KAIRO—Kamis (28/03) PC GP Ansor Mesir-Fatayat NU sukses menyelenggarakan Lailatul Ijtima’ Nuzulul Qur’an dan Dzikra Syuhada’ Badar. Kegiatan yang bertempat di Sekretariat PCINU ini dibalut dengan pengajian kitab Shahih Bukhari Bab Puasa sekaligus buka puasa bersama yang dihadiri oleh Prof. Dr. Rif’at Fauzy dan Prof. Dr. Jamal Faruq.
Sejak dimulainya open gate oleh panitia pada pukul 14.30 WLK, Sekretariat PCINU perlahan dipadati oleh anggota JQH dan warga Nahdliyin lainnya. Susunan acara diawali dengan pembacaan tahlil sekaligus doa-doa yang dikhususkan untuk para Masyayikh Nahdlatul Ulama.
Seusai tahlilan, kegiatan beralih ke acara inti pada sore itu, yakni pengajian kitab Shahih Bukhori disertai ijazah sanad. Pengajian yang diampu oleh Prof. Dr. Rif’at Fauzy berlangsung seperti pengajian hadis pada umumnya. Terdapat santri yang membacakan matan dan kemudian diberi penjelasan oleh gurunya.
Dalam kesempatan ini, para hadirin mendapat lembaran-lembaran hadis pilihan dan satu lembar ijazah yang diberikan secara gratis oleh panitia. Sekitar lebih dari lima belas hadis yang termasuk hadis-hadis pilihan. Mulai dari yang menjelaskan fadilah menghidupkan bulan Ramadhan, fadilah malam lailatulkadar, sampai hadis yang menerangkan amalan-amalan di sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan.
Pengajian hadis diakhiri dengan penyerahan ijazah kitab Shahih Bukhori oleh Prof. Dr. Rif’at Fauzy. Prosesi ijazahan itu menjadi lonceng bahwa kegiatan akan berlanjut kepada sesi selanjutnya, yaitu muhadarah peringatan Syuhada’ Badar. Muhadarah tersebut disampaikan oleh Prof. Dr. Jamal Faruq.
Bertepatan pada malam Nuzulul Qur’an (17 Ramadhan menurut sebagian Ulama), kita dapat memetik banyak pelajaran dari peristiwa perang Badar. Sebagaimana dalam muhadarahnya, Prof. Dr. Jamal Faruq menyampaikan bahwa kita dapat melihat perang Badar sebagai motivasi dalam berjihad. Di mana beliau mengkategorikan perang Badar sebagai jihad asghar (kecil) dan berperang melawan hawa nafwu sebagai jihad akbar.
Pernyataan Prof. Jamal Faruq di atas selaras dengan apa yang disampaikan Prof. Dr. Rif’at ketika mensyarahkan makna hadis, bahwa puncak waktu untuk meluapkan semangat kita di bulan Ramadhan terletak pada sepuluh malam terakhir. Keselarasan itu seakan memberikan pesan kepada para hadirin untuk lebih memaksimalkan ibadahnya, serta senantiasa berjuang melawan hawa nafsunya pada sepuluh terakhir di bulan Ramadhan. Syukur-syukur, kita tergolong orang-orang yang mendapatkan lailatulkadar.
Acara ini ditutup dengan lantunan selawat yang dibawakan oleh anggota MDS Ansor dan pembagian takjil, serta pemberitahuan kepada hadirin untuk tidak lupa membayar zakat fitrah bersama Lazis NU.
Reporter: Raja Amar Jayakarta











