Numesir
  • Profil
  • Warta
  • Opini
  • Kolom
  • Internasional
  • Ubuddiyah
  • Sejarah
    • Kajian
      • Kajian Lakpesdam
    • Tokoh
    • Terjemah
    • Resensi
No Result
View All Result
NU Mesir
  • Profil
  • Warta
  • Opini
  • Kolom
  • Internasional
  • Ubuddiyah
  • Sejarah
    • Kajian
      • Kajian Lakpesdam
    • Tokoh
    • Terjemah
    • Resensi
No Result
View All Result
NU Mesir
No Result
View All Result
Home Kolom

Fenomenologi Kebertuhanan

numesir by numesir
27 July 2021
in Kolom
0
0
SHARES
134
VIEWS
Share on FacebookShare on TwitterShare on Whatsapp

Lâ huwa illa Huwa.

Pembacaan tentang Tuhan memiliki keunikan di satu sisi, dan tantangan di sisi lain. Bukan saja karena terjalnya altar perjumpaan antara pencipta dengan yang diciptakan, tapi persoalan yang lebih filosofis adalah menjadi rumit bahwa saat entitas yang imanen, mewaktu, dan terikat oleh spasio-temporal tertentu berusaha menggapai Yang Maha-, Yang Tak Terbatas, Nirwaktu, dan Transendental. Dari kedua entitas itu, masing-masing memiliki identitas yang berbeda secara radikal.

Manusia dalam kenyataannya adalah—dalam bahasa Heidegger—seorang Dasein yang terlempar dalam suatu dunia Ada tanpa memiliki otoritas apapun terhadap keberadaannya itu. Jangankan bisa mengatur apa yang harus terjadi padanya besok, suatu momen keterlemparannya pun dalam lokus Ada tidak mampu ia intervensi. Singkatnya, manusia dalam awal kejadiannya—dalam hal ini pada ranah eksistensial—tidak memiliki daya apa-apa.

Lalu bagaimana dengan zat kedua yaitu Tuhan? Dalam kacamata semua agama bahkan pada tahap kesadaran fundamental manusia, kata Tuhan memiliki sakralitasnya tersendiri, terlepas dari masing-masing kelompok dalam menghayati entitas Tuhan. Ada yang menariknya ke arah fisik dan personifikatif, hingga menempatkannya sebagai penggerak awal semesta (metafisik).

Kedua entitas itu memiliki karakteristik yang sama sekali berbeda. Suatu hubungan antara yang adikuasa dengan yang lemah tanpa daya, antara yang sakral dengan yang profan, hingga pada hubungan pengada dan yang di-ada-kan.

Tapi pembicaraan tentang kerumitan menuangkan zat yang transendental kepada wahana bahasa tidak selesai sampai di situ. Dalam terang dogma al-Quran, ketika membahasakan Tuhan kita dihadapkan dengan persoalan yang rumit tapi unik. Pengkaji seputar Tuhan dalam al-Quran “seolah” dihadapkan dengan kontradiksi yang dalam kacamata kritikusnya dianggap sebagai titik kelemahan al-Quran dalam menjelaskan Tuhan, yang secara teoritis merupakan logosentris dalam keyakinan beragama. Terlebih, agama itu yang mendaku sebagai agama monoteis.

Kontradiksi tersebut menjadi sangat tampak saat kita membaca secara sekilas (literal) ayat yang menjelaskan tentang nama Tuhan. Al-Quran menegaskan di suatu waktu sifat Yang Batin, tapi di sisi lain Tuhan dinarasikan sebagai entitas Yang Zahir, benderang. Terkadang Tuhan tersemat sifat belas kasih nan penyayang, di saat yang sama Ia diproklamirkan sebagai Zat Yang Tegas dan Penakluk. Kadang Ia Pemberi, kadang ia juga Pencegah (tidak memberi). Kadang Ia Pemberi Manfaat dan Dia juga Yang Memberi Mudarat.

Bertuhan secara Fenomenologis

Edmund Husserl—sebagai pencetus fenomenologi—mengenalkan sebuah konsep tentang dunia yang dihayati (lebenswelt) oleh kesadaran. Sebuah dunia yang belum ditafsirkan oleh ilmu pengetahuan dan filsafat. Itulah dunia yang polos, apa adanya. Sebuah dunia yang belum dijamah oleh berbagai kategori pemikiran atau oleh beragam teori. Dalam paradigma ini, mencari fenomena kebertuhanan adalah dengan mencoba mengarahkan kesadaran (intensionalitas) kepada fenomena kehadiran Tuhan dalam kehidupan. Aktivitas kesadaran ini dalam terang fenomenologi harus menunda sementara akan sebuah tendensi penilaian, penarikan kesimpulan (ephoche), yang dalam hal ini mencoba “meraba” Tuhan dalam lokus intuitif dengan menanggalkan segala asumsi tentang-Nya. Sebuah usaha untuk masuk ke ranah transendental.

Dalam meraih fenomena ketuhanan, perlu diketengahkan tentang karakteristik manusia sebagai subjek (noesis). Kita sering menjumpai sebuah adagium bahwa manusia adalah hewan yang beragama (al-insân hayawân mutadayyin), sebagai pembanding dari ucapan terkenal dalam diskursus mantik; manusia sebagai hewan yang berakal. Tidak berlebihan kiranya jika kita renungkan pernyataan bahwa manusia adalah makhluk yang beragama (bertuhan) itu. Bukan hanya sebagai langkah spekulatif dan pembelaan karena kita adalah orang yang sedang mengalami penghayatan itu (lokus keimanan), tapi dalam maqalah ini terdapat sebuah bangunan kesadaran yang terkristal dalam sekat bahasa—yang dalam hal ini adagium itu.

Artinya, kesadaran beragama (bertuhan) dalam taraf kesadaran manusia merupakan identitas fundamental kesadaran manusia. Suatu ranah tabu yang hanya mampu dirasakan oleh manusia sebagai subjek. Karena itu, menurut hemat penulis, persoalan ateisme dalam berbagai bentuknya—dalam terang fenomenologi—bukanlah sesuatu yang murni dalam kesadaran, ia sudah didahului oleh berbagai macam presuposisi dalam berbagai variannya; ideologis, ekonomis, dan kepentingan. Singkatnya, ateisme sudah digagahi oleh pseudo-pengetahuan.

Ada hadis yang masyhur di kalangan umat Islam tentang motivasi untuk selalu berintrospeksi; barangsiapa yang mengenal dirinya maka ia akan mengenal Tuhannya. Hadis ini seolah menyiratkan dan sekaligus memperkuat adagium itu, di mana sekat pemisah antara Tuhan dan manusia hanyalah pada ranah kesadaran. Dengan kata lain, dengan sadar bahwa kita tidak terlepas dari segala bentuk kekurangan, maka kita akan menuju puncak intuisi yang mengarahkan pada kesadaran bahwa ada yang sempurna yang menaungi segalanya, Allah.

Berikutnya, dalam tradisi ilmu kalam kita sering menjumpai sebuah analogi (qiyas) dalam penetapan akan Tuhan (itsbât al-shâni’): alam mengalami perubahan, setiap yang berubah membutuhkan entitas pengubah (Tuhan), maka alam membutuhkan Tuhan. Dari bangunan logika ini, kita menemukan sebuah kesadaran—dan sekaligus tesis penguat dari penjabaran di atas—bahwa bertuhan adalah suatu aktivitas yang niscaya dan fundamental dalam kehidupan manusia. Manusia terlempar ke dunia ini tidak dengan serta merta, tanpa intervensi dan otoritas dari dirinya akan keterlemparan itu. Dengan demikian, dengan segala inferioritas itu, menjadi mustahil memaksa kesadaran alamiah manusia untuk menghapus kehadiran Tuhan dalam jiwanya.

Wahdatul wujud dan Kesadaran Transendental

Pada akhirnya, setelah menilik fenomena keber-tuhan-an di atas, perlu disampaikan di sini tentang aktivitas kesadaran akan Tuhan dalam tradisi (turats). Ada sebuah konsep filosofis yang kontroversial dalam tradisi tasawuf yaitu wahdatul wujud (the unity of existence). Dalam konsep ini, misalnya dalam tasawuf Ibnu Arabi, manusia pada awalnya memiliki fenomena intuisi berupa fana (annihilation), suatu tingkatan tertinggi dalam makam tasawuf, yaitu tenggelam dalam satu objek; fananya seorang hamba dalam keterikatannya dengan entitas selain Allah, dan kebakaannya dalam bersandar kepada Tuhan.

Tapi perlu dicatat di sini bahwa kefanaan ini bukanlah kerusakan secara fisis atau lahiriah (haqîqî), tapi lebih pada suatu aktivitas mental yang suatu waktu terjadi kepada orang yang fana itu (amr syu’ûri), ia hanya bersifat sementara dan tidak menetap pada seseorang yang mengalaminya (Hasan al-Fatîh, Falsafah Wahdah al-Wujûd: 1997).

Dalam konsep di atas, fenomena bertuhan dalam tradisi sufi mirip dengan tema yang sedang didiskusikan dalam tulisan ini, fenomenologi keber-tuhan-an. Saat di mana seorang yang mengalami fana itu sedang pada taraf kesadaran transendental. Sebuah fase di mana ia menanggalkan semua jaket kemanusiaannya untuk menemui sebuah fenomena yang tertinggi dalam kesadarannya. Hal ini dalam fenomenologi Husserl dikenal sebagai reduksi fenomenologis, menyingkirkan segala sesuatu yang subjektif dan menyaring pengalaman-pengalaman untuk mendapat fenomena-fenomena dalam wujud murni.

Perengkuhan hakikat bertuhan dalam kultur kaum sufi, yang dalam hal ini pada konsep wahdatul wujud, merupakan sebuah upaya merengkuh hakikat penyatuan yang paling tinggi dalam lanskap kesadaran eksistensial. Kaum sufi mabuk dengan sebuah persoalan makna yang rumit namun asyik; cinta, hingga bahasa hancur berkeping ketika mencoba mengejawantahkannya ke dalam wahana. Tak ayal, banyak kaum sufi yang dituduh pengkhianat tauhid (kafir) bahkan tidak segan dibunuh karena kelemahan bahasa dalam mengungkap apa yang bertaut dalam jiwanya: cinta.

ShareTweetSend
numesir

numesir

Akun tim redaksi numesir.net 2022-2024. Dikelola oleh Divisi Website Lembaga Ta’lif wa Nasyr (LTN) PCINU Mesir.

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
Rayakan Momen Idulfitri, PCINU Mesir adakan Halalbihalal dan Pesta Nahdliyin

Rayakan Momen Idulfitri, PCINU Mesir adakan Halalbihalal dan Pesta Nahdliyin

21 April 2024
Karakteristik Nalar Arab

Karakteristik Nalar Arab

20 July 2021
Neo-Salafisme Wahabi; Dilema Pengusung Ultra-tekstualisme Agama

Resolusi Jihad: Dulu dan untuk Kini(?)

21 October 2018
Sayidah Aisyah Ra. dari Sisi Lain

Sayidah Aisyah Ra. dari Sisi Lain

15 April 2020
PD-PKPNU PCINU Mesir Angkatan I Resmi Dibuka, Hadirkan Instruktur PBNU dan 60 Peserta

PD-PKPNU PCINU Mesir Angkatan I Resmi Dibuka, Hadirkan Instruktur PBNU dan 60 Peserta

25 April 2025

Sebagai Bentuk Kepedulian, PCINU Mesir Gelar Istigasah Kubra untuk Sumatera

10 December 2025
NU Care-Lazisnu Kirim Tiga Kontainer Bantuan Kemanusiaan ke Perbatasan Gaza

NU Care-Lazisnu Kirim Tiga Kontainer Bantuan Kemanusiaan ke Perbatasan Gaza

10 December 2025
Menyambangi Nahdliyyin Mesir, Gus Ulil Tekankan Pentingnya Sebuah Peradaban

Menyambangi Nahdliyyin Mesir, Gus Ulil Tekankan Pentingnya Sebuah Peradaban

25 September 2025
Bertemu Menteri Wakaf Mesir, PBNU Kokohkan Kemitraan Strategis

Bertemu Menteri Wakaf Mesir, PBNU Kokohkan Kemitraan Strategis

25 September 2025
Bukti Nyata Diplomasi Budaya, ISHARI NU Mesir Tampil Memukau pada Acara Muktamar Internasional

Bukti Nyata Diplomasi Budaya, ISHARI NU Mesir Tampil Memukau pada Acara Muktamar Internasional

16 September 2025

Numesri.net putih

Tentang Kami | Kontak | Redaksi | Kirim Tulisan

Ikuti juga sosial media kami

  • Profil
  • Warta
  • Opini
  • Kolom
  • Internasional
  • Sejarah
  • Kajian
  • Tokoh
  • Ubuddiyah
  • Terjemah