Merawat Tradisi Turats

0 223

Pada beberapa waktu lalu, Gus Ulil menulis kritik terhadap kerangka pembaharuan yang sedang menjadi pusat pembicaraan kalangan akademisi di Indonesia. Apa yang menarik perhatiannya ialah bagaimana mereka mewacanakan pembaharuan itu. Di dalam hal ini, ia menilai ada kelemahan fatal dalam wacana pembaharuan tersebut. Kelemahan ini menyoal bagaimana mereka memandang kitab turats sebagai sasaran reformasi. Sebagai pembanding, ia memberikan cara pandang lain melihat warisan turats itu yakni melihatnya dengan teori merawat tradisi.

Pentingnya merawat tradisi sesungguhnya seperti pentingnya merawat identitas diri. Koloni yang terputus tradisinya adalah seperti koloni yang baru lahir. Sementara yang baru lahir berarti lemah dan kecil. Kaitan dari analogi ini dengan wacana pembaharuan, kita tidak ingin menjadikan Islam lemah dan hilang identitasnya gara-gara ada wacana pembaharuan yang belum pernah dikenali sebelumnya. Seharusnya, ajaran Islam hari ini menjadi ajaran yang kokoh, masih terhubung dengan ide-ide para pendahulu.

Salah satu upaya merawat tradisi ialah memahami peninggalan pendahulu dan menerapkannya pada kehidupan sekarang. Upaya merawat tradisi juga dilakukan dengan menjembatani tradisi itu agar bisa sampai pada generasi berikutnya. Sehingga kita bukan hanya diharuskan untuk merawat berkas-berkas yang berisikan pemikiran dan budaya para pendahulu, akan tetapi juga menjaga piranti untuk membaca berkas-berkas itu bahkan mengembangkannya. Usaha ini disebutkan Syekh Ali Jumah sebagai fakk syifrat al-turats atau membongkar kode-kode turats. Ia menuliskan tema ini secara khusus dalam bukunya al-Tharîq ilâ al-Turâts.

Dalam menjaga turats, para ulama mewariskan ilmu mantik. Ilmu mantik merupakan piranti penting untuk memahami gaya ulama dalam berpikir dan menjelaskan pemikirannya. Ilmu mantik adalah kode baca layaknya ilmu tanda baca untuk memahami arti titik dan koma. Ilmu mantik bahkan digunakan hampir dalam seluruh diskursus keislaman seperti ilmu fikih, usul fikih dan akidah.

Kita harus bisa membaca pemikiran ulama seperti apa yang mereka pikirkan. Misalnya ketika mereka menyebutkan alam, apa yang mereka maksud dengan alam? Kita mungkin berpikir bahwa alam adalah bumi seisinya, langit dengan bintang dan planet-planetnya tapi sudahkan kita memikirkan bahwa semua itu terkategorikan dalam dua hal saja seperti yang para pendahulu pikirkan. Dua hal itu adalah substansi (jauhar) dan aksiden (aradl). Aksiden lantas terkategori lagi menjadi sembilan yang menjadikan keseluruhannya menjadi sepuluh kategori. Pembahasan demikian ini adalah pembahasan dalam ilmu maqulat (categoria, kategori) dan sering digunakan dalam persoalan akidah.

Contoh lain adalah yang-universal (kulliy) dan yang-parsial (juz’iy). Dua kata yang sangat sering ditampilkan untuk membedakan apa itu teori dan praktik.

Dengan ilmu-ilmu tersebut, mereka juga menjelaskan pembagian bumi dalam tujuh bagian iklim. Ini adalah pembahasan yang sering tampil ketika membahas waktu puasa dan salat dalam kitab-kitab fikih atau dalam karangan Ibn Khaldun yang mengategorikan watak manusia berdasarkan iklimnya.

Ilmu-ilmu ini tidak boleh hilang, karena hilangnya ilmu ini sama dengan hilangnya warisan pemikiran para pendahulu. Para guru juga tidak boleh lupa untuk mengajarkan ilmu-ilmu ini sehingga generasi berikutnya akan lebih mudah untuk mengakses warisan para pendahulu.

Usaha mempermudah akses itu bukan hanya dengan menjaga alat baca tersebut tapi juga dengan mentransformasikan ajaran-ajaran pendahulu ke dalam bentuk yang lebih mudah dipahami. Misalnya, mentransformasikan ukuran kullah ke dalam satuan meter, atau memberikan contoh yang lebih modern terhadap kasus-kasus yang ada.

Selain itu juga kita tidak boleh membiarkan pemikiran-pemikiran ulama terdahulu hanya menjadi teori yang tidak terpraktikkan atau tidak dapat dipraktikkan. Misalnya tentang kewajiban membalas luka dengan luka yang sama. Apakah teori ini bisa dipraktikkan dengan memastikan luka yang lebar dan dalamnya 3 cm, misalnya, dibalas dengan lebar yang dan dalam yang sama persis.

Kita juga harus bisa mewarisi dan mewariskan semangat ulama terdahulu dalam mengkaji suatu persoalan. Jika ulama terdahulu mengkaji persoalan penuh dengan kemapanan pondasi akli dan nakli maka kita pun juga mempelajarinya demikian. Kemapanan akan pondasi keilmuan Islam dari segi akli dan nakli sering kali diremehkan, seakan orang cukup mengetahui ini wajib itu sunah tanpa tahu alasannya. Padahal orang bertindak tentu butuh alasan bukan sekadar karena diperintah. Ulama terdahulu sangat getol memperkuat bangunan keislaman. Misalnya, pada kajian usul fikih tentang kelayakan al-Quran dan Hadis sebagai dasar hukum masih dikaji sedemikian rupa sehingga jika ada yang meragukan kelayakan keduanya sebagai dasar hukum di kemudian hari sudah dapat terjawab dengan rumusan ulama terdahulu.

Al-Quran sendiri telah memberi peringatan pada mereka yang tidak mementingkan warisan atau bahkan dengan sengaja menyembunyikan warisan terdahulu. Seperti disebutkan dalam ayat: “Apakah kamu beriman kepada sebagian Kitab (Taurat) dan ingkar kepada sebagian (yang lain)? Maka tidak ada balasan (yang pantas) bagi orang yang berbuat demikian di antara kamu selain kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari Kiamat mereka dikembalikan kepada azab yang paling berat.” [QS 2:85]. Juga dalam ayat: “Katakanlah (Muhammad), “Siapakah yang menurunkan Kitab (Taurat) yang dibawa Musa sebagai cahaya dan petunjuk bagi manusia, kamu jadikan Kitab itu lembaran-lembaran kertas yang bercerai-berai, kamu memperlihatkan (sebagiannya) dan banyak yang kamu sembunyikan, padahal telah diajarkan kepadamu apa yang tidak diketahui, baik olehmu maupun oleh nenek moyangmu.” [QS 6:91].

Pemikiran ulama dari masa ke masa sangatlah banyak. Jarak kita dengan masa paling awal, masa percontohan Islam pun semakin jauh, maka tugas kita untuk merawat tradisi juga harus semakin serius. Bukan tugas yang mudah untuk menjembatani generasi ribuan masa lampau dengan generasi di masa depan, tapi mau tidak mau hal itu haruslah dilakukan. Setiap masa memiliki warisannya sendiri. Dengan berjalannya ribuan tahun tentu warisan itu akan semakin banyak. Kita di zaman ini pun juga berpikir untuk memberikan warisan pada generasi setelah kita. Akan tetapi, jika semua berpikir demikian lalu siapa yang menjaga warisan-warisan terdahulu?

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.