Sabtu, 26 Agustus 2024 PCI NU Mesir mengadakan Silaturahmi dan Dialog Kebangsaan bersama Ibu Nyai H. Sinta Nuriyah Wahid M.Hum dan Putrinya, Ibu Zannuba Ariffah Chafsoh S.I.Kom atau sering dikenal dengan Ibu Yenny Wahid. Acara yang bertepatan di Balai Budaya KBRI Kairo dihadiri oleh beberapa jajaran KBRI, pengurus PCI NU Mesir dan sebagian mahasiswa nahdiyin. Pertemuan yang dimulai selepas Magrib hingga jam sepuluh malam ini dilaksanakan dalam bentuk bincang santai sekaligus menyambut kedatangan Ibu Sinta yang menghadiri undangan menteri wakaf Mesir dalam Konferensi Internasional dalam Membangun Kesadaran Peran Perempuan.
Permulaan, acara diawali dengan sambutan dari ketua Tanfiziah PCI NU Mesir, KH. Faiz Husaini, yang menyatakan bahwa dialog pada malam hari ini sebuah kehormatan bagi para mahasiswa dan seluruh pengurus Tanfiziah NU di sini. Kehadiran Ibu Sinta melambangkan sosok Ibu yang telah berjuang dalam mendidik anak-anaknya hingga dewasa serta sosok Ibu yang berhasil mendidik masyarakat di sekitarnya. Kemudian sambutan dilanjut oleh Dubes RI untuk Mesir, Dr. Hc. Luthfi Rauf, yang mengucapkan selamat datang dan terima kasih sebesar-besarnya kepada Ibu Sinta yang sudah menyempatkan waktu untuk hadir di acara malam ini.
Usai sambutan, acara diisi dengan pesan dan nasehat dari Ibu Yenny yang mewakilkan Ibu Sinta karena beliau sudah melewati kegiatan yang panjang sebleumnya, sehingga dirinya tidak bisa berbicara penuh pada acara malam ini. Di awal pembicaraan, Ibu Yenny membahas singkat bagaimana bentuk acara Konferensi Internasional tadi siang. Dirinya sempat heran, karena acara yang membahas tentang perempuan tetapi pembicaranya sebagian besar laki-laki. Beliau juga menyapaikan pemaparan makalah Ibu Sinta di acara tadi pagi yang membahas proyek realistis terhadap kemajuan yayasan keperempuanan di Indonesia seperti Puan Amal Hayati serta memperjuangkan kebijakan publik perihal perempuan.
Sudah dua puluh tahun perjalanan Ibu Sinta memperjuangkan hak perempuan seperti korban kekerasan dan kesetaraan gender. Dirinya juga sering mengutip fatwa tentang perempuan dari beberapa masyaikh di al-Azhar, seperti fatwa dari Syekh Ali Jum’ah yang melarang hukum khitan pada perempuan. Yang kemudian hukum tersebut diadopsi untuk pemerintah di Indonesia dalam melarang khitan pada perempuan. Selain itu, Ibu Sinta selama di bulan Ramadhan ia selalu bergerak mengadakan buka puasa dan sahur bersama rakyat-rakyat kecil di Indonesia.
Semua yang Ibu Sinta perjuangkan bukanlah kepentingan pribadi semata, kegiatan yang beliau lakukan terus berkelanjutan dan tidak pernah berputus asa. Sampai narapidana yang berada di Nusakambangan dan mendapat hukuman mati, tetap ia jenguk melalui pendekatan rohani dengan membaca lantunan selawat bersama narapidana yang ada di sana. Sebagaimana yang dikatakan oleh Bu Yenny, semua ini dilakukan secara konsisten dan sunyi tanpa perlu diperlihatkan kepada awak media sebagai bentuk narsis.
Kehadiran Ibu Sinta di Mesir juga disambut hangat oleh Imam Besar Ahmad Thayyib saat melakukan kunjungan ke kantor Masyikhoh al-Alzhar. Bukti kehormatan beliau kepada Bu Sinta dengan mengantarnya sampai ke mobil. Dimana hal tersebut jarang sekali dilakukan Imam Besar ketika mendapati kunjungan tamu dari negara lain. Begitupun Syekh Usamah –Menteri wakaf Mesir— menghormati Bu Sinta dengan cara menuntunnya selama acara koferensi berlangsung dan berkali Syekh Usamah mencium kepala Bu Sinta sebagai bentuk kasih sayang kepada Bu Sinta. Tak hanya itu, penghormatan juga diberikan oleh Syekh Nazhir Ayyad dan Syekh Ali Jum’ah yang rela mendatangi hotel tempat Ibu Sinta menginap.










