Abed al-Jabiri: Konflik Nalar Arab adalah Soal Bahasa

0 240

Konflik nalar Arab adalah konflik bahasa. Setidaknya itu salah satu dari sekian faktor yang membuat Abed al-Jabiri gelisah. Tapi, untuk mencapai kesepakatan itu ada serangkaian studi yang mesti kita lewati. Sebab, selain bergumul dalam ruang-ruang linguistik, bahasa juga berkait erat dengan struktur pengetahuan manusia: batasan bahasa saya juga berarti batasan dunia saya.

Seperti itu kata pembuka sekaligus pemantik diskusi dari presentator, Maulana Hartono (yang biasa disapa dengan “Mas Mathon”), di sela keseriusan kawan-kawan Lakpesdam Mesir saat merapah tiap-tiap baris dari buku Takwîn al-`Aql al-`Arabîy.

Diskusi kali ini adalah agenda terakhir di penghujung termin I. Kajian berlangsung di kediaman rekan Syadid dan Faiz, Damardash, Kota Nasr pada 4 Mei 2021. Kali ini jalannya acara diampu oleh rekan Noer Fahmi selaku moderator dan dimulai pukul 22.00 WLK.

Dialektika al-‘Arâbîy Shâni’u al-‘Arab
Dengan gaya retorisnya yang kalem, mula-mula rekan Mathon mengurai lebih dulu mata-rantai perjalanan panjang era Renaisans Arab modern (al-nahdlah). Berangkat dari konsep, teori dan jejak pendapat mengenai betapa prioritasnya bahasa Arab terhadap sisi-sisi nalar Arab (al-‘aql al-‘arabî), selain dapat menyibak pendefinisian umum tentang bagaimana ‘subjek’–apa yang dimaksud dengan nalar Arab, bagaimana sifat pergerakan dalam budaya ini, bentuk acuan otoritatif seperti apa yang harus dihubungkan, kita juga dapat meringkas dan mengikuti bentuk ini sebagai metode dalam memetakan jalur formatif dan menilik perkembangan budaya Arab secara keseluruhan.
Setelah menceburkan diri dalam alur formatif, rekan Mathon mulai menyelam lebih dalam ke area struktural. Salah satu area struktural yang ditempuh rekan Mathon dalam melacak lebih jauh pemikiran ak-Jabiri adalah dengan melalui pendekatan-pendekatan bahasa yang diadopsi oleh para ahli bahasa awal, serta konsep yang mereka gunakan saat mengumpulkan dan membatasi bahasa Arab.

Bagi al-Jabiri, ada banyak fakta yang bisa dijadikan alasan untuk memprioritaskan bahasa Arab dalam mempelajari komponen-komponen nalar Arab. Pertama, orang Arab sangat menghargai bahasanya, bahkan sampai pada tingkat pengudusan. Kedua, adanya kontribusi peradaban Islam oleh orang Arab dalam bahasa dan agama. Ketiga, adalah konsep dan mekanisme bahasa Arab itu sendiri.

Untuk mencapai fakta-fakta itu, presentator kita mencoba menyeret persoalan bahasa tersebut dengan menyoroti beberapa data teoritis umum mengenai keterkaitan antara bahasa dan pemikiran. Apakah berpikir, secara otomatis memengaruhi cara berbahasa kita, atau sebaliknya?

Meminjam teori Herder (seorang pemikir Jerman 1744-1803), ada beberapa model jawaban yang memungkinkan untuk mengatasi pertanyaan di atas. Pertama, bahasa memengaruhi pola pikir dengan pengelompokan pengalaman manusia yang akhirnya memunculkan suatu ungkapan. Bahasa-bahasa tertentu memiliki cara sendiri dalam mendeskripsikan dunianya.

Ini dapat dibuktikan—sembari membenarkan kacamatanya, rekan Mathon melanjutkan—dengan mengambil contoh antara masyarakat Eskimo yang mempunyai banyak padanan kata yang berhubungan dengan es: jenis, transformasi dan akumulasinya. Ini menunjukkan bahwa orang Eskimo memiliki gambaran tentang “dunia” salju yang lebih kaya dibanding gambaran orang yang hidup di gurun yang hanya memiliki satu kata tsalj, begitu juga sebaliknya. Orang Eskimo hanya memiliki satu kata yang berkenaan dengan padang pasir.

Memang benar, pada akhirnya masalah ini disebabkan oleh perbedaan kondisi alam, perbedaan dunia gurun dari dunia kawasan beku. Juga benar bahwa penutur bahasa Arab hari ini masih menjadi tawanan dunia yang miskin akan dunia salju, dunia yang tidak kalah miskinnya dari orang-orang Inuit akan suhu, derajat dan panasnya gurun pasir.

Kedua, argumen ini memiliki celah. Benarkah bahwa bahasa itu memengaruhi pemikiran, bukankah bahasa itu ada karena ada sesuatu yang menyebabkan sesuatu itu harus diberi bahasa? Persoalan ini didamaikan oleh teori yang mengatakan bahwa, pada awalnya manusia membedakan pengalamannya dengan pemikiran, kemudian menjadi sebuah kata dan kata-kata yang dihasilkan akan membentuk cara berpikir manusia.

Ketiga, titik tolak Abed al-Jabiri dalam menganalisis bahasa Arab yang berperan dalam membentuk cara pandang orang Arab. Masyarakat Badui dipandang menjadi pahlawan dalam menjaga bahasa Arab yang autentik. Hal ini dibuktikan dengan cara kodifikasi kamus Lisân al-‘Arab pada abad 7-8 H yang menjadikan ucapan-ucapan orang Badui sebagai referensi utama dalam pembuatan kamus. Alasannya, ucapan orang Badui yang tinggal di pedalaman dan masih terisolasi memiliki bahasa otentik yang belum terkontaminasi oleh ucapan-ucapan orang non-Arab.

Lebih lanjut, rekan Mathon menelisik proyek besar al-Khalil bin Ahmad al-Farahidi (penulis kamus Kitâb al-‘Ain 100-170 H), yang memiliki nalar matematis yang tidak bertentangan dengan sense of music, menjadi salah seorang yang pertama dalam pengkodifikasian bahasa Arab.

Ia menarik forma-forma (wazan) syair Arab yang kemudian membentuk suatu ilmu baru yaitu ‘ilm a’rud. Dengan indera musiknya yang halus, al-Farahidi menarik kategori-kategori tersembunyi (non visual) yang ada pada syair Arab kemudian menetapkan kategori-kategori teoritis-aksiomatis, dari sana kemudian dibentuk kosakata bahasa dengan mula-mula bertolak dari kerja matematis “ruang-pikiran” (imkân dzihni) namun abai pada dunia nyata yang dipersonalisasi “ruang-realitas” (imkân wâqi’).

Melihat fakta-fakta ini—analisis terhadap dua metode pengkodifikasian bahasa Arab—al-Jabiri menemukan akar masalah akan kemandekan nalar Arab. Satu sisi periwayatan bahasa yang menjadikan orang Badui sebagai referensi utama; mereka berhak mengarahkan para ulama dalam menentukan benar dan salahnya ketika hendak mengumpulkan kosa kata. Kemudian muncul kesadaran betapa penting dan bernilainya ucapan orang Badui sehingga pada gilirannya mereka memiliki sesuatu yang bisa dijual.

Di lain tempat, pengumpulan bahasa dari orang Badui niscaya memiliki pengaruh antara kehidupan mereka, utamanya karakter pemikiran dan pandangan-pandangan mereka kepada dunia. Artinya, dunia bahasa dibatasi oleh dunia kehidupan mereka dan diukur oleh standar-standar kehidupan mereka. Juga, kosa kata yang diberikan orang Badui memiliki keterbatasan ketika kata-kata menghadapi dunia abad ke-20 dimana sekarang kita tinggal, yang meniscayakan segala sisi. Sebuah masa yang tidak memiliki materi kebahasaan untuk mengekspresikan aspek-aspek ilmiah, industrial dan teknologi di dunia kontemporer.

Memang benar kata pepatah, malam selalu gagal membunuh jiwa yang bising. Di saat kepala kawan-kawan Lakpesdam penuh dengan kebisingan problematik bahasa, rekan Mathon mengakhiri ceritanya dengan ungkapan lugas dengan mengutip al-Jabiri. Akhirnya, apakah kita melebih-lebihkan ketika kita cenderung mengatakan bahwa orang Badui benar-benar pencipta “dunia” Arab. Dunia di mana orang Arab hidup pada tingkat kata, frasa, persepsi dan imajinasi, tapi pada tingkat nilai, pemahaman dan nalar sebagai suatu bahasa, dunia ini mencerminkan kemiskinan yang terceruk dan menganga.

Kurang lebih 45 menit, rekan Mathon, benar-benar mengakhiri presentasinya. Moderator kemudian mengalokasikan waktu 1o menit untuk beristirahat, yang kemudian dilanjutkan sesi diskusi.

Geliat Diskusi
Dengan intonasi bahasa Tegalnya, rekan Reza A. Zooni, menelisik pemikiran Abed al-Jabiri dengan membuat dua tilikan. Pertama, mengenai keterpengaruhan bahasa dan pemikiran (‘alâqah al-lughah bi al-fikr). Kedua, karakter bahasa Arab di era kodifikasi (khashâish al-lughah al-‘arabiyyah fi ‘ashr tadwîn).

Pada yang pertama, mengutip al-Jabiri, Reza melihat bahwa teori hipotesis relativitas bahasa Sapir-Worf bukanlah yang pertama. Teori itu sudah ada sejak JG Herder (1744-1803) dan WV Humboldt (1767-1835), sebagaimana juga pemikiran bahasa keduanya tetap dipengaruhi teori linguistik (al-nadzriah al-lughawiyah). Bagi Reza, linguistik dapat mengungkapkan gagasan, dengan artian bahasa tidak hanya sebagai alat berpikir, tapi juga di mana gagasan pemikiran itu terbentuk.

Sedang mengenai tilikannya yang kedua, meski bahasa Arab klasik itu begitu kaya dan pada era kodifikasi akar bahasa Arab sudah dibakukan melalui orang Badui sehingga dapat dipelajari, namun di sisi lain metode yang digunakan dalam pengumpulan bahasa itu seolah menyaingi sesuatu yang salîqah dan fitrah, yang kemudian membuat bahasa Arab menjadi tidak berkembang. Di sini rekan Reza memberi bukti dengan beberapa kasus, bahasa lokal (amiyah) lebih mengatasi persoalan hidup daripada bahasa Arab klasik (fusha), dan mau tidak mau bahasa lokal ini menjadi lebih dominan dalam berpikir dan melihat dunia.

Suasana kajian yang awalnya berapi-api, lambat-lambat sedikit lebih tenang dan sentosa dengan masuknya rekan Muhammad Kaffabih, pria yang selalu digosip para wanita sebab sifatnya yang kalem dan membuat cenat-cenut. Meski dengan sifat pendiamnya, namun untuk mengomentari al-Jabiri, rekan Kaffabih tidak berat bibir.\

Ia memulai diskusi dengan bertanya mengapa untuk menjelaskan metodologi mengenai tata-bahasa, al-Jabiri mengambil ilmuwan semisal al-Khalil al-Farahidi sebagai contoh yang kemudian dijawab sendiri olehnya. Menurutnya, jelas al-Farahidi lah yang membuat kamus. Melalui al-Farahidi, bahasa yang hanya bisa dipelajari dan dipahami dengan hidup di antara suku-suku yang menggunakannya, dipindah ke suatu konstruksi di mana bahasa dapat digunakan dan dipelajari dengan cara yang sama sebagaimana pengetahuan itu diperoleh: bentuk, prinsip-prinsip dan pengantar metodologi yang ketat. Kaffabih mencontohkan semisal dari 28 huruf ‘telanjang’ itu, kita bisa ambil tiga huruf kaf, ba dan ra, jika dikombinasikan dapat menjadi kabara, baraka dan rakiba.

Meski moderator adalah makhluk biotik yang paling banyak celoteh dari awal sampai akhir waktu kajian, namun jalannya acara mutlak kuasanya. Di sini rekan Noer Fahmi lebih memberi tekanan pada konsekuensi bahasa Arab atas nalar Arab. Bagi Noer Fahmi, bahasa Arab barangkali sudah menjadi bahasa yang hidup, baik kata-kata, tata-bahasa dan strukturnya, setidaknya sejak empat belas abad lalu.

Perselisihan dalam hal doktrinal (aqîdah) maupun legal (fiqhiyyah), disebabkan kekayaan makna kata dan keragaman yang menjadi ciri konstruksi bahasa Arab. Kita menyadari, sejauh mana bahasa ini dapat berdampak pada pikiran dan persepsinya tentang hal-hal Arab, cara pandang yang pasti dipengaruhi sedikit atau banyak, oleh pandangan yang dibawa bahasa Arab sejak era kodifikasi itu sendiri.

Berbeda dengan Noer Fahmi, rekan Arfan Maskuri lebih menyukai jalur empirisnya John Locke dalam mendekati teks-teks al-Jabiri. Senada dengan kawan-kawan lain, menurutnya, bagaimana pun kondisinya bahasa tetap memiliki peran penting dalam kehidupan kognitif kita. Tapi—sambil mengelu-elus kening—, rekan Arfan menyadari kalau penggunaan bahasa yang tidak tepat adalah salah satu hambatan terbesar bagi pengetahuan dan pemikiran yang jernih.

Pelan-pelan rekan Arfan menawarkan diagnosis masalah yang disebabkan oleh bahasa. Ia memberi contoh seorang bayi manusia. Seorang bayi yang baru lahir ibarat papan tulis kosong atau sebuah kamera tanpa memori. Berjalan dewasa, si anak kemudian diajarkan nama-nama oleh orang tuanya. Katakanlah orang tua mengajarkan si anak kata ‘demokrasi’ di usia muda, tapi si anak membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk membentuk gagasan yang jelas tentang apa itu demokrasi dan bagaimana dia harus menggunakannya. Akhirnya, kata-kata dalam “makna” utamanya (atau makna yang diinginkan) tidak berarti apa-apa, kecuali gagasan ‘yang-ada’ di dalam pikirannya yang menggunakannya.

Meski paling akhir berkomentar dalam diskusi, rekan Firman Fibriantoko tidak kehilangan sentuhan intelektualnya, karena seperti yang kita tahu: malam selalu menunggu orang yang terakhir. “Bahasa Arab klasik adalah bahasa kamus, sastra dan puisi, atau dalam satu tarikan napas bisa kita sebut sebagai bahasa budaya”, setidaknya itu kata-kata awal yang terlepas dari rekan Firman. Hal ini bisa kita lacak dari keterus-menerusan bagaimana bahasa Arab ini diproduksi.

“Untuk menjelaskan lebih,” lanjut Firman, “kita bisa menggunakan Saussure”. Sebagaimana yang dikemukakan Saussure, “A linguistic system is a series of differences of sound combined with a series of differences of ideas”. Jelasnya, bahwa sebuah sistem linguistik adalah serangkaian perbedaan suara yang dikombinasikan dengan serangkaian perbedaan ide. Di sini kalau kita ambil garis lurus, kita akan menemukan watak bahasa Itu membentuk sistem yang khas dan bercorak sistematik-strukturalistik. Itu juga yang menjelaskan mengapa bahasa orang Ngapak berbeda dengan bahasa orang Jogja, padahal masih satu rumpun bahasa Jawa. Persis sebagaimana Saussure dan al-Jabiri: bahasa adalah sesuatu yang menakjubkan (mu’jizah), tapi banyak orang yang salah paham karenanya.

***

Jika kita ingat-ingat kembali, apa yang harus dipahami untuk berubah adalah bahwa pikiran Arab tetap terikat, sampai hari ini, dengan dunia indra non-historis yang dibangun oleh era kodifikasi, berdasarkan derajat terendah peradaban Arab sepanjang sejarah. Ah, agaknya sekitar empat jam lebih kawan-kawan Lakpesdam membicarakan Abed al-Jabiri. Tepat pukul 2.30 pagi acara diskusi Lapkesdam berakhir. Waktunya sahur. [Mahar]

*Kajian Metodologi Buku Takwîn al-`Aql al-`Araby oleh Maulana Hartono, Anggota Lakpesdam Mesir

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.