KAIRO—Minggu (04/07) Dalam rangka memperluas syiar dan jejaring PCINU Mesir, Pengurus Harian menggelar acara sarasehan bersama Ketua PCNU Lumajang. Sarasehan turut pula tersisip Penandatanganan Memorandum Kesepahaman Tridharma Perguruan Tinggi antara Institut Agama Islam Syarifuddin Lumajang dengan PCINU Mesir. Bersama Ketua Tanfiziah dan Pengurus Harian, acara yang terselenggara di Sekretariat PCINU Mesir ini ramai dihadiri oleh para Ketua Lembaga dan Badan Otonom.
Pukul 20.00 WLK, sarasehan langsung dibuka sekaligus dimoderasi oleh Mas Haidar Syauqi selaku Sekretaris Jendral PCINU Mesir. Dalam pembukaannya, Mas Syauqi berupaya menyambut para tamu dengan memperkenalkan setiap lembaga dan badan otonom yang berada di tubuh PCINU Mesir saat ini. Perkenalan tersebut bermaksud agar PCINU Mesir kiranya dapat mengambil ibrah dari PCNU yang berada di Indonesia, terkhusus PCNU Lumajang.
Seusainya perkenalan, Mas Syauqi memberikan kesempatan untuk sambutan kepada K. H. Faiz Husaini selaku Ketua Tanfiziah PCINU Mesir. Dalam sambutannya, Pak Faiz sedikit menceritakan profil dan peran PCINU Mesir di kalangan Masisir. “Banyak para santri yang baru aktif di NU ketika sampai di Mesir, walaupun ketika di Indonesia mereka hanya menjalani amaliah NU saja, karena mungkin pondok mereka yang terafiliasi oleh NU. Hadirnya PCINU di Mesir merupakan upaya mendekatkan NU di kalangan Masisir dan kancah internasional. Paling tidak, kita berusaha menjaga ke-NU-an kita dari Indonesia agar tidak luntur,” ujar Pak Faiz.
Tak hanya itu, Pak Faiz juga menyampaikan bahwa PCINU Mesir sebelumnya telah menandatangai Memorendum of Understanding (MoU) dan bekerja sama dengan beberapa perguruan tinggi: Universitas Tribakti, UNU Jakarta, dan UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Beliau menambahkan, kerja sama seperti ini merupakan dampak positif yang membuat NU tetap eksis sebab kebiasaan warga NU yang suka silaturahmi antar kiai-kiai, santri-kiai, dan santri-santri.
Setelah rampungnya sambutan dari Pak Faiz, Mas Syauqi akhirnya mempersilakan K. H. Muhammad Darwis selaku Wakil Rektor Institut Agama Islam (IAI) Lumajang untuk menyampaikan kesan-pesannya kepada hadirin. Kiai Darwin memulainya dengan mengucap syukur dan terima kasih kepada PCINU Mesir atas sambutan hangatnya ala NU, yaitu selalu diiringi guyonan. Kemudian, Beliau menjelaskan secara singkat profil dan sejarah Institut Agama Islam Lumajang. Katanya, Institut ini berawal atau lahir dari rahim Pondok Pesantren Syarifuddin sejak tahun 2004. “Sampai saat ini, IAI Syarifuddin Lumajang memiliki tiga fakultas (tarbiah, ekonomi Islam, dan akuntansi) dengan tujuh prodi di jenjang sarjana dan satu prodi di pasca sarjana,” ucap Kiai Darwin.
Selain membicarakan IAI Lumajang yang mahasiswanya lebih dari seribu, Kiai Darwin yang juga selaku Ketua PCNU Lumajang sedikit banyak bercerita tentang pengalamannya selama berkecimpung di struktural NU. Beliau mengatakan bahwa para Muassis NU mendirikan NU tidak lain untuk menebar kebaikan dan kebermanfaatan, dimana kedua hal itu yang menjadi faktor eksistensi NU sampai sekarang. “Sebagai Nahdliyin, kita harus bergerak mandiri dan berdaya digdaya, apalagi NU memiliki program yang biasa kita sebut terus dalam doa: Salmatan fi ad-Din yang bermakna kita harus sejalan dengan ahlusunah waljamaah an-Nahdliyah, wa ’fiyatan fi al-Jasad yang bermakna untuk membuat program-program kesehatan, wa ziydatan fi al-Ilm yang bermakna untuk membangun serta memperjuangkan pendidikan, dan terakhir barakatan fi ar-Rizq yang bermakna untuk meningkatkan ekonomi masyarakat,” lanjut Kiai Darwis.
Setelah Kiai Darwis menutup ceritanya, Mas Syauqi membuka kesempatan sesi tanya-jawab kepada para hadirin. Terdapat pertanyaan dari Mas Afif selaku perwakilan LTN dan Mas Fayyadh selaku utusan Anshor, dimana keduanya dijawab oleh Kiai Darwis dengan tanggapan yang cukup mencerahkan dan sedikit guyonan. Semisal, guyon yang dilempar Beliau kepada hadirin berupa STMJ, yaitu singkatan dari “Sudah Tua Masih Jomblo.” Sarasehan ditutup dengan Penandatanganan MoU dan pemberian cendera mata dari PCINU Mesir kepada Kiai Darwis. (Raja Amar Jayakarta)











