Pentingnya Kritis Ketika Membaca Teks Agama

0 271

Di zaman sekarang, pertanyaan kritis tentang agama kian menyeramkan. Seseorang yang mempertanyakan perihal agama, Islam khususnya, bisa jadi dituduh kafir, padahal pertanyaan-pertanyaan tersebut sering kali muncul sebagai telaah atas teks agama yang dirasa perlu untuk menjawab persoalan kontemporer.

Mandegnya penalaran secara kritis ketika membaca teks agama dikarenakan oleh (salah satunya) model pembacaan teks agama yang dicukupkan pada level menghafal saja. Sebab tersebut menurut saya tidak serta-merta benar. Dalam belajar agama kita memang harus menghafal. Namun setelah menghafal, ada tahap yang harus kita tempuh, yaitu upaya interpretasi teks dan penalaran ulang atas teks. Sayangnya, proses lanjutan dari menghafal ini banyak dilupakan oleh beberapa khalayak. Mayoritas dari kita hanya berhenti di proses menghafal.

Ada proses yang tak kalah penting setelah menghafal teks-teks agama (selain al-Quran), yakni memahami dan menelaah teks. Tujuan dari proses pasca menghafal ini ialah tumbuhnya sikap kritis atas teks yang dihafal. Mayoritas dari kita berpendapat bahwa ketika sesorang mampu menghafal teks agama yang banyak, maka ia sudah pas untuk menyampaikannya di depan umum. Hal semacam ini saya kira kurang tepat, karena teks agama juga mempunyai tempat sendiri-sendiri untuk bisa bersesuaian dengan konteks.

Al-Azhar sendiri yang konon dianggap sebagai kiblat ilmu pengetahuan agama tidak membebani para pelajar untuk menghafal teks saja. Tetapi, para mahasiswanya juga ditugaskan untuk menganalisis teks secara serius di suatu jenjang khusus. Untuk jenjang strata satu, fokus pembelajaran di kampus memang lebih banyak untuk menghafal, adapun untuk masa setelah strata satu, pembebanan analisis teks kepada mahasiswa cukup berat.

Saya mengetahui urgensitas dari proses pasca-menghafal dari sidang tesis seorang teman yang berkonsentrasi pada tafsir dan ilmu al-Quran di Universitas al-Azhar, Kairo. Kebetulan penguji sidang tesis saat itu ialah Prof. Abdul Fattah Abdul Ghani al-Awwari, Dekan Fakultas Ushuluddin. Dalam menyampaikan koreksinya di sela-sela sidang, Prof. Awwari berkata: “Saya rasa di pembahasan ini Anda belum berpikir. Anda hanya memindahkan teks, belum menalar isi teks. Bagaimana mungkin seorang mahasiswi program magister melewatkan dan tidak memahami kitab referensi sekaliber Fakhr al-Razi?

Dari kritik tersebut kiranya kita bisa mengetahui bahwa pembebanan materi, referensi teks beserta hafalan yang dibebankan kepada mahasiswa al-Azhar di jenjang strata satu tidak hanya berhenti di level: ‘kaya baca dan hafal.’ Pengayaan referensi yang telah diterima baik dari diktat kuliah maupun referensi pendukung selain diktat, mengharuskan mereka untuk terbiasa menalar kritis di jenjang selanjutnya.

Di sisi lain, Prof. Salim Abu Ashi, salah satu dosen bidang tafsir di kampus yang sama juga  mengatakan bahwa proses mengatakan, tafsir dan terjemah merupakan dua langkah yang bisa mengantarkan manusia mencapai hidayah al-Quran. Adapun proses dari menafsiri al-Quran, terlebih dahulu seorang mufasir mengetengahkan ayat al-Quran kemudian menunjukkan makna tiap lafadz al-Quran baru ke proses selanjutnya yang bernama tafsir. Pemaparan Prof. Salim ini mengingatkan saya dengan beberapa masyarakat Indonesia yang masih mencukupkan diri di level menghafal al-Quran dan beberapa teks agama lain (Hadits, tafsir, fikih dan tasawuf). Banyak dari kita yang masih lupa, ada tujuan mutakhir yang mengantarkan manusia menuju hidayah al-Quran, yakni proses penafsiran.

Bolehkah teks agama selain al-Quran dianalisis ulang?

Pada era gelombang pemikiran yang begitu dahsyat seperti hari ini, kita selalu dituntut untuk meninjau ulang teks agama, mencari pemaknaan segar atas muatan pemikiran dan ide-ide yang dulu pernah diutarakan. Sebab, budaya kita telah mengalami perubahan; dari budaya transmisi lisan dan pengumpulan sumber agama menuju budaya kritik dan penyangsian. Zaman sekarang, tulisan-tulisan yang memakai huruf Arab rawan disamakan dengan al-Quran. Padahal, teks agama (selain al-Quran) relevan menerima kritik, karena sebuah kitab selain al-Quran ‘bersifat tidak suci.’ Bassam Jamal (supervisor proyek ilmu al-Quran perspektif kontemporer) dari Yayasan Mominoun Without Borders mengatakan: “Kitab al-Itqân fi ‘Ulâm al-Qur’ân misalnya, (hampir dianggap) suci karena belum ada karya yang menandinginya sampai era sekarang. ‘Kesucian’ kitab tersebut yang pernah sakral di zamannya, lama-kelamaan terkikis seiring berjalannya waktu, mengingat sifat dari karya manusia itu tidak bisa menandingi kesucian kitab suci al-Quran.”

Dari perkataan Bassam Jamal, kita mempunyai tugas mengupayakan adanya polisem, baik diterima maupun ditolak. Beberapa teks agama yang secara kondisi kultur lingkungan sangat jauh dari kita, harus kita kaji kembali agar tidak terjadi pengulangan yang begitu-begitu saja. Dalam proyek polisem ini, adanya penting kiranya berbekal ilmu agama dan sosial yang kompleks digunakan untuk meninjau ulang teks-teks termaksud.

Jika upaya polisem dan sejenisnya: takwil, interpretasi, dan studi kritik ditiadakan, maka menurut Bassam Jamal yang terjadi adalah pengotak-otakan agama ke berbagai lembaga dan institusi. Jika sudah demikian, maka agama akan dipahami dengan sempit, karena referensi yang bisa memahamkan manusia menuju agama telah disempitkan pemahamannya oleh beberapa kubu sesuai kecondongan pihak yang berkepentingan.

Secara praktis, berpikir kritis ketika membaca teks-teks agama bukanlah sesuatu yang harus dihindari. Al-Quran sendiri tidak menjelaskan semua ayat dengan gamblang supaya manusia berpikir. Terkait benar atau salah hasil pemikiran kita, hanya Tuhan yang mengetahui. Yang jelas, manusia dibebani tugas mendalami dan mengkaji setiap kalam-Nya. Maka dari itu, tidak elok kiranya jika manusia hanya bersikap ‘legowo’ terhadap teks agama yang diterimanya. “Kita harus menggerakkan sejarah melalui pemikiran kita,” begitu kata Hassan Hanafi.

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.