PCINU Mesir sukses menggelar Halakah Kebangsaan Menyongsong 1 Abad NU di Aula KAHHA. Acara bertemakan Menghayati Kiprah Juang Sang Muassis sebagai Spirit Berjam’iyyah PCINU Internasional ini diselenggarakan bertepatan dengan Peringatan Hari Pahlawan (10/11). Turut hadir sebagai tamu undangan, Dra. Zannuba Ariffah Chafshoh, M.P.A., (Direktur Wahid Foundation), Ibu Tri Mumpuni Wiyatno (Ilmuwan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro) dan Habib Ali Hasan al-Bahar Lc., MA (Ketua Pengurus LAZISNU PBNU).
Ibu Yenny Wahid, sapaan akrab Dra. Zannuba Ariffah Chafshoh, M.P.A., selaku pembicara inti menceritakan tujuan utama kunjungannya ke Negeri Seribu Menara, Mesir tiada lain adalah dalam rangka menghadiri forum COP27. Konferensi tingkat tinggi yang membincang perihal problematika perubahan iklim global tersebut dilaksanakan di Sharm el-Sheikh. Meski demikian, ia tetap berusaha menyempatkan diri untuk menyapa diaspora Indonesia di Mesir.
Dalam pemaparan putri presiden RI ke-4 itu perubahan iklim sebagai tranding topic yang sering dibicarakan akhir-akhir ini, disinyalir berdampak besar terhadap ekosistem manusia. Tidak sedikit negara yang terkena imbas dari dampak tersebut. Salah satunya Florida yang kerap menjadi sorotan media sebab kebakaran hutan yang melanda daerah setempat. Belum lagi, berita hangat yang datang dari Negeri Dua Nil, Sudan. Puluhan ternak mati setelah dilanda kekeringan berkepanjangan.
Lebih lanjut, Ibu Yenny menjelaskan, upaya dalam mengatasi laju eskalasi perubahan iklim dapat dilakukan dengan sosialiasi terkait pentingnya penghijauan. Proyek penggundulan hutan yang menjadi salah satu pemicu climate change harus segera dihentikan. Setidaknya ada dua negara yang sedang on track mengupayakan hal tersebut, yaitu Indonesia dan Malaysia. Sebuah ikhtiyar memastikan paru-paru dunia tetap terjaga. Harapannya, tahun 2030, perubahan iklim mencapai emisi 0%.
Berkaitan dengan polemik perubahan iklim, NU di bawah nahkoda K.H. Cholil Yahya Staquf baru-baru ini menginisiasi dibentuknya NU Women. Sebuah wadah beranggotakan para aktivis Nahdliyat yang bergerak dalam tiga tema besar, yaitu perlindungan perempuan dan anak, perubahan iklim dan penguatan peran wanita di berbagai bidang. Komunitas tersebut sengaja dibuat, sebab NU menyadari bahwa adanya sebuah masalah adalah untuk dijawab dan dipecahkan, bukan dibiarkan dan didiamkan.
Selain itu, cucu pendiri ormas NU itu memotivasi hadirin untuk turut menghentikan gelombang perubahan iklim dengan melakukan sejumlah aktivitas. Aktivitas tersebut di antaranya adalah tidak menggunakan plastik sekali pakai, berkendaraan dengan sepeda dan menanam pohon. Ia menceritakan sosok Pak Syamsudin, tukang becak di Samarinda yang setiap hari menyisihkan satu per empat dari gajinya untuk membeli bibit tumbuhan yang ditanam di sepanjang jalan Samarinda. Perlu diketahui, gaji Pak Syamsuddin per harinya hanya 20.000 rupiah.
Di akhir acara, Ibu Yenni menstimulasi agar Mahasiswa Indonesia di Mesir sedikit demi sedikit berlatih mengayomi dan melayani masyarakat secara fisik. Mencoba menjadi orang berguna dengan memberi kontribusi masyarakat sekecil apapun. “Mengaktualisasikan slogan sebaik-baiknya manusia adalah dengan gerakan nyata”, terangnya. Ia berpesan, “kunci orang hebat adalah banyak bergaul, mau belajar, tidak baperan dan berani mencoba”. Acara yang berjalan dengan khidmat tersebut ditutup dengan penyerahan cinderamata dan foto-foto bersama. (Jie)











