Mendaras al-Quran ala Imam Nawawi

0 515

Ramadan tahun ini berbeda. Sebagaimana makruf, adanya pandemi mengondisikan kita untuk berjaga jarak dan menjauhi kerumunan. Sebagai semangat mengindahkan jarag jarak tersebut, PCINU Mesir mengadakan Program Khusus Ramadan (PKR) yang masing-masing diisi oleh Kiai M. Nora Burhanuddin, Lc., Dipl (Sabîl al-Iddikâr), Dr. KH. M. Aunul Abied Shah, MA (al-Akhlâq al-Matbûliyyah dan Syarh Tahdzîb al-Kalâm) dan Dr. KH. Ahmad Ikhwani, MA (al-Tibyân fî Âdâb Hamalat al-Qu’ân).

Ulasan ini hanya akan menyarikan dari PKR al-Tibyan yang diampu oleh Dr. Ikhwani.

Imam Nawawi memiliki nama Muhyiddin Abu Zakariya bin Syaraf al-Nawawi. Beliau lahir pada 631 H di kota Nawa, Damaskus, Suriah.

Imam Nawawi kecil telah memancarkan aura ulama besar. Kecenderungannya berbeda dari anak-anak sebayanya. Alih-alih bermain, ia lebih suka menyendiri dan memprioritaskan waktunya untuk belajar. Ini, menurut Pak Ikhwani (sapaan akrab beliau) bukanlah sebuah kekurangan. Jika ada anak kecil yang tidak cenderung bermain, barangkali memang ia mempunyai kelebihan dan keistimewaan di sisi lain.

Imam Nawawi di antara ulama yang uzzab, tidak menikah. Jamak diketahui bahwa inilah yang mengantarkan beliau menjadi ulama besar yang alim di dalam berbagai fan ilmu. Sebab, menurut orang-orang pecinta ilmu, menikah ialah sebentuk rintangan dalam mereka menikmati waktu bersama ilmu. Seperti itulah, mereka ‘menikah’ dengan buku.

Beliau tidak menikah, lantas bagaimana bisa diberi kunyah Abu Zakariya? Di dalam sebuah Hadits Nabi SAW diriwayatkan bahwasanya suatu hari Sayidah Aisyah pernah meminta kunyah kepada Nabi SAW lantaran istri-istri yang lain memiliki kunyah sedangkan ia tidak—beliau tidak mutra. Nabi SAW lantas bersabda: “Berkunyahlah dengan Umu Abdillah.” Dengan demikian, Imam Nawawi meneladan Hadits tersebut.

Spirit belajar yang begitu tinggi membuat Imam Nawawi kuat belajar. Di dalam sehari, beliau biasa mendaras dua belas fan ilmu lintas disiplin.

Beliau ialah ulama yang warak dan zuhud. Beliau tidak pernah rida memakan buah hasi tanam di suatau daerah di tanah Damaskus. Lantaran menurutnya, tanah tersebut ialah tanah wakaf.selain kedua sifat tadi, beliau memiliki ingatan kuat, baik dalam hafalan maupun secara tulisan (dlabth al-shadr wa al-kitabah). Saat mensyarah Sahih Muslim, beliau tidak pernah memakai kitab.

Beliau wafat pada 676 H dan dimakamkan di kota kelahiran.

Di antara rahasia keberkahan karya Imam Nawawi ialah beliau ikhlas luar biasa. Oleh sebab itulah, buku-bukunya masih dipelajari hingga kini.

Mukadimah

Setelah membaca basmalah, syukur, selawat serta salam atas Baginda Nabi SAW, Imam Nawawi menjelaskan alasan mengapa beliau mengarang buku tersebut. Di antaranya, ialah hilangnya semangat dan perhatian ulama terhadap ilmu berinterkasi dengan al-Quran.

Selain itu, di tempat di mana ia tinggal (Damaskus), kebetulan masih banyak orang membaca, mengkaji dan mengajarkan al-Quran. Atas dua kegelisahan tadi, beliau memulai mengarang.

Kitab yang secara umum menerangkan bagaimana berunggah-ungguh kita dalam membaca, membawa, mengkaji dan mengajarkan al-Quran ditulis secara ringkas supaya mudah dipelajari.

Majelis ditutup dengan sebuah Hadits yang maknanya: “Tidak ada yang lebih berhak kita hasudi di dunia ini kecuali dua manusia, yaitu orang yang diberi Allah SWT anugerah untuk bisa senantiasa membaca al-Quran siang dan malam hari, serta orang yang diberi harta lalu ia infakkan pagi dan malamnya juga.” Hasud di sini maksudnya ialah ghibthah, yakni iri terhadap suatu kebaikan tanpa mengharapkannya hilang dari orang yang kita merasa iri padanya.

Notulen: Ahmad Reza

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.