PCINU Mesir kembali menggelar Sarasehan dan Silaturahmi Kebangsaan pada Jumat, 12 Juli 2024. Dihadiri oleh tamu spesial dari Indonesia, yaitu Kiai Zulfa Mustofa, Kiai Nusron Wahid, dan Habib Luthfi bin Ahmad al-Attas, acara bertempatkan di Sekretariat PCINU Mesir. Dalam sambutan pembuka acara, Kiai Faiz Husaini Lc., MA., menuturkan bahwa PCINU Mesir akan terus memainkan peran sebagai Hamzah Wasal yang menjembatani hubungan PBNU dan al-Azhar. Selain itu, kedatangan Kiai Nusron Wahid khususnya, menjadi momentum segar bagi Nahdliyin di Kairo untuk belajar tentang Politik Kiai dan Kiai Politik secara langsung dari figur yang sudah melanglang buana dalam kancah perpolitikan Indonesia tersebut.
Selanjutnya, pembawa acara mempersilakan kepada Kiai Zulfa Mustofa untuk menyampaikan materi. Sebagai mukadimah, Kiai Zulfa menerangkan bahwa Nahdlatul Ulama ibarat pohon yang luar biasa baik, yang ditanam sejak seratus tahun lalu, akarnya menancap kuat ke bumi, sementara rantingnya menjulang tinggi ke langit. Figur yang pernah mengaji kepada Kiai Sahal Mahfudz Kajen itu juga menyampaikan harapannya agar Nahdliyin yang jauh-jauh ke Mesir, sepulangnya ke Indonesia dapat menjadi penyambung lidah ulama, tidak sekadar membuka travel umrah.
Hal itu, lanjut Kiai Zulfa, dapat dilakukan dengan menjalankan fungsi dakwah, baik di desa maupun di perkotaan. Selain itu, Kiai yang menulis kitab berjudul al-Fatwa wa Ma La Yanbaghi li al-Mutafaqqiha Jahluhu tersebut berpesan kepada Nahdliyin di Kairo supaya ketika sudah kembali ke desanya masing-masing, dapat beradaptasi secara bijaksana dengan kiai-kiai sepuh di sana. “Sebab mereka sudah makan asam garam yang luar biasa,” jelas Kiai Zulfa.
Beranjak ke sesi selanjutnya, yaitu pemaparan materi oleh Kiai Nusron Wahid. Sebelumnya, Kiai yang berasal dari Kudus, Jawa Tengah tersebut meminta agar sesi diadakan dengan model tanya-jawab. Tidak berselang lama, seorang peserta berdiri untuk menyampaikan pertanyaan terkait motivasi apa yang mendorong Kiai Nusran untuk memilih terjun di dunia politik. Dengan pembawaan yang khas, Kiai Nusron mulai bercerita panjang lebar terkait keputusannya untuk mengambil profesi sebagai politisi. Ia mengatakan dengan tegas bahwa ada nilai-nilai dan kepentingan-kepentingan dalam spektrum kenegaraan yang hanya bisa diperjuangkan melalui jalur potitik.
Terkait pentingnya keberadaan politisi, Kiai yang pernah mengenyam pendidikan di Madrasah Qudsiyyah Kudus itu juga menyitir perkataan Syekh Abdul Qadir al-Jilani bahwa untuk membangun suatu tatanan masyarakat yang maju, setidaknya dibutuhkan tiga komponen, yaitu ulama, birokrat/teknokrat, dan politisi. “Politisi yang memiliki keberpihakan, politisi yang mengutamakan kepentingan negara,” Imbuh Kiai Nusron. Ia juga berpandangan bahwa hanya ada tiga profesi di Indonesia yang dapat menentukan hijau putihnya negara, yaitu anggota dewan, pegawai negeri dan penguasa. Terakhir, ia menyampaikan bahwa setiap profesi selama ditekuni adalah pilihan yang sama-sama baiknya. “Menjadi politisi ya berjuang, menjadi pedagang ya berjuang, menjadi kiai ya berjuang”. Acara ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Habib Luthfi bin Ahmad al-Attas (Muhammad Jihan Muqodas).











