Zikir, Makrifah dan Semarak Tradisi Pembacaan Selawat Nabi

0 224

 

Oleh: SAS Center NU Mesir

Al-Imam Abdul Wahab al-Sya’rani menyebutkan, bahwa kitab al-Akhlaq al-Matbuliyah, karangannya merupakan catatan ringan berupa deskripsi kehidupan dari 70 ulama besar di masanya. Di antara mereka pernah berguru langsung kepada Syekh Ibrahim al-Matbuli al-Anshari. Imam Sya’rani pun memperoleh didikan langsung dari Syekh Ibrahim. Sehingga beliau merasa bangga dan bersyukur bisa bermulazamah dengan gurunya itu.

Syekh Muhammad al-Syarwi merupakan salah satu murid Syekh Ibrahim yang dikenal alim dan ummi. Dikisahkan sekalipun beliau tidak dapat membaca dan menulis, Syekh al-Syarwi masyhur sebagai tokoh yang memiliki kedalaman ilmu syariat. Beliau juga mendapatkan julukan al-Arif billah al-Muhammadi lantaran mendapatkan pengajaran serta didikan langsung dari Nabi Muhammad SAW.

Bimbingan dari Rasulullah SAW itu tidak didapatkannya secara seketika, akan tetapi melalui tahapan mujahadah berikut petunjuk yang didapatkan dari guru-guru sebelumnya.

Seorang guru tarekat kaprahnya mempunyai dua macam metode pengajaran yang dipraktikkan terhadap murid-muridnya. Metode pertama, al-ta’lim. Yaitu bentuk pengajaran teoritis yang disampaikan sang guru terhadap salik. Biasanya guru akan memberikan amalan berupa wirid harian yang selayaknya diamalkan oleh murid. Setelah murid mengamalkannya secara berkala, ia akan mencapai suatu tingkatan tertentu. Sedangkan metode yang kedua, al-tarbiyah yakni guru berperan aktif dalam menjaga konsistensi murid di dalam menjalankan perintah dan menjauhi larangan-Nya. Sang guru benar-benar menjadi pembimbing perjalanan spiritual murid. Bilamana semangat ibadah murid sedang turun, guru akan memperingatkan agar menaikkan kembali kualitas spiritualnya. Guru yang demikian ini lantas dikenal sebagai mukasyif atau bisa menyingkap perkara yang tak kasat mata.

Imam asy-Sya’rani berkisah bahwa ia pernah bermulazamah bersama gurunya itu sekitar 20 hari lamanya. Ketika membersamai sang guru, Imam al-Sya’rani tidak pernah melihat keseharian Syekh al-Sanawai terlepas dari zikir dan membaca al-Quran. Lantas gurunya itu berpesan agar senantiasa mengisi waktu dengan dua amalan pokok tersebut sebab tiada waktu yang berguna bagi seorang salik selain mengisinya dengan perkara ibadah.

Di antara ibadah yang paling utama menurut Syekh al-Sanawi adalah berzikir dan membaca al-Quran. Masih menurut Syekh al-Sanawi, sorang salik yang sudah mencapai tingkatan makrifah akan mendapatkan hiburan dan ketenangan dengan hanya membaca al-Quran. Alasannya menurut beliau seolah yang dibaca dan diperdengarkan adalah benar-benar firman Allah SWT.

Imam al-Sya’rani kemudian bercerita tentang sosok Syekh Nuruddin Ali al-Syuni. Beliau dikenal sebagai tokoh yang membumikan tradisi majelis pembacaan selawat. Pada awalnya, beliau mengadakan majelis selawat itu dimulai dari Masjid al-Azhar hingga masjid Ahmad Badawi, Tanta. Inisiatif untuk menggelar majelis selawat itu didapatkannya setelah mendapatkan perintah langsung dari Rasulullah SAW.

Imam al-Sya’rani mengisahkan bahwa ketika usia Syekh Ali al-Syuni menginjak 40 tahun, Nabi Muhammad SAW memerintahkannya untuk menyemarakkan majelis pembacaan selawat di seluruh pelosok negeri. Hingga umur Syekh al-Syuni mencapai 121 tahun, beliau tetap konsisten mengamalkan perintah Rasulullah SAW ini. Di antara karamah Syekh Ali al-Syuni adalah kemampuannya menempuh jarak jauh dengan waktu tempuh yang cukup singkat. Bahkan beliau setiap tahun dapat melaksanakan ibadah haji dengan perantara hanya berjalan kaki.

Suatu ketika Imam al-Sya’rani bertemu dengan salah satu murid Syekh Nuruddin Ali al-Syuni di Hijaz, yakni Syekh Abdullah al-Yamani. Majelis pembacaan selawat yang diprakarsai oleh Syekh Ali al-Syuni lantas diamalkan juga di sekitar kompleks Masjid Nabawi. Pada saat Syekh Abdullah al-Yamani memimpin pembacaan al-Fatihah yang dikhususkan kepada gurunya itu, Imam al-Sya’rani melihat Rasulullah SAW berdiri tepat di atas makam seolah memberikan penghormatan terhadap Syekh Nuruddin Ali al-Syuni. Sampai saat ini, ramainya tradisi pembacaan selawat Nabi di Mesir, Hijaz hingga seluruh penjuru negeri adalah berkat inisiatif beliau.

(Disadur dari penjelasan ngaji kitab al-Akhlaq al-Mathbuliyah

Hakikat Ilmu dan Pengantar Definisi serta Peranan Ilmu KalamIlmu Kalam adalah rangkuman tentang postulat keyakinan mendasar, sehingga disebut juga dengan ilmu tauhid atau akidah. Definisi ilmu yang dimaksud di sini bukan bermakna pengetahuan mutlak sebagaimana disinggung oleh pengarang kitab al-Tahdzib, al-Imam al-Taftazani. Seseorang dikatakan berilmu atau alim akan suatu fan keilmuan tertentu bilamana mampu menguraikan perkara-perkara mendasar dari awal hingga akhir beserta detil permasalahannya. Maka, melalui definisi singkat ini makna ilmu berbeda dengan seseorang yang memiliki maklumat saja sebab terkadang suatu maklumat bisa saja berbeda bahkan bertentangan dengan maklumat lainnya. Sedangkan ilmu bersifat rigid juga dinamis menyikapi persoalan yang datang belakangan.

Referensi utama ilmu kalam atau akidah disandarkan atas nas al-Quran dan Hadits yang sahih. Di samping itu, pondasi dari rumusan ilmu kalam juga diambil dari ijmak dan dalil penalaran atau logika yang proporsional. Alasan empat pondasi itu digunakan lantaran ilmu kalam dipelajari demi menyempurnakan keyakinan tauhid. Maka, keyakinan seorang mukalid misalkan tidak dianggap berdasar pengetahuan akan ilmu kalam. Lantaran keyakinan mereka disandarkan kepada orang yang menyampaikan berita tentang ilmu akidah, sedangkan mukalid tidak memiliki landasan dalil yang kokoh atas keyakinannya. Rumusan ilmu kalam diharuskan bersumber dari dalil pasti.

Ilmu kalam menjadi penting untuk dipelajari sebagai bekal menghadapi syubhat keyakinan ataupun ideologis dari kelompok yang bersebrangan. Sebagaimana suatu adagium menyebutkan,”Apabila suatu penyakit dapat diketahui (gejala dan perkembangannya), maka akan mudah untuk menemukan penawarnya.” Maka, ilmu kalam sangat berperan dalam menjaga keselamatan akidah umat Islam agar tidak mudah dipengaruhi oleh aliran keyakinan atau ideologi yang bertentangan dengan pondasi ajaran Alquran dan hadis.

(Disadur dari penjelasan ngaji kitab Taqribu al-Maram)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.