Imbang Melihat Tragedi Para Sufi

0 283

Kitab tasawuf seperti Ihyâ’ ‘Ulûmiddîn tidak asing di telinga para pelajar Islam. Imam Ghazali. Selain memiliki gaya bahasa yang indah, ia mampu memadukan antara fikih dan tasawuf. Ketika masih di pondok pesantren, penulis sering mendengar sebuah anjuran semacam jangan pulang dulu, sebelum khatam kitab Ihyâ’.

 

Konsep-konsep yang ditawarkan tasawuf seperti  zuhud, mahabah (tenggelam dalam cinta Ilahi) dan berbagai makam yang lain sangat mungkin memikat hati siapa saja yang terlelap oleh hingar-bingar dunia yang tak berkesudahan itu. Tak heran jika ilmu ini digemari pula oleh kalangan awam yang turut mengaji di surau-surau atau di majelis taklim.

 

Jika merujuk pada sejarah awal kemunculan, antusias masyarakat terhadap laku sufi—sebagaimana yang dikatakan Abdul Hamid Madkur—berangkat dari adanya instabilitas politik serta ketimpangan sosial yang terjadi. Keadaan semacam ini ‘memaksa’ mereka untuk memilih tasawuf sebagai jalan hidup, terlebih jika dibarengi dengan himpitan ekonomi yang mendera. Tasawuf menjadi angin segar bagi mereka. Dalam hal ini, Madkur mengutip pendapat Ahmad Amin di dalam Dhahru al-Islâm;

 

Banyak dari kalangan Islam meminimalisir berbagai tuntutan hidupnya dan melatih diri untuk berpola hidup zuhud ketika sudah berputus asa atas apa yang telah diharap-harapkan. Dari sinilah mereka mulai banyak mengenal ajaran tasawuf sebagaimana adagium: bila sudah tidak ada apa yang kau inginkan, maka inginkanlah apa yang ada”.

 

Pendapat di atas boleh jadi ada benarnya, sebab motivasi untuk menggeluti dunia tasawuf bisa datang dari arah mana saja. Namun sayangnya, narasi yang dibangun oleh Abdul Hamid di atas terlalu menampilkan sisi ketidaksiapan manusia dalam menghadapi keadaan, sehingga lebih mengesankan tasawuf sebagai ajang pelarian dari hingar-bingar kehidupan ‘dalam arti negatif’. Padahal nyatanya tidaklah demikian. Apresiasi tinggi dari masyarakat terhadap tasawuf, menurut penulis lebih diposisikan sebagai lahirnya kesadaran dalam diri masyarakat akan manisnya sentuhan-sentuhan emosional. Sentuhan inilah yang mampu menggoda nurani siapapun untuk berada di jalan tasawuf. Terlebih, ilmu ini tidak hanya  berkutat pada tataran teori belaka, tetapi lebih menuntut praktik atau pengamalan kepada para penganutnya ‘setiap saat’.

 

Terlepas dari semua anggapan di atas, tasawuf sebagai sebuah ilmu melewati berbagai fase dan tantangan tersendiri yang selalu menguji kematangan dirinya. Di sini, penulis akan menyoroti tragedi al-Hallaj yang cukup memberikan dampak pada perkembangan tasawuf.

 

Dinamika dan tragedi

Otoritas tasawuf sebagai sebuah ilmu sangat kental dengan nilai-nilai historis seperti yang terjadi pada kurun abad ketiga hingga keempat Hijriah. Saat itu para tokoh sufi disebut-sebut sebagai pelopor tasawuf di mana kitab-kitab mereka dijadikan referensi primer oleh generasi setelahnya. Sebutlah Imam Ghazali (504 H) yang terpengaruh oleh Abu Harits al-Muhasibi dalam menulis kanonnya, Ihyâ’ ‘Ulûmiddîn. Begitu pula, kitab Qût al-Qulûb karangan Abu Thalib al-Makki (w. 386 H) yang sangat memengaruhi para penganut tarekat al-Syadzuliyah yang menginduk kepada Syekh Abu Hasan al-Syadzuli. Bahkan, ia berpesan kepada para pengikutnya: “Jadikanlah semangat kalian ketika membaca Qût al-Qulûb sebagaimana kalian bersemangat menghilangkan penyakit batin yang bersemayam di dalam hati kalian”.

Pergolakan politik yang terjadi pada masa pemerintahan Abbasiyah ditandai dengan banyaknya barisan oposisi yang menghantui kekuasaan, seperti kelompok sayap garis keras Qaramithah pimpinan Abu Said al-Jabani. Pada masa ini juga terjadi berbagai peperangan dengan imperium Romawi. Namun, pergolakan tersebut tidak menyurutkan geliat intelektual yang terjadi saat itu. Hal ini ditandai dengan munculnya tokoh intelektual dan cendekiawan muslim di berbagai fan, ditambah dengan adanya gerakan penerjemahan secara besar-besaran terhadap literatur Yunani serta didirikannya berbagai perpustakaan besar di pusat-pusat kota seperti Basrah.

 

Di dalam bidang tasawuf sendiri, muncul tokoh-tokoh besar seperti Abu Yazid al-Busthami, Dzunnun al-Misri dan Junaid al-Baghdadi yang turut memperkukuh fondasi keilmuan tasawuf.

 

Selain pematangan tasawuf, pada masa ini pula jagat tasawuf digemparkan oleh eksekusi al-Hallaj (w. 309 H). Al-Hallaj diadili secara fikih karena ucapan dan gagasannya yang menuai banyak kontroversi                     (Halajiyat).

 

Di antara puisinya yang kontroversial:

Ruh-Mu menyerap dalam ruhku bagai anggur yang larut pada air bening, bila suatu menyentuh-Mu, ia menyentuhku. Maka Engkau adalah aku dalam keseluruhan.

 

Puisi-puisi al-Hallaj itu mengagetkan dunia intelektual khususnya fikih. Puisi, pada saat itu merupakan media yang paling aktif dalam membentuk opini publik, maka tak heran jika gagasan-gagasan al-Hallaj menuai banyak tanggapan secara luas dari yang positif sampai negatif.

 

Di dalam kitab ‘Iânat al-Thâlibîn terdapat fatwa Syekh Izzuddin bin Abdissalam bahwa seorang wali jika mengatakan “saya Allah” maka boleh ditakzir secara syariat sekalipun hal itu tidak menghilangkan makam kewaliannya. Fatwa tersebut masih membuka ruang untuk dikritik sebab bisa saja ia mengatakan hal itu dalam keadaan tidak sepenuhnya sadar; tidak terkena taklif dan tidak bisa diadili secara fikih.

 

Dari kejadian di atas, kita bisa memahami bahwa umat Islam berbeda-beda kadar ketauhidannya. Sebagian mencukupkan diri pada keyakinan tidak ada Tuhan selain Allah SWT. Sebagian yang lain mengenal Tuhannya dengan argumentasi nalar. Tetapi, di luar sana juga terdapat orang-orang yang sudah tenggelam di dalam samudera makrifat dan ketauhidan kepada Sang Haq, sehingga mereka seakan merasa sifat-sifat tuhan telah menyatu dalam dirinya. Sikap umat Islam terhadap yang terakhir ini, ada yang mengadili namun ada pula yang mewajari, keduanya sama baiknya insya Allah.

 

Menurut Kamil Musthafa, tragedi al-Hallaj tidak memengaruhi perkembangan ilmu tasawuf, sebab gagasannya banyak ditentang oleh tokoh besar sufi kala itu. Hanya segelintir tokoh yang menerima dirinya—dengan menafsiri Halajiyat (puisi sufistik al-Hallaj) yang mengindikasikan paham ittihad (akulah kebenaran) atau mengatakan bahwa al-Hallaj sudah terlalu dimabuk cinta dengan Tuhan.

 

Namun di sisi lain, tragedi al-Hallaj cukup memperingatkan para sufi untuk lebih berhati-hati ketika mengeluarkan berbagai gagasannya ke khalayak ramai. Setelah kejadian al-Hallaj pula, para tokoh sufi banyak yang menegaskan bahwa tasawuf sesuai dan harus disesuaikan dengan Alquran dan Hadits. Dari situ kemudian banyak pula yang menulis buku berbentuk ensiklopedia tokoh sufi seperti kitab Siyar al-Awliyâ’-nya Hakim At-Tirmidzi, Akhbâr al-Shûfiyyah-nya Abu Bakar Az-Zahid dan ada pula ulama yang menulis buku untuk mempertegas teologi para sufi. Semua dilakukan guna menegaskan bahwa tasawuf merupakan ilmu yang telah matang dan tidak bertetangan dengan agama.

Penulis melihat terjadi semacam dialektika di antara ilmu-ilmu keislaman. Di atas kita telah melihat bagaimana para fukaha menjatuhi hukuman mati kepada Abu Mansur al-Hallaj. Di antara faktor penyebab justifikasi semacam itu ialah tempat dan ideologi seorang tokoh. Hal ini juga cukup jelas terlihat ketika Abu Thalib al-Makki (tokoh besar sufi abad ke-4 H) tidak sependapat dengan sekte Muktazilah yang mengatakan bahwa merealisasikan wai’d (ancaman) adalah suatu yang pasti bagi Allah SWT. Barang siapa yang mengingkari, maka ia kufur, sebab secara tidak langsung telah menganggap bahwa Allah SWT berdusta.

 

Melalui pendekatan sufistik, Abu Thalib al-Makki tidak sependapat dengan pandangan itu. Menurutnya, semua urusan itu—siksa dan pengampunan—harus dipasrahkan kepada Allah SWT. Orang yang berbuat dosa berada antara sifat adil (peradilan) dan anugerah Allah SWT. Kita sebagai hamba tidak bisa mencampuri-Nya dalam urusan ini. Jika Tuhan menyiksa mereka, maka para pendosa berhak atas hal itu. Bila tidak, Tuhan ialah Zat Maha Pengampun.

 

Abu Thalib al-Makki juga mengatakan bahwa pendapat Muktazilah di atas cenderung dan mengarah pada keputusasaan akan rahmat Tuhan kepada hamba-Nya. Muktazilah, dalam hal ini terlalu tertuju pada peradilan Tuhan, tetapi luput dari sifat kasih Tuhan serta anugerah-Nya. Secara logika pun, menarik ancaman tidaklah tercela bahkan menandakan adanya kasih sayang Tuhan. Pemikiran al-Makki ini sudah seharusnya kita ketengahkan ke masyarakat karena sangat moderat dalam menimbang sifat keindahan (al-jamal) dan sifat keagungan-Nya (al-jalal).

 

Oleh: Ahmad Hilmi Zidan (Anggota Ansor Mesir)

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.