Semenjak pandemi, kematian akibat Covid-19 merupa kabar harian. Tidak menafikan kematian dengan sebab lain, lelayu yang begitu beruntun juga mendesak mereka yang sehat untuk bisa saling membantu mengurus jenazah. Pemulasaraan jenazah, dengan demikian merupakan keterampilan yang mau tidak mau harus dipelajari.
Oleh karena Masisir pasti akan kembali ke masyarakat, Fatayat NU Mesir melihat pentingnya membekali mereka bagaimana cara mengurus jenazah; memandikan dan mengkafani.
“Pelatihan tersebut diadakan karena melihat begitu urgennya tata cara mengurus jenazah. Sudah lama pula tidak diselenggarakan pelatihan tajhizul mayyit ini di kalangan Masisir,” terang Tanzila Feby Ketua PCI Fatayat NU Mesir
Masisir memiliki perhatian khusus terhadap bagaimana jenzah diperlakukan. Dalam waktu lima jam sejak pendaftaran dibuka, kuota yang hanya dibatasi 40 peserta telah penuh.
Pembatasan jumlah peserta dimaksudkan untuk menghindari kerumunan besar, sebab gelombang keempat Covid-19 varian Delta sudah memasuki Mesir sejak awal September lalu. Pembatasan juga dilakukan supaya materi yang disampaikan efektif.
Tidak hanya Masisir, ternyata kawan-kawan asal Malaysia juga menaruh perhatian tertentu terhadap pemulasaraan jenazah. Empat dari mereka turut mengikuti pelatihan yang difasilitasi oleh Fatayat NU Mesir bersama Keputrian Marhalah Aksara PCINU Mesir (kedatangan 2021) itu.
Ustazah Qotrun Nada, pelatih pemulasaraan menjelaskan bagaimana kewajiban seorang muslim terhadap jenazah saudaranya muslim, juga kepada nonmuslim dzimmi maupun non-dzimmi.
Setelah pemaparan materi, mahasiswi pascasarjana Universitas al-Azhar jurusan Fikih Am itu membimbing praktik pemulasaraan jenazah secara langsung.
Reporter: Zaini
Editor: Hamidah











