Tiga Tokoh yang Membincang Kemukjizatan al-Quran

0 317

Saat membincang i’jaz al-Quran, biasanya kita tidak mampu melepaskan diri dari dialektika seputar diskursus ilmu yang diproduksi oleh kajian tersebut. Tepatnya di ujung tahun kedua Hijriyah, kajian tentang ijaz al-Quran menjadi tren bagi ulama kita kala itu. Selain sebagai prinsip elementer dalam nubuwat, para ulama juga mencoba mendedahnya untuk menemukan produk-produk keilmuan yang dikandung oleh al-Quran itu sendiri, termasuk kesustraan. Dalam kitab Mu’tarak al-Aqrân fi I’jâz al-al-Qur’ân, Imam Suyuthi menyebutkan bahwa kemukjizatan al-Quran disebabkan oleh dua hal. Pertama, sisi kemukjizatan yang murni disebabkan oleh dzat atau al-Quran itu sendiri. Kedua, altahdiyah, yakni ketidakmampuan manusia untuk menandinginya. Kemudian, lanjut Imam Suyuthi, penyebab pertama i’jaz ialah keterkaitan dengan kefasihan kalimat, balaghah, ataupun kedalaman makna yang terkandung di setiap ayatnya.

Tulisan kali ini akan membahas seputar balaghah sebagai sebuah diskursus ilmu yang memiliki keterkaitan sangat dekat dengan al-Quran. Seberapa jauh dan berhasilkah para ulama balaghah (yang selanjutnya akan saya sebut dengan balaghiyin) kita dalam mendedah teori-teori kesusastraan atau semantik yang terdapat dalam al-Quran?

Tiga aktor yang berhasil disandingkan oleh Muhammad Zaghlul Salam dan Muhammad Khalfallah dalam bukunya, Tsalâts Rasâ’il fi I’jâz al-Qur’ân adalah al-Rummani (mutakalim Muktazilah), al-Khattabi (muhadits), dan terakhir adalah al-Jurjani (sunni, balaghiyin). Ketiganya memiliki pilihan yang sama, yaitu menjadikan bahasa dan sastra sebagai salah satu gerbang dalam meneliti i’jaz al-Quran.

Al-Khattabi berpendapat bahwa i’jaz al-Quran terkandung di dalam lafaznya. Pendapat tersebut senada dengan pendapat al-Jubbai sebagaimana yang disampaikan oleh Syauqi Dhayif. Al-Rummani mengungkapkan bahwa i’jaz al-Quran terdapat di dalam makna ayatnya. Yakni, ayat-ayat yang mengandung kabar mutlak terkait perkara-perkara mendatang yang belum terjadi dan bersifat melampaui batas akal manusia, atau yang biasa dinarasikan dengan amrun khâriq lil ‘âdah. Al-Rummani sendiri membagi balaghah menjadi tiga karakter; balaghah yang memiliki sifat kesusastraan tinggi, sedang, dan dasar. Ia menjabarkan bahwa ada sepuluh teori di dalam pembahasan balaghah, yaitu; ijaz (kesederhanaan kalimat), tasybih (metafor), istiarah, altalaum, alfawashil, altajanis, altashrif, altadlmin, almubalaghah, dan husnul bayan (retorika yang indah).

Kemudian yang terakhir adalah Abdul Qahir al-Jurjani. Ia memiliki pendapat yang berbeda dari kedua tokoh di muka. Ia berpendapat bahwa i’jaz al-Quran terletak pada struktur kalimat dan makna yang terkandung pada struktur kalimat tersebut, yang artinya bukan terletak pada lafaz ataupun makna. Teori yang diusung oleh al-Jurjani ini disebut dengan teori nazam. Sebuah teori yang menegaskan bahwa keindahan kalimat dan batasan ayat tidak termasuk dalam kategori i’jaz al-Quran. Dengan demikian, ia berpendapat bahwasa semua kefasihan lafaz bukanlah nazam dan juga bukan termasuk sebagai i’jaz al-Quran. Hal tersebut dikarenakan kefasihan dari sebuah lafaz tidak dapat dilihat dari lafaz itu sendiri, akan tetapi meninjau kedudukan lafaz tersebut pada sebuah kalam atau ayat.

Bagi saya, baik al-Khattabi, al-Rummani, ataupun al-Jurjani telah berhasil untuk mendekati batas i’jaz al-Quran di zamannya. Mengapa di zamannya? Sebab saya masih mempertanyakan: andaikan mereka bertiga hadir hari ini, mungkinkah mereka mampu untuk mendedah i’jaz al-Quran lebih jauh, sehingga mampu menginterpretasikan pustaka kesusastraan lebih luas dan lebih tinggi? Bukankah al-Quran ialah kitab sastra terbesar?

Tidak dielakkan bahwa salah satu sebab diturunkannya al-Quran adalah untuk menandingi syair-syair jahili kala itu. Banyak ayat al-Quran yang secara lugas mengabarkan tentang tantangan tersebut, misal saja QS al-Baqara: 23-24. Kemudian, jika al-Quran mengemban sebuah visi sebagai “penanding” syair jahili kala itu, maka dapat saya simpulkan bahwa intuisi murni bangsa Arab sudah menjadi malakah yang tinggi bagi mereka jauh sebelum kitab suci kita diturunkan. Oleh sebab itu, jika kajian i’jaz al-Quran hanya berkembang hingga abad ketujuh Hijriyah dan masih mandek sampai hari ini, lantas, dimana letak saliqah yang terus menerus dibanggakan oleh bangsa Arab? Bahkan, jika boleh meminjam diksi Adonis, ia mengatakan bahwa ada kediktatoran situasi dan kondisi dalam regenerasi bangsa Arab sebab malakah yang dimilikinya tersebut.

Ini merupakan suatu pertanyaan yang hanya bisa dijawab oleh bangsa Arab. Sebab merekalah sang pemilik bahasa al-Quran. Mengapa ‘ajamy (non-Arab) tidak mampu? Hal tersebut disebabkan karena permasalahan balaghah, pun kesusastraan adalah pembahasan yang menggunakan bashirah (mata hati) dan intuisi hanya mampu dipahami dengan baik oleh para penutur bahasa al-Quran.

Sejarah mencatat kaul Ibnu Salam, al-Ashmai, dan Ibnu Khaldun yang mengatakan bahwa syair melemah ketika Islam datang. Meski tidak dapat dimungkiri bahwa ada para penyair muhadlramun (yang hidup pada zaman Jahiliah dan Islam), namun tetap saja, nilai keindahan sastra menyempit. Sastra yang baik dan indah hanyalah apa yang sesuai dengan nilai-nilai yang ditentukan oleh al-Quran. Pembatasan kriteria baik-buruk seperti ini merupakan di antara faktor yang melemahkan kemampuan ‘bebas’ para penyair kala itu.

 

 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.