Forum Kajian Fatayat Study Club, Sebuah Gebrakan Baru

0 348

Dalam membangun fondasi intelektual yang matang, warga Nahdliyin acap kali mengadakan forum-forum kajian untuk menunjang proses intelektual seseorang demi mewujudkan kader Nahdliyin yang siap untuk menjadi penerus para kiainya. Pasalnya, kajian merupakan tombak paling ampuh dalam memperkuat fondasi intelektual, adanya ruang diskusi yang masif menjadi ruang paling pas dalam menyalurkan ide dan hasil bacaan, sehingga dapat mewujudkan pemahaman yang utuh.

Di Mesir, kajian merupakan forum paling klasik untuk dijadikan sebagai bukti bahwa geliat literasi yang ada di Masisir (Mahasiswa Indonesia di Mesir) tidak redup. Sampai saat ini, mahasiwa Nahdliyin sendiri masif mengadakan forum kajian reguler seperti Lakpesdam dan SASC. Sayangnya, kebanyakan forum seperti ini didominasi oleh kaum laki-laki, tidak banyak Masisirwati yang berpartisipasi di dalam ruang diskusi ini. Dari sinilah PCI Fatayat Mesir merintis gebrakan baru yang dilingkupi oleh anggota perempuan saja.

Berikut petikan wawancara Kunti Zulva Rd. redaktur ahli buletin Bedug dengan Koor. Divisi Pendidikan di PCI Fatayat Mesir, Dzurriyah Ahsantiyah saat menghadiri acara pembukaan forum kajian Fatayat Study Club di Sekretariat PCINU Darrasah, Kairo (26/03) lalu.

Bisa dijelaskan apa faktor yang melatarbelakangi dirintisnya forum kajian ini?

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi minimnya Masisirwati dalam forum kajian dalam dunia literasi Masisir, salah satunya adalah keterbatasan waktu yang melewati jam malam. Kebanyakan forum kajian di Mesir berlangsung hingga petang. Selain itu, tidak semua Masisirwati nyaman dalam ruang diskusi yang didominasi oleh laki-laki. Berangkat dari kegelisahan ini, PCI Fatayat Mesir yang dinahkodai oleh Tanzila Feby merintis sebuah gebrakan baru yang dikhususkan untuk Masisirwati, yaitu forum kajian bernama Fatayat Study Club (FSC).

Kapan diadakan perekrutan anggota untuk forum kajian ini?

Dalam hal ini, PCI Fatayat Mesir telah mengadakan open recruitment pada 22 hingga 24 Maret 2021. Alhamdulillah antusias Masisirwati cukup bagus, telah tercatat lebih dari 30 mahasiswi yang mendaftar dalam database google form yang disediakan. Dalam perekrutannya, Fatayat juga menimbang pendaftar terkait hasil bacaannya yang disuguhkan dalam bentuk kolom resume yang telah disediakan.

Pada 26 Maret 2021, pengumuman FSC dikabarkan melalui media sosial PCI Fatayat Mesir baik yang ada di instagram maupun facebook. Usai pengumuman pada hari yang sama, pengurus FSC mengadakan penggambaran bagaimana berjalannya ruang diskusi nanti. Ada dua pembagian kelompok, masing-masing beranggotakan 19 orang. Nantinya kajian ini akan berlangsung mingguan, yakni setiap Ahad dimulai pukul 10.00 pagi.

Apakah ada yang membimbing dalam forum kajian ini?

Di dalam lingkar kajian, tentu akan ada satu orang yang dijadikan sebagai penashih untuk dapat membimbing secara esensial dalam membenarkan pendapat sesuai dengan kaidah-kaidah yang tertera. Saudari yang bersedia adalah Saudah Fauzi, mahasiswi al-Azhar Kairo, jurusan Syariah Islamiyah yang sedang menempuh pendidikan strata satu tingkat akhir.

Buku apa yang digunakan sebagai bahan utama dalam pembahasan di forum kajian ini?

Kajian ini menggunakan buku primer yakni Tarikh Ushul Fiqih yang dikarang oleh Prof. Ali Jum’ah. Selain itu, para anggota juga diharuskan menyuguhkan bahan bacaan sekunder, untuk menambah maklumat lain serta dapat mengaktifkan suasana di dalam ruang diskusi nantinya.

Apa pesan dan harapan yang ingin disampaikan, khususnya kepada para Masisirwati?

Kita merupakan kader bangsa yang akan tumbuh dan berkembang. Lisensi kita sebagai sarjana Azhar tidak lepas dari geliat intelektual, harus tumbuh secara utuh. Sangat disayangkan jika pemahaman kita diendapkan, namun tidak kita tuangkan ke dalam proses dialektika, tukar pemahaman yang dapat memberikan pencerahan.

Harapannya dengan jargon yang kami bentuk, yaitu ‘saatnya perempuan berbicara’ dalam FSC ini semoga dapat mengaktifkan dialektika Masisirwati secara khusus, sehingga kegiatan ini terus masif dilakukan, dan mewujudkan kader perempuan yang aktif dalam berkarya, dan berwibawa secara intelektual.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.