Mimpi, Medis dan Teroris(me)

0 134

Mimpi di sejumlah peradaban kuno dipercayai sebagai tafsiran dari dewa dan jin. Mimpi mendatangi seorang dalam tidurnya karena tujuan penting, yaitu untuk mengabarkan hal gaib. Di masa kuno, mimpi tidak dipandang memiliki kaitan dengan ilmu pengetahuan, apalagi psikologi sebagaimana di masa Yunani nanti. Dalam kepercayaan masyarakat kuno, mimpi lebih erat kaitannya dengan dunia supranatural, metafisik dan mistis.

Aristoteles melakukan pembaharuan terhadap bahasan mimpi dengan meletakannya pada objek kajian psikologi. Dalam dua karyanya tentang mimpi, Aristoteles mengatakan bahwa mimpi bukanlah wahyu dari dewa. Menurutnya, mimpi adalah murni fenomena psikologi yang terjadi pada diri manusia. Figur medis terkenal sepanjang sejarah dari Yunani, Hippokrates juga mengarang sebuah buku yang terdapat satu bab khusus menjelaskan relasi antara mimpi dan penyakit.

Begitu banyak peristiwa-peristiwa bersejarah dan penting yang diawali oleh mimpi. Di berbagai peradaban besar di dunia, seperti Cina, India, Mesir kuno dan Arab, mimpi memiliki andil khusus dan berpengaruh besar dalam kehidupan sadar. Cerita seputar mimpi adalah hal yang menarik semenjak dulu sampai hari ini. Di dalam al-Quran, kisah tentang mimpi bisa ditemukan salah satunya pada cerita Nabi Yusuf AS yang dianugerahi mukjizat dalam mengartikan mimpi. Begitu pula pada mimpi Firaun akan kedatangan Nabi Musa AS yang kelak akan menghancurkan kekuasaannya. Di zaman modern, mimpi masih menjadi pewarna dalam beberapa situasi penting, seperti mimpi Grand Syekh Abdul Halim Mahmud tentang kemenangan Mesir pada saat perang melawan Israel, atau mimpi Gus Dur bahwa kelak akan menjadi presiden Indonesia.

Beberapa agama dan kepercayaan memiliki pandangan khas soal mimpi. Islam, misalnya meyakini bahwa mimpi bertemu Rasul SAW adalah suatu keberkahan besar yang tidak ada tandingannya. Demikian pula pada kepercayaan Yunani kuno yang meyakini bila mimpi mampu menginformasikan kabar akurat (baca: diagnosa) seputar penyakit melalui ritual-ritual suci terlebih dulu sebelum tidur.

Salah satu cerita populer dalam Islam tentang kaitan mimpi dengan klinis bahwa mimpi bisa menyembuhkan penyakit adalah mimpi penyair muslim masyhur, Imam al-Bushiri. Al-Bushiri mengarang syair burdah setelah ia mimpi bertemu Rasul SAW. Di dalam mimpi itu, Rasul SAW menghadiahkannya sehelai selimut (burdah) untuk kesembuhan penyakit lumpuhnya. Benar saja, selepas bangun dari mimpinya, al-Bushiri sembuh total dari penyakit lumpuhnya dan ia mengarang syair khusus untuk Rasul SAW.

Di tangan Sigmund Freud, mimpi menjadi media utama untuk mengobati penyakit tertentu. Freud bercerita banyak seputar pengalamannya dalam mengobati gejala histeria. Ia menuangkannya di dalam The Interpretation of Dreams. Segala pengetahuan dan penelitiannya terhadap mimpi, ia paparkan lengkap di karyanya itu.

Dari sini, bisa diketahui bahwa mimpi selalu menjadi elemen penting dalam mewarnai kehidupan umat manusia. Mulai dari perannya sebagai aktor di balik terjadinya peristiwa bersejarah, keputusan darurat sampai media klinis dalam penyembuhan berbagai penyakit. Dalam bidang klinis dan terapi, catatan mimpi sebagai media penyembuhan penyakit sudah berlangsung dari zaman dulu. Mimpi dijadikan oleh berbagai ahli medis untuk mencari tahu penyakit pada seseorang.

Sampai di sini, mimpi hanya mampu mengobati penyakit-penyakit jasmani. Apakah ia juga mampu mengobati berbagai penyakit rohani dan batin?

Penyakit rohani atau kebatinan yang dimaksud di sini adalah tindakan-tindakan amoral yang mencemari hati manusia, seperti berbohong, dengki, iri hati dan sombong. Perilaku-perilaku tercela tersebut adalah penyakit batin atau rohani yang tidak kalah membahayakan dengan penyakit jasmani. Sedikit orang yang mampu atau tidak ingin menyadari bahwa ia tengah terjangkit virus-virus kebatinan. Padahal, dimensi kerohanian adalah elemen terpenting dalam diri manusia. Banyak gangguan jasmani terjadi akibat kesehatan rohani yang tidak fit.

Di antara penyakit batin yang kini marak ialah terorisme. Para ahli berpendapat bahwa terorisme adalah penyakit kompleks yang bermula dari kumpulan berbagai perbuatan amoral, sekaligus kriminal.

Bermacam tindakan buruk bergabung dalam satu gerakan yang disebut terorisme. Pelakunya tanpa rasa bersalah menyebut tindakan kejinya sebagai perbuatan religius dan layak diganjar surga. Mungkin para teroris tidak menenggak minuman keras atau semacamnya, mereka telah mabuk oleh doktrin-doktrin agama yang radikal dan berbahaya. Hal tersebut tentu mengerikan. Oleh karenanya, terorisme layak disebut sebagai nenek moyang dari segala keburukan, khususnya di era sekarang ini.

Terorisme tidak lahir begitu saja. Ada fase dan tahapan seseorang menjadi teroris. Penyebab dan faktor seseorang teracuni terorisme pun beraneka ragam dari ekonomi, pendidikan, wawasan keagamaan sampai psikis. 

Problem yang sering muncul hari ini adalah banyaknya remaja yang terpengaruhi oleh radikalisme dan terorisme. Salah satu sebab utamanya, kondisi psikis remaja yang belum stabil dan dalam proses pencarian jati diri. Tidak peduli dari mana remaja tersebut berasal, ia sangat mungkin terjangit wabah pemikiran-pemikiran radik tersebut.

Sasaran utama para penyebar doktrin teroris adalah sesorang yang kondisi jiwa atau psikisnya tengah merosot. Layaknya tubuh, jiwa seseorang juga bisa mengalami sakit. Di saat krisis kesehatan jiwa inilah terorisme mudah untuk menyusupi setiap orang, baik remaja maupun tua, kaya atau miskin, pintar maupun bodoh. Ketika seseorang sudah positif terjangkit virus teroris, segala perbuatan amoral pun dipandangnya sebagai tindakan halal. Menurutnya, semua tindak tanduknya adalah tuntutan agama yang mesti ditegakkan walau bertentangan dengan kemanusiaan. Ajaran radikal dan ekstrem inilah yang mendorongnya untuk membunuh sesama, membom dirinya, mengacaukan keamanan dan melihat perbuatan keji lainnya sebagai tindakan yang biasa saja.

Terorisme ialah problem psikis, sebab ia dilakukan oleh oknum-oknum yang ‘gila’ dan menyebabkan banyak kegilaan di masyarakat. Terorisme menjelma ‘polutan’ yang terbawa ke alam mimpi dan mencemari indahnya tidur. Sigmund Freud mengatakan bila tujuan dari adanya mimpi adalah untuk melestarikan tidur seorang, lalu masihkah tidur lestari bila mimpi tercemar terorisme?

Freud pernah melakukan pengobatan gejala histeria yang banyak diderita oleh penduduk Eropa pascamasa perang. Mereka mengalami ketakutan dan gangguan-gangguan fisik setiap kali mengingat persitiwa tersebut. Freud mencoba menerapkan pengobatan yang belum ada sebelumnya, yaitu dengan mimpi. Para pasien diminta untuk menceritakan setiap mimpinya. Dari cerita-cerita mimpi itulah, Freud bisa mendapat informasi penting tentang penyakit pasiennya sehingga bisa memberi solusi yang tepat. Beberapa pasiennya merasakan perubahan positif dan mendapat kesembuhan.

Mimpi bisa mengatasi beberapa dampak dari terorisme, utamanya efek psikis. Seratus tahun lalu, Sigmund Freud telah memanfaatkan mimpi sebagai pengobatan gejala histeria akibat peperangan.  Bila Hippokrates pernah berkata, “Jadikan makanan sebagai obatmu dan jadikan obat sebagai makananmu”, maka jadikanlah juga mimpimu sebagai obatmu.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.