Tren Salafisme

Ini adalah subtitle tren salafisme

0 109

Perasaan rendah diri (inferiority complex) yang dialami umat Islam sejak pertengahan abad ke-19 rupanya telah mewarnai munculnya berbagai gerakan keagamaan. Perihal tersebut tidak lain akibat tantangan hebat yang diprakarsai Barat baik dalam politik, sosial, budaya, militer, maupun problematika keagamaan.  Berbagai macam cara dilakukan untuk berusaha mengadakan kompensasi atau melarikan diri, salah satunya dengan mengingat kejayaan dan peninggalan-peninggalan Islam masa lalu atau berusaha kembali kepada identitas dasar mereka. Bisa jadi rasa kekecewaan tersebut selain berawal dari arus deras modernisasi juga berawal dari kekecewaan mereka terhadap negara karena tidak memberikan ruang yang cukup bagi seluruh segmen masyarakat untuk mengekspresikan diri dan kepentingan-kepentingan mereka.

Pertemuan berbagai agama adalah salah satu fenomena global yang sangat faktual. Namun tercatat, berbagai kejadian dan huru-hara yang mengatasnamakan agama ternyata tidak dapat dihindari. Rupanya, isu agama terlihat lebih sensitif dibandingkan berita penceraian selebritis.

Baiklah, pengamatan ini akan saya mulai dari beberapa literatur klasik. Sering kali diceritakan, hampir tidak ada agama yang terbebas dari gerakan radikal atau yang berbau ekstrem. Secara teologis, fenomena semacam ini menemukan justifikasinya sejak masa khulafaurasyidin, bahkan indikator gerakan ini sudah ada sejak masa Nabi Saw. sementara itu secara politik perlakuan tidak adil dan kezaliman baik di tingkat domestik maupun internasional dengan potret Palestina-Israel juga menjadi pemicu munculnya perlawanan dan kekerasan. Bukan di sini tempatnya untuk membahas organisasi besar dan mapan sebagai pelopor gerakan keagamaan yang disertai kekerasan, namun lebih kepada hipotesis aktif mengenai ide dasar munculnya hal tersebut.

Konsep salafiyah yang diyakini sebagai ide dasar dari salah satu kelompokm tersebut akhir-akhir ini sangat buram, bahkan terancam lepas dari makna hakikinya. Dalam perkataan Arab, salaf berarti yang lampau. Kemudian dalam perkembangan semantiknya, perkataan salaf memperoleh makna sedemikian rupa sehingga mengandung konotasi masa lampau yang berwenang dan berotoritas. Sangat logis memang, bahwa yang paling mengetahui ajaran agama dan memahaminya adalah mereka yang berkesempatan mendengar dan melihat praktik-praktik Nabi kemudian meneladaninya. Tak lain ialah para Sahabat, tabiin dan tabiit tabiin. Selanjutnya jika ditilik dari segi historis terdapat kesepakatan bahwa kata salaf secara langsung dimulai oleh Nabi sendirikemudian beranjak menelusuri dimensi kehidupan Sahabat yang kental dengan ruh dan nilai luhur Islam.kesemuanya terpancar dari pola kehidupan dan perilaku para Sahabat yang arif dan toleran terhadap perbedaan.

Genre pemikiran salaf murni dinilai sangat reformistik, sekalipun mereka tetap mengahrgai esensi Islam yang terdapat dalam beberapa disiplin ilmu seperti filsafat dan tasawuf, tanpa berusaha untuk membumihanguskannya. Sebaliknya, tren salafisme (model baru) yang semakin gencar di berbagai belahan dunia justru memberangus habis-habisan semua nilai sufistik. Maka, tak heran ketika kolonial Barat muali getol untuk memack up kelompok ini, karena mereka sepenuhnya tahu bahwa ketika Islam jauh dari esensinya maka akan sangat mudah dihancurkan.

Ingin memunculkan model nilai-nilai Islam terdahulu merupakan citra dari gerakan ini, terutama di awal abad 20. Salafisme yang didengungkan mulai melebur dan berubah menajdi ideologi yang suprematif, yaitu memunculkan tren-tren salafisme tanpa melihat lebih jauh modernisasi sebagai akibat dari lajunya peradaban dunia. Sebenarnya, yang disayangkan bukan term salafnya, namun reinterpretasi yang diniali kurang sesuai itulah yang semstinya ditinjaklanjuti. Ironisnya, salafiyah yang ada sudah menjadi komoditas politik dan tercampur dengan ideoogi tertentu, perihal inilah yang menajdikan alur salafiyah semakin bercabang.

Dalam rangkain sejarah, setidaknya terdapat beebrapa tokoh yang menggencarkan salafiyah, sebut saja Ahmad bin Hanbal, Ibnu Taimiyyah, Ibnu Qayyim, Abdul Wahab, Muhammad Abduh, Jamaluddin al-Afghani dan masih banyak sederetan sarjana Islam lain yang ikut berpartisipasi dalam mengembalikan citra salafinya. Namun, sebuah kenyataan sejarah Islam dalam hal ini memiliki agenda yang berbeda-beda. Secara ideal mereka memang berusaha untuk menerapkan ajaran-ajaran agama secara menyeluruh, tetapi metode dan pemahaman atas teks suci serta perintah-perintah yang dikandungnya saling berbeda.

Yang paling menonjol dalam upaya ini adalah Ibnu Taimiyyah dan muridnya; Ibnu Qayyim, mereka merupakan pembaharu yang sebenarnya ketika itu, karena pembaharuan yang mereka lakukan benar-benar mencakup seluruh disiplin ilmu Islam. Mereka telah menumpas paham taklid, fanatisme mazhab fikih dan ilmu kalam yang sempat mendominasi dan mengekang pemikiran Islam selama beberapa abad. Serangan mereka terhadap tasawuf semakin gencar, dikarenakan penyimpangan-penyimpangan pemikiran dan akidah di dalamnya. Khususnya di tangan pendiri al-hulûl wa al-ittihâd.

Beranjak kepada pemikiran Abdul Wahab dengan puritanismenya. Ketika itu masyarakat muslim belum menghadapi kekuatan Barat. Oleh karenanya, sasaran yang dicanangkan Abdul Wahab terbatas pada komunitas internal muslim. Agendanya juga masih terbatas pada persoalan keagamaan, seperti bidah, khurafat, dan takhayul. Praktis masalah kenegaraan dan sistem sosial budaya belum banyak tersentuh. Nah, ketika memasuki fase abad ke-19, suasana duia telah berubah. Pada masa ini, Barat muncul sebagai kekuatan dunia yang telah mendominasi keberadaan muslim. Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha adalah manifestasi muslim yang merasa prihatin atas fenomena tersebut. Agenda persoalan Islam pun semakin berkembang dari internal menuju eksternal. Terlebih, kaum muslim harus menghadapi tantangan dari luar, yaitu modernisme. Selanjutnya, dominasi politik, ekonomi dan kultur Barat melaju kencang serta menyingkirkan posisi Islam. Dalam konteks inilah gerakan kebangkitan Islam yang semula mengambil jalur kultural dan teologis berubah menjadi gerakan politik dan ideologis. Peneguhan Islam secara gradual dilakukan melalui penolakan terhadap non-Islam (Barat).

Hal lain yang sempat dijadikan identitas kelompok ini adalah pemikiran yang tidak mau mengakui kebenran pemikiran kelompok lain. Di sisi lain, cara pandang mereka terhadap turats (doktrin dan tradisi) amat literalis-tekstual, serta menganggap teks-teks tersebut sakral, magis dan final. Pandangan inilah yang mengakibatkan mereka lebih ekstrem, fanatis dan tidak kenal kompromi. Apa yang termaktub dalam teks adalah mutlak kebenarannya dan wajib untuk memperjuangkannya sampa titik darah penghabisan.

Langkah urgen yang perlu ditempuh adalah mengupayakan reposisi term salafiyah, sebagai kerangka berpikir (manhaj al-fikr) yang tercermin dalam pemahaman generasi terbaik, yaitu para Sahabat dan pengikutnya yang selalu setia dengan berpedoman al-Quran dan Sunnah Nabi.[*]

*Dimuat di Majalah Afkar tahun 2007

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.