Siapakah setelah Unit Emirat Arab?

0 411

Perdamaian adalah kata yang dicita-citakan banyak orang. Itu merupakan kata mulia nan mewah, terlebih bagi mereka yang tinggal di  wilayah konflik. Namun akhir-akhir ini, saya melihat kata perdamaian berkonotasi negatif. Perdamaian antara Unit Emirat Arab (UEA) dengan Israel adalah bukti bahwa perdamain hanya janji manis bagi mereka yang memiliki kepentingan semata.

Belum lama ini, dunia Islam sempat digaduhkan oleh kesepakatan Perdana Menteri Israel Benyamin Netanyahu dengan Putra Mahkota Abu Dhabi Mohammed al-Nahyan untuk normalisasi hubungan antara kedua negara tersebut. Hal ini banyak yang menuai kecaman dari umat Islam karena UEA dianggap telah mengkhianati muslim Palestina.  Pemimpin Iran Ayatollah Ali Khamenei angkat suara akan perdamain UEA-Israel dengan berujar, “Tentu saja pengkhianatan UEA tidak akan berlangsung lama, tapi stigma ini akan selalu diingat. Mereka membiarkan rezim Zionis masuk ke wilayah tersebut dan melupakan Palestina.

Namun, Putra Mahkota UEA menentang dan berdalih bahwa perdamaian dimaksud dapat menyelesaikan konflik berkepanjangan antara Palestina dengan Israel. Hal ini pula diperkuat dengan janji manis Israel untuk menangguhkan aneksasi tanah Palestina.

Saya melihat perdamain ini sebagai kepentingan dan keuntungan politik, tidak lebih. UEA akan sangat terbantu oleh perekonomian dan kemajuan teknologi Israel dengan penemuan-penemuan mutakhir, yang dapat menaikkan kemakmuran dan wibawa UEA di mata internasional. Sebenarnya, hal ini didasarkan akan kesadaran UEA bahwa kondisi ketidakpercayaan pemimpin-pemimpin negara Kawasan Teluk saat ini mengakibatkan strategi politik Iran berkembang pesat dengan tersebarnya milisi proksi di kawasan Timur Tengah, ditambah lagi program nuklir rahasia Iran yang sangat mengkhawatirkan mereka. Sementara risikonya, UEA akan dipinggirkan dari pemimpin-pemimpin Timur Tengah dan menurunkan kepercayaan umat Islam terhadap UEA.

Perdamain ini juga dapat menguntungkan pihak ketiga yaitu Amerika Serikat yang menjembatani terjadinya hubungan normalisasi antara dua negara ini. Donal Trump akan mendapatkan surplus positif dalam menghadapi pemilihan presiden November mendatang. Hal ini dapat membersihkan citra buruknya di kawasan Timur Tengah setelah pembunuhan jenderal Iran Qasem Soleimani yang menggemparkan dunia.

Kepentingan

Harus dipahami bahwa aspek oportunitas dalam perdamaian Timur Tengah ini berkaitan erat dengan perang Arab-Israel, yang berakhir dengan kekalahan memalukan bangsa-bangsa Arab. Perdamaian pertama antara Mesir-Israel pada 1970-an menunjukkan bahwa Mesir merasa kuwalahan melawan Israel. Hal itu mengharuskan pemerintah Mesir melakukan perdamaian bersejarah agar seluruh kawasan Sinai tidak dicaplok oleh Israel serta meyelesaikan jatuhnya korban jiwa demi kesejahteraan rakyat Mesir.

Hal serupa terjadi pada perdamain kedua antara Yordania-Israel pada 1994. Kawasan Lebanon yang diambil Israel adalah daerah subur yang kaya raya dengan produk pertanian dan perkebunan, 70 persen kekayaan Jordania berasal dari daerah yang kemudian masuk ke dalam wilayah Israel. Hal ini memaksa Jordania melakukan hubungan diplomatik dengan Israel agar tidak memperparah kerugian Jordania. Dengan begitu, dapat diyakini bahwa perdamaian UEA-Israel ini adalah jalan mulus mereka dalam kancah Internasional.

Sejarah perdamaian Timur Tengah dari perdamaian Mesir, Jordania, hingga UEA tidak memfokuskan untuk kemerdekaan Palestina, melainkan untuk kepentingan politik, ekonomi, serta keutuhan teritorial negara mereka. Langkah kemerdekaan Palestina dari tangan Zionis Israel masih panjang, dukungan dari negara-negara Islam hanya sebatas bantuan materi atau sekadar dukungan moral. Meskipun ada seruan kemerdekaan dari negara Islam bagi Palestina, tapi hanya didengarkan oleh kalangan umat Islam yang terkadang dapat menyulut amarah umat Islam khususnya Timur Tengah. Ketegangan konflik yang terjadi meluas ke negara-negara lain di luar Timur Tengah termasuk Indonesia, baik karena sentimen ideologis, emosional maupun religius yang dapat kita rasakan hingga sekarang.

Upaya kemerdekaan Palestina yang ditempuh dengan mengangkat senjata adalah hal sia-sia yang dapat menjatuhkan korban jiwa seperti kelompok Hamas dijalur Gaza atau pergerakan ideologi Hizbut Tahrir. Mau diakui atau tidak, Satu-satunya cara untuk mendukung kemerdekaan Palestina dengan diplomasi yang jauh dari aspek oportunitas. Diplomasi yang mementingkankan kemerdekaan Palestina. Hal ini saya yakini karena mayoritas negara Islam telah atau masih melakukan kerja sama dengan Israel meskipun dengan cara tertutup. Jika negara Islam bertekad melangsungkan diplomasi tersebut, kemerdekaan Palestina bukan harapan kosong. Masih ada peluang untuk mereka.

Siapakah setelah Unit Emirat Arab?

Perdamaian UEA-Israel inimenjadi data perbandingan bagi negara-negara Timur Tengah lain. Konflik berkepanjangan yang banyak merugikan negara dan kesejahteraan rakyat adalah dorongan kuat bagi negara-negara Timur Tengah untuk mencoba hubungan dengan Israel, terlebih keuntungan mereka dari sektor ekonomi dan teknologi akan sangat terbantu. Kesadaran mereka pula akan risiko UEA yang dipinggirkan dari negara-negara Islam, tidak mengubah keadaan bahwa UEA masih menjadi negara maju dan akan menjadi penentu dari perjalanan politik Timur Tengah. Bisa dikatakan bahwa keuntungan UEA lebih banyak dari pada kerugiannya. Namun pertanyaannya, apakah negara-negara Timur Tengah akan menggunakan logika seperti ini? Mampukah mereka melakukan seperti UEA? Atau apakah mereka mereka sudi melakukan perdamaian dengan Israel?

Saya pikir hanya negara-negara Timur Tengah yang menggembor-gemborkan moderatisme yang pro-otoritarianisme pasca Arab Spring yang mampu melakukan perdamaian dengan Israel, dengan keuntungan yang menjajikan seperti yang didapatkan oleh UEA.

Dari 22 negara anggota Liga Arab, terdapat delapan yang pro-otoritarianisme yaitu Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Qatar, Oman, Kuwait, Bahrain, Yordania dan Maroko. Delapan negara ini pula mempunyai pengaruh besar dalam politik Timur Tengah dengan perekonomian dan teknologi yang amat maju. Tentu saja tersisa tujuh negara yang kemungkinan besar mengikuti jejak UEA dengan menormalisasikan hubungan dengan Israel.

 

Kontributor: Zainal Fanani, anggota aktif Lakpesdam NU Mesir

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.