Pembenaran Ilmiah terhadap Legalitas Poligami dalam Islam

3 412

Muhammad Farid Wajdi, anggota Dewan Ulama Senior al-Azhar adalah seorang penulis besar dan salah satu cendekiawan Mesir di abad ke-20. Dalam satu tulisannya yang ditampilkan ulang oleh Majalah al-Azhar pada edisi terbaru, ia berusaha membentengi salah satu konsep ajaran syariat Islam, yakni legalitas poligami, dari serangan orientalis dan aktivis sosial. Saya di sini akan menyarikan tulisan tersebut.

Telah banyak beredar di Eropa buku-buku dari kalangan orientalis maupun para aktivis sosial yang berusaha mengkritik tradisi poligami. Mereka memeringatkan orang-orang muslim untuk tidak melegalkannya dan bahwa orang-orang muslim tidak akan dapat maju kecuali dengan mencabut legitimasi poligami. Buku-buku ini membawa pengaruh besar bagi pemikiran banyak orang muslim. Sebagian dari mereka ada yang berusaha menghapus syariat ini tanpa memedulikan konsekuensinya terhadap agama. Sebagian yang lain berusaha mencari jalan keluar dengan menakwil beberapa nas tentang poligami.

Mereka mengatakan bahwa Allah berfirman, “ Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja…” (QS 4:3). Di dalam ayat selanjutnya, Allah berfirman, “Dan kamu tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istri(mu), walaupun kamu sangat ingin.” (QS 4:129). Dengan demikian, konsekuensi logis dari kedua ayat ini adalah seruan untuk cukup dengan satu istri saja dan melarang poligami dengan alasan seorang tidak akan mampu berpoligami dengan adil.

Sejatinya, pemahaman yang sering diulang-ulang oleh pengkaji soal poligami ini berdasar pada pemotongan ayat yang kurang tepat. Mereka akan menyadari hal itu tatkala ayat di atas diteruskan, “Dan kamu tidak akan dapat berlaku adil di antara istri-istri(mu), walaupun kamu sangat ingin, karena itu janganlah kamu terlalu cenderung (pada yang kamu cintai), sehingga kamu biarkan yang lain terkatung-katung. Dan jika kamu melakukan perbaikan (terhadap apa yang terjadi di antara kalian) dan menjaga diri, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi maha Penyayang.” (QS 2:129). Sehingga pemahaman dari ayat ini adalah tatkala kalian tidak dapat berbuat adil dalam semua hal maka berbuat adilah semampunya dan janganlah terlalu cenderung pada satu istri sementara yang lain ditinggalkan sama sekali seakan tidak punya suami.

Dengan ini, kebenarannya adalah Islam memperbolehkan beristri lebih dari satu namun dengan keras memerintahkan agar berbuat adil. Salah satunya adalah pada sabda nabi, “barang siapa memiliki dua istri namun ia tidak dapat berbuat adil di antara keduanya maka di hari kiamat ia akan datang dalam keadaan separuh badannya lumpuh,” (HR. Abu Hurairah)

Setelah kita memahami hal ini, kita juga harus memahaminya dalam tinjauan sosial. Apakah sebenarnya ada visi yang jauh yang diinginkan dalam legalitas poligami seperti halnya legalitas syariat yang lain?

Pelopor Kemerdekaan Perempuan

Banyak yang telah mengakui bahwa Islam sangat perhatian terhadap perempuan. Hak-hak perempuan yang diberikan oleh Islam bahkan melebihi hak-hak perempuan di Barat, bahkan sampai saat ini.

Dari segi spiritual, misalnya, Islam memberikan posisi yang setara antara perempuan dan laki-laki. Dalam Islam perempuan berhak mendapat derajat yang tinggi setinggi-tingginya. Tidak ada ketentuan derajat tertentu bagi amal seorang perempuan.

Barang siapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (QS 16:97)

Lalu dari segi keilmuan, perempuan dipersilakan untuk mempelajari apa pun yang mereka sukai. Para lelaki juga diperbolehkan menimba ilmu dari mereka. Riwayat mereka dapat diterima dan kredibilitasnya diakui.

Demikian halnya dalam hak-hak sipil. Di antaranya, perempuan berhak mendapatkan warisan, mereka dapat memiliki hartanya sendiri dan mengelolanya dengan mandiri tanpa campur tangan ayah atau suaminya, mereka pun juga bisa menjadi hakim atau pun mufti.

Di lingkungan keluarga, perempuan juga mendapatkan martabat yang mulia. Mereka tidak harus melayani suaminya bahkan juga tidak harus mencukupi kebutuhannya sendiri jika suaminya mampu. Mereka bukan tawanan lelaki melainkan teman hidup bersama. Bahkan ia bebas melepaskan ikatannya ketika ia memang menyaratkannya dalam akad.

Hak-hak ini diberikan oleh Islam bahkan sebelum perempuan memintanya atau bahkan sebelum suami memberikannya. Lalu ketika demikian ini adalah sikap Islam terhadap perempuan, apakah mungkin Islam menarik kembali sikapnya dan melegitimasi poligami untuk merendahkan martabat perempuan?

Untuk menjawabnya maka perlu untuk memikirkannya sejenak. Bukan karena ini adalah persoalan yang sukar dipahami akan tetapi karena stereotip yang telah mengakar dalam benak kebanyakan orang.

Pembahasan ini membutuhkan dua premis sekaligus. Pertama, banyak dari perangai laki-laki yang menginginkan lebih dari satu istri. Ketika mereka dipaksa untuk memiliki satu istri saja maka mereka akan mencari jalan lain yang tidak dibenarkan oleh syariat untuk memuaskan keinginannya. Sehingga, akan banyak terjadi perzinaan dan pelecehan terhadap perempuan. Sudah barang tentu ini adalah pelanggaran terhadap etika sosial.

Kedua, manusia tidak akan pernah terlepas dari naluri biologisnya. Maka cara terbaik adalah mengakui kelemahan itu dan mengakomodasinya dalam aturan syariat.

Untuk mencapai derajat yang tinggi, seseorang cukup mencapainya secara perlahan. Tatkala ia masih dalam nalurinya yang kuat lalu secara tiba-tiba diharuskan untuk memikul tanggung jawab yang berat pastinya ia akan lebih menuruti nalurinya dan lama-kelamaan akan menjadikannya kebiasaan. Sehingga ia benar-benar keluar dari hidayah dan tidak akan pernah kembali.

Dua hal inilah yang mendasari syariat poligami. Pertama, syariat mengakui kelemahan manusia sebagaimana yang difirmankan, “… dan manusia dijadikan bersifat lemah.” (QS 4:28), juga ayat, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS 2:286).

Lalu untuk mencapai derajat yang mulia, Allah memerintahkan manusia untuk mencapainya sesuai dengan kemampuannya, “Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu…” (QS 64:16).

Nabi pun juga bersabda, “Waspadalah kalian terhadap berlebihan dalam agama.” (HR Ibnu Majah), serta dalam Hadits lain, “Sesungguhnya agama ini kuat, maka masuklah dengan perlahan.” (HR Baihaqi).

Dengan penjelasan ini sudah dapat dipahami bahwa Islam melegitimasi poligami adalah untuk mengatur naluri biologis manusia ke dalam sebuah aturan, sehingga mereka dapat dengan perlahan memperbaiki diri dan tidak terbawa jauh oleh nalurinya.

Coba pikirkan, apa yang terjadi pada hukum yang tidak melegalkan poligami. Mau tidak mau akan memaksa untuk menerima hukum yang bahkan lebih buruk lagi. Kemudian juga akan membawa dampak lain yang lebih buruk pada masyarakat.

Mulanya hal ini akan menyebabkan bebasnya hubungan lawan jenis, atau juga bahkan hubungan sesama jenis. Dengan semakin terbiasanya hubungan ini, maka kecerdasan moral akan menurun. Sehingga dengan berkedok seni, memamerkan kecantikan atau bahkan telanjang dapat diakui oleh masyarakat sebagai hal yang lumrah. Kemudian semuanya berakhir pada konsep poligami itu sendiri namun dalam bingkai pertemanan.

Hubungan lawan jenis semacam ini tidak lain dan tidak bukan bertujuan untuk memuaskan naluri biologis, namun tanpa adanya pertanggungjawaban di hadapan perempuan. Perempuan, dalam hal ini akan sangat dirugikan sebab tanpa adanya ikatan ia dan anaknya dapat sewaktu-waktu diterlantarkan.

Sementara Islam yang mengerti akan kebutuhan biologis ini memutuskan untuk melegalkan poligami, namun juga mengharamkan zina. Dengan ini juga, Islam telah menjaga perempuan. Tidak boleh ada hubungan lawan jenis kecuali dalam hubungan suami istri. Serta, anaknya pun dapat terlindungi hak-haknya.

Sehingga ingatlah siapa pun yang ingin menghapus legalitas poligami dalam Islam, dan mengira mereka melakukan hal baik kepada kepentingan sosial, mereka harus ingat kalau hal demikian itu sama saja melegalkan pergaulan bebas, merusak ekosistem lawan jenis dan menurunkan moral sosial.

3 Komen
  1. Nay berkata

    Waah… sidi Ali diam-diam berniat p***gami.

    Mantap, lanjutkeun….

  2. Mo Ali berkata

    Haha… Pengen sih.. tapi satu aja belum hehe… 🤣

  3. Ali Al ghifari berkata

    Oke, nawaytu matsna was tsulatsa wa ruba’

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.