Plotinus dan Kebutuhan Jiwa Manusia

0 457

Apa jadinya jika dunia terbatas pada hal yang kasat mata? Bagaimana jika hidup cukup terwakili oleh tangkapan inderawi, hanya seputar apa yang terlihat, yang terdekat, yang tercium, atau hanya berkutat pada apa yang didasari oleh kehendak? Barangkali setiap orang memiliki jawabannya masing-masing, dan yang pasti setiap orang berhak pula untuk tak peduli atas pertanyaan-pertanyaan semacam ini. Tapi bagi saya, pertanyaan seperti adalah menarik.

 

Tomy Wong, CEO Victorindo yang sekaligus kini menjadi Ketua Umum Billionare Mindset Indonesia itu memiliki perjalanan hidup menarik. Ia lahir dari keluarga konglomerat, namun ketika ayahnya meninggal dunia, kehidupannya berbalik menjadi 180 derajat. Keluarganya terlibat konflik hak waris yang kemudian membuat ibunya mengalami gangguan jiwa. Dirinya juga sempat mendapat ancaman teror (pembunuhan). Akhirnya dia terpaksa turun ke jalan sebagai penjual koran dan kemudian nekat merantau ke Ibukota demi menyambung hidup dan memperjuangkan nasib keluarganya.

 

Dia memulai dari nol. Dia berucap, “Saya sehari-hari sudah berusaha melamar sana melamar sini sebagai pekerja, sebagai profesional tidak ada yang mau terima. Berulang kali saya lakukan semua adalah kegagalan.”

 

Kegagalan dan getir pahitnya kehidupan seolah begitu akrab dalam kehidupannya. Namun, dia tidak berhenti di sana. justru dengan pahitnya pengalaman itulah dia busa tumbuh kembang menjadi seorang entrepeneur sukses seperti saat ini.

 

Dia bercerita, ketika dia sampai pada titik atas pada kehidupannya, mendapat segala apa yang sebelumnya dia inginkan seperti kesuksesan dalam bisnis, memiliki aset-aset mewah berupa mobil, apartemen dan sebagainya, dia merasa kalau apa yang dia kejar-kejar selama ini hanyalah uang, uang dan uang. Dia mengalami titik kejenuhan. Segala yang ia dapatkan ternyata tak mampu membuatnya damai dan bahagia. Saat itulah terjadi keguncangan batin, bahkan saking gundahnya sampai suatu saat dia berusaha untuk bunuh diri.

 

Kisah Tomy tidak berhenti sampai di situ. Rupanya krisis yang ia rasakan itu membuat keterlahiran baru di dalam hidupnya: sebuah hidup yang lebih dekat dengan nilai dan pemaknaan, seperti pertemanan dan mengedepankan berbagi pada sesama.

 

Tomy Wong begitu inspiratif. Dia membangun sebuah wadah yang dinamakan Indonesia Learning Network. Diharapkan dari sini UMKM dan pebisnis kecil bisa mendapatkan dan menjangkau pengetahuan bisnis secara gratis untuk menghasilkan kesuksesannya.

 

Apa yang terkesan dari cerita Tomy Wong di atas bukanlah ingatan kita akan perkataan orang-orang bahwa uang bukanlah segalanya, karena itu adalah pesan moral yang cukup familiar, bukan? Namun, hemat saya yang lebih menarik untuk diamati adalah bagaimana manusia ternyata tidak benar-benar tahu akan dua hal: pertama, apa yang sebenarnya benar bagi dirinya dan kedua, apa yang benar-benar pasti membuatnya bahagia sehingga layak untuk dikejar, diinginkan dan diperjuangkan.

 

Jika kita lihat secara saksama dalam sejarah agama dan pemikiran, maka akan kita temukan bahwa keduanya hadir ke dalam realitas kehidupan manusia untuk menyelesaikan dua hal di atas. Descartes, sang pencetus filsafat modern, telah tenggelam di dalam pengembaraan filosofis saat ia mencari apa itu kebenaran. Dia meragukan segalanya. Dia ingin menyangsikan penampakan lahiriah semesta karena curiga jangan-jangan apa yang terpahami melalui indera selama ini adalah bayangan semata. Tepat saat kita benar-benar yakin ketika bermimpi, kita menemukan banyak hal di dalamnya dan ternyata setelah terbangun semuanya tiada. Ia curiga jangan-jangan semua ini adalah ilusi.

 

Descartes sungguh bersusah payah dalam menjalani kecemasan eksistensial untuk menuju apa itu yang benar sejati, sehingga pada akhirnya ia pun berhenti pada titik final metodologis: cogito ergo sum! Sekalipun ia menyangsikan segala hal, namun dia tidak bisa menyangsikan dirinya yang meragu itu.

 

Persoalan mengenai apa itu kebenaran dan yang sejati juga pernah disinggung oleh Plotinus, seorang filsuf yang hidup seribu tiga ratus tahun sebelum Descartes. Sama seperti Plato, Plotinus begitu berhasrat untuk mencari tahu apa itu yang absolut. Menurut Plotinus, asal usul segala sesuatu adalah sesuatu yang transenden, kesatuan asali dari ada dan pemikiran yang kemudian ia sebut sebagai yang satu (to Hen), yaitu kemungkinan pertama dan terdalam dari segala ada dan pemikiran.

 

Ketika memahami Plotinus, kita akan menemukan semacam kerumitan perihal konsep mekanisme kehidupan, karena dia membedakan mana itu roh (Nus) dan mana itu jiwa (Pshykhe). Namun poinnya sama, bahwa roh dan jiwa itu berasal dari Yang Satu itu berkat kodrat-Nya. Lalu apa hubungan antara jiwa dan dunia materi? Di situlah menariknya.

 

Plotinus berpendapat bahwa dunia materiil, atau alam yang badani dan kasat mata ini pada dasarnya memiliki citra yang negatif, penuh kegelapan, hampir mirip dengan pandangan Plato yang mengatakan bahwa materi itu semacam ruang kosong (khora) belaka. Materi akan selamanya gelap dan negatif andai saja ia tak mendapat pancaran dari jiwa.

 

Di dalam bukunya, Enneadeis Plotinus meneliti hubungan antara jiwa dan tubuh. Jiwa manusia ternyata ambivalen serta bipolar, sebab di satu pihak jiwa-jiwa individual mengalami suatu dorongan rohani untuk mengarahkan perhatian dan cintanya kepada asal-usulnya (jiwa dunia) dan di lain pihak terdapat juga suatu daya dalam dirinya untuk berkiblat pada dunia yang lebih rendah. (Van der Weij, Filsuf-Filsuf Besar tentang Manusia)

 

Kemanakah arah yang akan ditempuh oleh jiwa, jika jiwa-jiwa tenggelam di dalam dunia yang lebih rendah? Ia akan sukar untuk berpikir lagi dengan murni, diserbu oleh asmara, nafsu, serta penderitaan. Begitulah cara Plotinus memahami jiwa.

 

Jika materi, dalam pandangan Plotinus, tidak begitu memiliki peran positif, atau bisa saja berdampak positif pada pembangunan dunia asalkan masih dibersamai dengan pancaran jiwa, lantas sesuatu apakah yang berada pada titik paling luhur yang semestinya dicapai oleh manusia? Di sinilah yang menarik dari pemikiran Plotinus. Titik ultima atau kedamaian terakhir itu bernama ekstasis, yakni perjumpaan dengan Tuhan yang melampaui indera manusia. Pneuma Tuhan turun atas roh manusia dan mengakibatkan suatu kesatuan cinta yang mesra dan tak terperikan dengan Dia.

 

Ekstasis dicapai dengan cara memandang Tuhan, dengan kontemplasi akan Tuhan. Hal ini diupayakan dengan keluar dari dirinya, suatu penyerahan diri, dan suatu kerinduan untuk bertatapan dengan Ilahi.

 

Ada benarnya apa yang telah dikatakan oleh Plotinus, bahwa jiwa cenderung bipolar. Satu sisi ia merindukan asal-usul yang ilahiah itu, tapi kita tidak sangsi bahwa jiwa itu kini bergabung dan terikat oleh materi: badani. Setiap kita tak sangsi pula bahwa pada materi itu tersimpan aneka ragam sifat bawaan, seperti hasrat, asmara, cinta-kasih, dan ingin.

 

Lalu apakah mungkin jiwa tersebut mampu melepaskan diri dari segala bawaan materi, dengan begitu pesimis bahwa tidak ada kebaikan sama sekali pada hal-hal material? Tidak hanya tidak mungkin, justru tugas manusia adalah mengimbangi antara tuntutan jiwa dan materi secara bersamaan. Untuk menuju ke sana, justru agama dengan tegas memberi jalan yang penuh optimis bahwa manusia, dengan satu kesatuan antara jiwa dan materi, jika tunduk pada ajarannya tak ada keraguan ia akan mencapai titik kedamaian.

 

Selain bipolar, jiwa juga ambivalen. Di sinilah kita melihat pengalaman Tomy Wong misalnya, yang karena telah berangkat dari situasi hidup yang sulit kemudian memilih materi (uang) sebagai jawaban problem kehidupannya. Ternyata, setelah ia sampai pada titik tersebut problemnya tak betul-betul terselesaikan. Karena sampai kapan pun materi tetaplah materi, dan secara alami jiwa juga tak bisa kenyang dengan materi. Jiwa menginginkan lebih dari materi, sesuatu yang lain, mungkin ekstasis, seperti yang dikatakan Plotinus, atau mungkin dengan cara yang lain.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.