat Muslim, bahkan bukunya disimpan di rumah-rumah bersamaan Alquran untuk dibaca dan terus menerus dipelajari. Di India, seperti yang dikatakan Prof. Dr. Muhammad Husen Masyayikh Faridni, Guru Besar Sastra Timur, dia adalah yang pertama kali menerjemahkan kitab Aghani-nya al-Asfihani ke bahasa Persia. Hafiz juga mempunyai pengaruh besar, khususnya di kalangan para penyair muslim seperti Jamali, Bairam Khan, Abu al-Qasim Faizi, Khalid sampai Iqbal, semuanya membangun cita rasa sastrawinya di atas mazhab Hafiz.

Alasan mengapa Hafiz sangat diterima di India adalah karena ajarannya mampu membawa rasa persaudaraan, toleransi dan harmonis antara umat beragama. Kabir, seorang penyair sufistik abad 15 M juga terpengaruh oleh Hafiz. Kabir adalah penggagas aliran “bhakti” yang dengan aliran ini ia berusaha mempertemukan unsur-unsur ajaran keislaman dan hinduisme. Para pengikutnya mengaku sebagai pembawa risalah kejernihan hati, kesetaraan, kerinduan, mahabah, amal kebaikan di muka bumi.
Barahman, penyair Lahore (1073 H) yang juga termasuk pengikut Hafiz, menafsirkan aliran bhakti melalui puisinya:

aku bingung apa yang menyebabkan

permusuhan antara agama dan kekufuran

padahal Kakbah dan rumah berhala

bercahaya dari satu lentera yang sama

Alhasil, ketika Kabir meninggal dunia, umat muslim dan umat Hindu di masanya saling berebut untuk menisbahkan sang penyair kepada masing-masing ajaran mereka.

Deretan nama selanjutnya adalah Nanak Dev (1919), dia mendirikan aliran kepercayaan bernama Sikh, yang artinya sang terpelajar. Dalam aliran itu ia berusaha mengadopsi kedua unsur pemikiran Kabir dan Hafiz. Meskipun berlatar belakang agama Hindu, suatu ketika ia pernah berziarah ke Tanah Suci. Di Masjidil Haram, tubuhnya lemas lunglai. Ia terduduk sambil menyandarkan punggungnya ke Baitullah. Lalu orang-orang berteriak kepadanya: “Wahai Darwis, jangan kau membelakangi Baitullah dengan punggungmu!” Sang Darwis menjawab: “Iya, aku tahu, kalau begitu coba ajari aku cara duduk yang tepat sekiranya aku tak membelakangi Baitullah.”

Muhammad Akbar (945-1014 H) adalah salah satu raja paling gemilang dalam sejarah India. Sejak kecil dia sudah akrab dengan pemikiran Hafiz. Berkat ajaran perdamaian dan kesetaraan Hafiz, Akbar berhasil membangun suasana sosial yang harmonis antara Islam dan Hinduisme. (lihat Shalah Shawi, Diwan al-‘Isyq hal. 16-17).

Demikianlah gambaran singkat pengaruh Hafiz di dataran India. Di Barat, khususnya di Jerman, Hafiz sudah dikenal sejak paruh pertama Abad 19 M. Puisi-puisi Hafiz sampai pada orang Barat tersebab kuatnya pengaruh kesusastraan Persia kala itu yang masih terpelihara melalui kebudayaan Turki Utsmani. Saking kondangnya penyair sufistik yang dijuluki sebagai “lisan al-ghaib” ini, filsuf-filsuf besar seperti Nietszche, Engels, dan Goethe terkagum-kagum dan tersihir oleh sosok Hafiz. Nietszche menyebut Hafiz sebagai ‘burung Anqa’ (Phoenix; seekor burung dalam mitologi kuno) yang nyata.

Meskipun demikian, orang-orang Barat masih merasa kesulitan untuk menafsirkan apa substansi pemikiran Hafiz yang cenderung sufistik. Dalam penafsiran tersebut, sebagaimana yang diterangkan oleh Abdurrahman Badawi, terdapat dua aliran yang terkesan bertentangan.

Pertama, mereka melarikan kepada pemaknaan literal. Artinya, imajinasi yang terkandung dalam puisi-puisinya murni dilarikan kepada fantasi fisik, seperti mabuk, anggur dan perempuan.
Kedua, mereka yang melarikan substansi makna pada sisi batin. Artinya, bahasa di tangan Hafiz hanya berlaku sebagai simbol-simbol; tidak ada maksud pemaknaan secara harfiah melainkan semua itu berposisi sebagai metafora.

Mengapa bisa demikian? Karena orang Barat sulit untuk mencari titik temu antara dua dunia, yakni fisik dan mistik—sebagaimana yang menjadi kekhasan kaum sufi. Bahkan kalau kita amati, filsuf seperti Goethe pun—menurut pandangan saya—salah mengartikan puisi-puisi Hafiz. Dalam catatannya atas bukunya “Diwan Syarqi li al-Muallif al-Gharbi” yang dialihbahasakan oleh Abdurrahman Badawi, Goethe dengan ceroboh mengklaim bahwa puisi-puisi Hafidz telah bertentangan dengan ajaran-ajaran keagamaan yang dianut oleh Hafiz sendiri.

Kita perlu membacai ulang puisi-puisi sufistik Hafiz tanpa menegasikan kerja-kerja intelektual dan interpretasi orientalis. Terlebih pada masa kita akhir-akhir ini dimana sebuah gerak langkah keberagamaan tak jarang menimbulkan caci maki, kesenjangan, yang malah terkesan membuat sekat antara “kita” dengan agama itu sendiri.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.