Sejak berabad-abad silam para ulama telah berupaya memahami rahasia di balik adanya dua huruf ي dalam kat أييد , hilangnya huruf و dari kataيمح , perubahan huruf ا menjadi و dalam صلوة , serta misteri lain yang ada dalam kajian ortografi mushaf al-Quran. Ortografi ini dinamai dengan Rasm Utsmani, untuk membedakannya dari Rasm Qiyasi (ortografi konvensional) dan juga Rasm Arudli (ortografi prosodikal).
Diskursus ini dimulai sejak awal abad kedua Hijriah. Kajian rasm dipelopori oleh para imam qiraat atas sejumlah faktor, di antaranya: kesesuaian rasm menjadi tolok ukur validitas suatu qiraat. Faktor lain ialah perbedaan di antara mushaf-mushaf Utsmani yang dikirim ke berbagai wilayah Islam. Perbedaan ini berupa cara penulisan sejumlah kata yang menyelisihi kaidah tulis-menulis yang dibakukan oleh para pakar bahasa di Basrah dan Kufah. Sayangnya, naskah-naskah tertua dalam bidang rasm yang lahir di periode ini telah sirna dan hanya bisa ditemui dalam kutipan kitab-kitab faharis (indeks) atau teks-teks yang dinukil para ulama.
Setelah abad kedua, para ulama terus berupaya mengidentifikasi karakteristik Rasm Utsmani. Mereka mencermati fenomena yang terjadi dalam rasm, kemudian memetakannya ke dalam kaidah-kaidah. Rumusan paling masyhur menyebutkan adanya lima kaidah: penambahan, pengurangan, penggantian, penulisan hamzah, dan kaidah menyambung atau memutus kata. Sebagian ulama seperti al-Suyuthi, menambah kaidah keenam: kata yang memiliki dua atau lebih qiraat dan ditulis dengan salah satunya.
Pasca karya-karya awal yang lebih menitikberatkan pada identifikasi Rasm Utsmani, baru di abad kelima kita akan mulai mendapati karangan yang membahas asal-usul fenomena rasm berupa upaya ijtihad dalam pencarian alasan di balik kemunculannya. Bahkan, ada sebagian yang meyakini bahwa fenomena rasm ini lahir akibat kekeliruan sebagian Sahabat.
Barangkali Yahya bin Ziyad al-Farra (w. 207 H) adalah yang pertama mengutarakan hal ini. Beliau menemukan inkonsistensi dalam penulisan mushaf, seperti تغنيyang ditulis tanpa ي (QS al-Qamar: 5) dan dengan ي di ayat lain (QS Yunus: 101). Lalu disimpulkan bahwa ini adalah bukti ketidakcakapan generasi awal dalam urusan tulis-menulis.
Ucapan beliau sejalan dengan Ibnu Qutaibah, Abu Bakr al-Baqillani, dan Ibnu Khaldun. Dalam salah satu bab Muqaddimah-nya, Ibnu Khaldun memaparkan bahwa tulis-menulis adalah suatu produk kebudayaan. Bangsa Arab mempelajarinya dari Himyar. Namun, karena kebudayaan Arab nomaden dan jauh dari pusat peradaban, tradisi tulis-menulis mereka menjadi terbelakang. Ibnu Khaldun dengan gamblang mengatakan bahwa alasan para Tabiin mengikuti secara persis rasm para Sahabat adalah untuk tabaruk semata.
Pandangan pertama ini, selain menuai kritik, juga melahirkan antitesis yang menyatakan bahwa fenomena rasm mengandung rahasia yang beralasan dengan bukti sebuah kaidah linguistik masyhur yang berbunyi, “Perubahan bentuk morfologis kata, menandakan adanya perubahan makna.”
Pandangan kedua meyakini bahwa perbedaan yang terjadi dalam Rasm Utsmani mengandung makna-makna tertentu. Pionir mazhab ini adalah Abu al-Abbas Ahmad bin Muhammad bin Utsman al-Azdiy, atau lebih dikenal sebagai Ibnu al-Banna al-Marakeshi, seorang ulama ilmu logika sekaligus praktisi tasawuf. Karya beliau, ‘Unwân al-Dalîl min Marsûm Khatth al-Tanzîl’, menghadirkan konstruksi logis sekaligus penerapannya kepada fenomena rasm, bahkan menjadi rujukan primer bagi penganut mazhab ini.
Ibnu al-Banna menerangkan dasar-dasar bagi pandangan beliau dalam mukadimah kitabnya. Beliau memaparkan arti dari artikulasi hamzah dan huruf mad (alif, wau, ya), lalu menautkan antara fenomena rasm yang terjadi pada huruf-huruf tersebut—baik penambahan, pengurangan, penggantian, dan sebagainya—dengan kosmologi sufi. Anomali yang terjadi dalam rasm adalah isyarat terhadap makna-makna eksistensial, baik itu al-mulk, al-malakut, al-jabarut, atau pun al-‘izzah.
Di antara contoh yang beliau jabarkan adalah penambahan huruf يdalam kata aydi والسماء بنينها بأييد(QS al-Dzariyat: 47) adalah untuk membedakan antara الأيد yang bermakna kekuatan, dengan أيديbentuk plural dari tangan. Dalam penciptaan langit ini, tentu kuasa Allah lebih layak mengejawantah dibanding makna kedua. Oleh karena itu ditambahkanlah ya’ sebab keistimewaan idrak malakuti yang dikandung lafaz ini.
Sedangkan rahasia dari penghapusan و dari empat kata kerja: ويدع الإنسان(QS al-Isra’: 11), ويمح الله(QS al-Syura: 42), يوم يدع الداع (QS al-Qamar: 6), سندع الزبانية(QS al-Alaq: 18), adalah penekanan bahwa kejadiannya berlangsung dengan cepat, ringan bagi subjek dan berdampak besar dalam keberadaan. Rahasia-rahasia ajaib inilah yang oleh sebagian kalangan diyakini sebagai mukjizat rasm. Abdul Hayy al-Farmawi menyatakan bahwa detail-detail maknawi ini, entah disengaja atau tidak oleh para Sahabat, tetaplah menjadi takwil yang dapat diterima dan memperkaya penghayatan terhadap rasm.
Namun pandangan ini tidak luput dari bantahan. Ghanim Qadduri menilai mazhab al-Marakeshi, meski berupaya menggambarkan dengan logis, justru terkesan memaksa. Menurutnya, pendekatan ini tidak berlandaskan fakta-fakta ilmiah dan pemahaman sejarah, melainkan hasil dari permenungan pribadi. Kebenaran kaidahnya tidak mampu diukur, dan ia diungkapkan dalam cara yang sulit dipahami. Tidak mungkin terlintas dalam benak Sahabat satu pun dari makna-makna ini. Dia melanjutkan, “Satu kesimpulan yang sahih; yang dituntun oleh argumentasi ilmiah yang jelas, lebih baik dan berguna untuk memahami persoalan ketimbang semua yang dikatakan oleh al-Marakeshi dan diulang-ulang generasi setelahnya.”
Di sisi lain, Muhammad Thahir al-Kurdy malah menafikan keduanya. Ia menafikan semua penafsiran selain yang keluar dari lisan Sahabat. Benar, beliau meyakini bahwa rasm, sebagaimana qiraat, memiliki mukjizat. Tetapi mengapa Rasm Utsmani tidak sama dengan Rasm Qiyasi? Hanya para Sahabat yang tahu jawabannya. Jika ulama generasi awal tidak mengerti rahasia di balik rasm, bagaimana mungkin ulama yang datang ratusan tahun setelahnya bisa menjelaskan hal ini?!
Yang tersisa bagi kita hanyalah menerima dan mengikutinya. Dengan demikian, rahasia mukjizat rasm, arti dari ahruf sab’ah dan misteri-misteri lain yang ada dalam mushaf tidak bisa diketahui, kecuali jika para sahabat bangkit menjalaskan dari kubur. Dalam Kasyf al-‘Amâ wa al-Rayn, Muhammad al-‘Aqib menulis,
| والخط فيه معجز للناس | ۞ | وحائد عن مقتضى القياس |
| لا تهتدي لسره الفحول | ۞ | ولا تحوم حوله العقول |
| قد خصه الله بتلك المنزلة | ۞ | دون جميع الكتب المنزلة |
| ليظهر الإعجاز في المرسوم | ۞ | منه كما في لفظه المنظوم |
Tulisan di dalamnya (mushaf) menjadi mukjizat bagi manusia, Ia tidak tunduk pada tatanan kaidah
Para pemuka tidak mampu memahaminya, pun akal tak sanggup menjangkaunya
Telah Allah istimewakan ia dengan kemuliaan tersebut, dari kitab-kitab samawi lain
Agar tampak kemukjizatan pada apa yang tertulis, sebagaimana pada lafaznya yang tertata
Mungkin menarik jika kita menilik penjelasan M. Quraish Shihab mengenai mukjizat dalam bukunya, Kaidah Tafsir. Mukjizat terambil dari kata a’jaza yang berarti melemahkan. Ia didefinisikan oleh para ulama sebagai sesuatu yang luar biasa yang tampak pada diri seseorang yang mengaku nabi/utusan Allah.
Dari definisi ini, ada hal yang mesti digarisbawahi yaitu setiap mukjizat mengandung tantangan dan hanya ditujukan kepada yang ragu. Maka bagi kaum muslim yang sudah yakin, al-Quran tidak berfungsi sebagai mukjizat, tetapi ia adalah tanda kebenaran Nabi Muhammad SAW. Kaum muslim hendaknya tidak menitikberatkan pandangan mereka kepada kemukjizatan al-Quran, tetapi hendaklah lebih banyak tertuju kepada hidayah-Nya.
Editor: Hamidah
Ilustrator: Khairuman










