Numesir
  • Profil
  • Warta
  • Opini
  • Kolom
  • Internasional
  • Ubuddiyah
  • Sejarah
    • Kajian
      • Kajian Lakpesdam
    • Tokoh
    • Terjemah
    • Resensi
No Result
View All Result
NU Mesir
  • Profil
  • Warta
  • Opini
  • Kolom
  • Internasional
  • Ubuddiyah
  • Sejarah
    • Kajian
      • Kajian Lakpesdam
    • Tokoh
    • Terjemah
    • Resensi
No Result
View All Result
NU Mesir
No Result
View All Result
Home Kajian

Metodologi Orientalis dalam Kajian Studi Islam; Ketegangan antara Objektivitas dan Implikasi

numesir by numesir
13 October 2019
in Kajian
2
0
SHARES
528
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Said Aqil Siradj (SAS) Center NU Mesir kembali mengadakan kajian grand tema. Metodologi Orientalis dalam Kajian Studi Islam; Studi Komprehensif atas Objektivitas dan Implikasinya disepakati sebagai grand tema kajian tahun ini. Tema yang dipresentasikan oleh Ahmad Ilham Zamzami ini menitikberatkan focus kajian pada awal mula munculnya gerakan orientalis dan mencoba mengukur seberapa objektif kajian yang dilakukan mereka, di samping tentunya metodologi kajian mereka.

Beberapa hal penting seputar kajian yang digelar pada Senin, 7 Oktiber 2019 tersebut ialah bahwa penyebutan orientalisme (sebagaimana kita pahami sekarang) baru disematkan pada abad XVIII. Perkembangan orientalisme, selanjutnya terbagi menjadi empat periode. Periode pertama (abad XIV) ditandai sebagai gerakan anti-Islam. Selanjutnya, pada abad XVII dan XVIII orientalisme bercirikan sebagai gerakan yang korelat dengan modernisasi Barat. Periode ketiga (abad XIX) ditandai dengan munculnya lembaga studi keislaman di Barat. Periode keempat dan terakhir, merupakan fase orientalisme pasca-PD I yang menjadikan Timur tidak hanya sebagai objek kajian keilmuan, namun juga kepentingan politik dan ekonomi.

Kajian ilmiah yang dilakukan orientalis perlu untuk ‘dicurigai’. Meskipun terkesan objektif, namun peneletian yang mereka lakukan tidak lepas dari latar belakang agama, politik, sosial, ekonomi dan lain-lain. Kajian orientalis tentang Islam dan sejarahnya pun nampak sangat canggih (sophisticated) dan subtil, sehingga pembaca awam, alias bukan pakar tidak mudah mengetahui implikasi-implikasi negatifnya. Pernyataan mereka pada umumnya berdasarkan spekulasi dan penentuan sumber data yang selektif. Hal ini kerap kali terjadi sebab orientasi dan kepentingan tertentu. Edward Said, baik dalam Orientalism (1978) maupun dalam The World, The Text and the Critic, meyakini bahwa orientalis dan Barat selalu bersikap diskriminatif.

Sebagai contoh, para orientalis mengkaji al-Quran berdasarkan metodologi interpretasi atas al-kutub as-samâwiyah (kitab-kitab berdasarkan wahyu langit) terdahulu, disertai penilaian terhadap karya sastra peninggalan budaya mereka. Berangkat dari latar belakang tersebut, proses kajian mereka cenderung fanatik; lebih mengutamakan teks yang tertulis daripada keabsahan transmisi periwayatan dalam autentikasi-validitas ayat-ayat al-Quran. Pada akhirnya, mereka mempermasalahkan proses kodifikasi mushaf al-Quran dan kandungan yang tertuang di dalamnya.

Diskusi yang sejak awal seru semakin tambah ‘panas’ ketika peserta kajian memeberikan kritik dan saran. Pemakalah dinilai kurang menjelaskan dengan terang metodologi yang seharusnya menjadi fokus kajian. Judul makalah dinilai masih terlalu umum, sehingga belum mampu mewakili isi. Salah seorang anggota kajian juga menyarankan agar pemakalah menambahkan sentuhan harmonisasi antara Barat dan Timur dalam tulisannya.

Selain perihal kerangka, kaidah ketatabahasaan, prolog makalah juga dinilai masih kurang menarik. Penulis belum cukup menekankan urgensi kajian tersebut, sehingga pembaca merasa ‘jauh’ dan kurang tergugah.

Notulis: M. Zainal Arifin R

Tags: sas center
ShareTweetSend
numesir

numesir

Akun tim redaksi numesir.net 2022-2024. Dikelola oleh Divisi Website Lembaga Ta’lif wa Nasyr (LTN) PCINU Mesir.

Comments 2

  1. Aan Aan says:
    7 years ago

    Mantap

    Reply
    • redaksi redaksi says:
      7 years ago

      Ada yg mau nandingi tulisan saya nih?

      Reply

Leave a Reply to redaksi Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Rayakan Momen Idulfitri, PCINU Mesir adakan Halalbihalal dan Pesta Nahdliyin

Rayakan Momen Idulfitri, PCINU Mesir adakan Halalbihalal dan Pesta Nahdliyin

21 April 2024
Karakteristik Nalar Arab

Karakteristik Nalar Arab

20 July 2021
Neo-Salafisme Wahabi; Dilema Pengusung Ultra-tekstualisme Agama

Resolusi Jihad: Dulu dan untuk Kini(?)

21 October 2018
Sayidah Aisyah Ra. dari Sisi Lain

Sayidah Aisyah Ra. dari Sisi Lain

15 April 2020
Ramadan dan Takwa

Ramadan dan Takwa

21 May 2020

Sebagai Bentuk Kepedulian, PCINU Mesir Gelar Istigasah Kubra untuk Sumatera

10 December 2025
NU Care-Lazisnu Kirim Tiga Kontainer Bantuan Kemanusiaan ke Perbatasan Gaza

NU Care-Lazisnu Kirim Tiga Kontainer Bantuan Kemanusiaan ke Perbatasan Gaza

10 December 2025
Menyambangi Nahdliyyin Mesir, Gus Ulil Tekankan Pentingnya Sebuah Peradaban

Menyambangi Nahdliyyin Mesir, Gus Ulil Tekankan Pentingnya Sebuah Peradaban

25 September 2025
Bertemu Menteri Wakaf Mesir, PBNU Kokohkan Kemitraan Strategis

Bertemu Menteri Wakaf Mesir, PBNU Kokohkan Kemitraan Strategis

25 September 2025
Bukti Nyata Diplomasi Budaya, ISHARI NU Mesir Tampil Memukau pada Acara Muktamar Internasional

Bukti Nyata Diplomasi Budaya, ISHARI NU Mesir Tampil Memukau pada Acara Muktamar Internasional

16 September 2025

Numesri.net putih

Tentang Kami | Kontak | Redaksi | Kirim Tulisan

Ikuti juga sosial media kami

  • Profil
  • Warta
  • Opini
  • Kolom
  • Internasional
  • Sejarah
  • Kajian
  • Tokoh
  • Ubuddiyah
  • Terjemah