Cakrabuana: Membaca Sejarah di dalam Film

0 708

Fosmagati, sebuah kekeluargaan yang menampung mahasiswa asal Cirebon merilis wadah literasi bercorak sejarah bernama Cakrabuana Center. Sebagai agenda pembuka, Cakrabuana bekerja sama dengan LSB PCINU Mesir dan Pojok Peradaban (Zawiyah Hadlarah) membedah film
Exodus; Gods and Kings (2014).

Film drama sejarah tersebut membahas biografi Nabi Musa dan raja semasa hidupnya, Ramsess II, serta Merenbitah. Pemilihan film tersebut tidak terlepas dari latar belakang sejarah dan peristiwa yang coba dihadirkan oleh sutradara. Dari sudut pandang sejarah, Mesir merupakan sumber peradaban tertua setelah Mesopotamia. Ramses, sebagai gelar raja yang memimpin Mesir saat itu merupakan raja yang adidaya dan digdaya. Ia mampu menyatukan begitu banyak kerajaan kecil menjadi satu kerajaan besar.

Selain dari sudut sejarah, membincang Mesir Kuno juga bisa ditelaah dari sisi geopolitik, geografi, sosial budaya, bahkan bahasa dan corak literasi kala itu.

Miftah Wibowo, pegiat kajian sejarah Pojok Peradaban menyoroti kekhasan berbahasa masyarakat Mesir kala itu. Menurutnya, ada dua bentuk cara berbahasa secara umum, yaitu simbol dan aksara. Dalam hal perbandingan antarkeduanya, aksara tidak lebih efisien daripada simbol. Simbol memiliki makna yang lebih luas. Model inilah yang dipakai oleh orang-orang di era Mesir Kuno dahulu.

Dari sisi lain, Pandu, aktivis Lembaga Seni dan Budaya (LSB) PCINU Mesir menyoroti komponen sinematografi. Menurutnya, pengalaman menonton film tersebut mestinya bisa membuat khalayat berpikir lebih rasional. Sebab, pretensi-pretensi teologis yang ingin disampaikan oleh sutradara, Ridley Scott mencoba menawarkan sudut pandang baru dalam menerima risalah Tuhan. Sebuah pesan tersirat yang juga ada di film-film senada seperti Noah dan Sparta.

Menurut pegiat LSB yang sering disapa ‘Kang’ Pandu itu, Scott belum bisa memberikan efek visual yang segar kepada penonton. Film Exodus hanya mengganti suasana visual Yunani ke suasana Mesir yang ikonik dengan padang Sahara. Menurutnya, dengan kultur Hollywood demikian mestinya Scott dapat memberikan efek visual yang lebih baru dan segar. (Diana)

Scott sangat menyukai sejarah kenabian yang banyak diambil dari teks suci. Namun, ketidakpercayaannya terhadap mukjizat inilah yang perlu diwaspadai oleh khayalak awam, pertama. Kedua, penonton diharapkan bisa ‘mindah roso’ sudut pandang seorang ateis dalam melihat proses penciptaan dan realitas kehidupan lainnya. (diana).

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.