Gugatan Al-Jabiri atas Pembacaan Turas di Era Kodifikasi

0 299

 

Era kodifikasi (143 H.) menjadi momen penting dalam latar sejarah pemikiran Islam, setidaknya sebagai gerbang utama rancang-bangun intelektual di masa Islam klasik. Ia tidak hanya menandai era di mana keilmuan Islam menjadi suatu konstruksi utuh hasil kerja ilmiah para ilmuan muslim, namun juga sebagai batu loncatan genealogi keilmuan Islam di babak selanjutnya. Singkatnya, era kodifikasi (‘Ashr at-Tadwîn) sebagai produk pemikiran sejak era pra-Islam hingga masa sahabat (marhalah at-Takawwun), juga sebagai pembentuk nalar Arab-Islam di era selanjutnya hingga masa kini (marhalah at-Takwîn).

Namun dengan stigma yang begitu mentereng itu, Abed al-Jabiri mencoba menguji dan melakukan analisis terhadap bangunan turas yang terkristal dalam suatu era yang disebut-sebut sebagai penanda awal perjalanan panjang sejarah intelektual Islam. Mula-mula al-Jabiri menilik suatu term yang menjadi fondasi awal munculnya agama Islam yaitu masa Jahiliah. Dalam hal ini al-Jabiri menampilkan dua gambaran: pertama, ada suatu indoktrinasi secara dogmatis dalam kesadaran tradisi akan wajah masa jahiliah yang digambarkan bukan hanya sebagai masa kebodohan dan absennya ilmu pengetahuan, tapi dianggap sebagai era yang penuh dengan chaos, ketidakteraturan sistem politik, hingga ketiadaan moral (agama).

Kedua, al-Jabiri mencoba mencari tradisi bisu yang hilang ditelan oleh otoritas dan tradisi Islam, yaitu gambaran intelektual di masa Jahiliah yang tidak hanya dikenal dengan gubahan syair dan sastra indah nan memanjakan telinga, tapi—dengan menilik logika-logika yang dipakai oleh Alquran—masa Jahiliah tidak seburuk yang dibayangkan dalam gambaran pertama. Dengan melihat pada Alquran tadi, tidak rasional rasanya jika logika semapan itu dihadapkan kepada wicara yang digambarkan penuh kebodohan dan penuh kekacauann itu.

Pada bagian berikutnya al-Jabiri menampilkan sebuah gambaran apik nan metaforis yang menggambarkan bagaimana kerja konstruksi kesadaran manusia, bahkan sebuah peradaban. Ia menganalogikan dengan astronot yang terbang di luar angkasa menggunakan baju khusus dan kapal ruang angkasa, baju dan kapal yang ia tunggangi seolah menjadi batas kesadaran sang astronot dalam melihat segala objek, atau dengan meminjam bahasa Gadamer sebagai pra-pemahaman.

Pun begitu halnya dengan tradisi Islam, era kodifikasi dianggap sebagai sebuah pembatas konstruksi intelektual budaya Arab Islam dalam melihat dan menilai sebuah objek. Tabir pembatas ini dalam istilah al-Jabiri disebut sebagai al-Ithâr al-Marji’i. Konstruksi budaya ini yang menjadi sebuah cara pandang dunia (world view) bagi orang atau peradaban yang tumbuh di dalamya. Fragmen dari konstruksi ini berupa pemahaman akan objek, intellectual tools, serta nilai estetik (morality).

Terakhir, dengan khas Gadamerian, al-Jabiri mencoba menggugat bangunan epistem tradisi yang hanya mencatatkan sebuah tradisi pemenang. Baginya, dalam pembacaan modern tidak cukup membaca teks yang tampak secara benderang dalam terang teks—yang dalam hal ini tradisi—tapi perlu juga membaca teks “bungkam” dalam konstruksi budaya Arab-Islam (al-Maskût ‘anhu).

Dalam gugatannya al-Jabiri menyebutkan tradisi bisu yang teralienasi itu dalam beberapa poin, di antaranya, kodifikasi ilmu dalam mazhab Syiah, mengingat bahwa Imam Ja’far as-Shâdiq (148 H.) telah melakukan pembukuan Hadis, Fikih, dan Tafsir dalam terang kacamata Syiah. Berikutnya adalah kodifikasi dalam politik, hal ini yang tampak dalam kerja intelektual Ibnu al-Muqaffa’ dalam melakukan arabisasi tulisan-tulisan tentang politik dari bangsa Persia. Kedua poin ini adalah salah satu dari sekian data yang ditampilkan oleh al-Jabiri tentang apa yang ia sebut sebagai tradisi bisu, teralienasi, dan kalah di hadapan superioritas tradisi Arab-Islam dalam terang era Ashr at-Tadwîn.

Laporan Kajian Metodologi Buku Takwîn al-`Aql al-`Araby, Lakpesdam Mesir, 27 April 2021

Oleh: Muhammad Syadidul Isytiher

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.