Memuliakan Ahlil Quran

0 349

Pertemuan ketiga PKR Tibyan membahas pemuliaan ahli Quran. Siapakah orang-orang yang menyandang gelar ahlul Quran itu?

1. Orang-orang yang bibirnya setiap saat tak pernah kering sebab membaca al-Quran.
2. Orang-orang yang mengindahkan isi al-Quran, entah dengan mengajar, belajar, lalu mengamalkannya.
3. Para penghafalnya.

Setidaknya tiga kriteria inilah yang Pak Ikhwani sifati dengan al-Quran dan terkait dengan anjuran memuliakan ini, jauh-jauh hari Nabi SAW bahkah sudah pernah bersabda: “Muliakanlah mereka walaupun seorang kafir zimmi.”

Jika memuliakan sesama ialah sebuah kebaikan, maka memuliakan al-Quran ialah lebih utama.

Di antara kebiasaan ulama salaf dalam mengarang kitab ialah mengawali setiap bab dengan ayat al-Quran dan Hadits terkait. Ini misalnya bisa dilihat pada karya Imam Ghazali. Pada bab ilmu sampai setelah bab mengingat mati selalu dibuka dengan ayat dan Hadits sebagaimana dimaksud.

Kebiasaan demikian patut kita teladan. Ini di sisi lain juga menunjukkan bahwa kandungan ayat dan sabda Nabi SAW begitu kaya, komprehensif dan universal. Keduanya mampu menjawab berbagai persoalan di lintas zaman.

Pada bab ketiga al-Tibyan dijelaskan perihal pemuliaan ahli Quran dan larangan dari menyakiti mereka. Sang pengarang mengawalinya dengan QS al-Hajj: 32 yang berbunyi: “Demikianlah (perintah Allah). Dan barangsiapa mengagungkan syiar-syiar Allah, maka sesungguhnya hal itu timbul dari ketakwaan hati.”

Di dalam khazanah Islam terdapat dua jenis syiar, makani dan zamani. Syiar makani seperti Makkah dan Madinah sedangkan syiar zamani seperti bulan Ramadan dan musim haji. Barangkali para penghafal masuk dalam kriteria yang pertama, menimbang bahwa al-Quran adalah syiar paling agung yang diberikan kepada orang-orang yang di kehendaki-Nya.

Banyak Hadits yang menganjurkan kita untuk memuliakan siapa saja. Titik alasan mengapa demikian ialah sebab mereka dan kita sama-sama makhluk Allah. Jika kita menghinanya, itu sama saja dengan menghina pencipta-Nya. Terlebih, memuliakan ahli Quran merupakan perintah Allah melalui al-Quran dan Nabi melalui Haditsnya.

Memasuki bab keempat, inilah sebenarnya inti pembahasan kitab. Bab keempat ini memaparkan etika pelajar dan pengajar al-Quran.

Fasal pertama menguraikan kondisi hati seorang yang membacakan al-Quran (muqri) dan pembacanya (qari), dimana senantiasa dimaksudkan untuk Allah SWT (ikhlas). Sebab, hanya dengan kondisi seperti inilah isi kandungan al-Quran yang kita baca tidak sia-sia hanya sampai ke tenggorokan, namun berlanjut sampai seorang qari terbiasa mengamalkan kandungannya dengan konsisten. Inilah makna yang ingin Allah SWT tunjukkan kepada kita melalui wahyu-Nya di dalam QS al-Bayyinah:5.

“Padahal mereka hanya diperintah menyembah Allah dengan ikhlas menaati-Nya semata-mata karena (menjalankan) agama, dan juga agar melaksanakan salat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus (benar).”

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.