Islamisasi Sains dan Narsisme Beragama

0 446

Singgungan tafsir dan modernitas tidak bisa terlepas dari tantangan maupun krisis yang terjadi. Tantangan tersebut memungkinkan munculnya wacana tafsir antroposentris untuk menampik tafsir-tafsir konvensional, misalnya, atau wacana tafsir hermeneutis sebagai upaya merombak tatanan tafsir yang kaku dan saklek. Dari semua gerakan pembaharuan tafsir ini, saya rasa ada corak tafsir modern yang tak banyak dipertanyakan dan dikritik sedemikian rupa dari pada wacana-wacana sebelumnya. Corak pembaharuan tafsir tersebut adalah tafsir ilmi yang lebih khusus pada arus islamisasi sains. Niat mereka banyak disambut orang secara populis, namun jarang mendapat kritikan substansial di dalamnya. Padahal al-Syatibi (yang notabene berangkat dari kesadaran skolastik) sudah mengkritik tafsir ilmi. Baginya, tafsir ilmi banyak terjatuh pada upaya ‘cocokologi’ dan pemaksaan terhadap makna Alquran.

Wacana pendekatan sains terhadap Alquran semakin terlihat momentum perkembangannya pada era modern Islam. Saat umat Islam mulai tertinggal oleh renaisans Barat, mereka mendapat tantangan eksistensial baru untuk mempertegas bahwa Islam adalah agama langit yang mampu berbicara di setiap zaman. Barat dengan segenap gemerlap ilmiahnya telah melahirkan teknologi, sains dan beberapa prestasi lain yang mendukung kesinambungan hidup manusia sebagai wakil Tuhan di bumi (khalîfah fi al-ardl).

Realita di atas semakin memaksa sebagian umat Islam untuk mengembalikan kepercayaan diri bahwa Islam adalah agama langit yang tidak akan usang oleh zaman, apalagi hanya disandingkan dengan sains (produk Barat) yang tidak ada tandingannya dengan firman Tuhan, ringkasnya Alquran adalah wahyu langit dan sains adalah produk manusia.

Bagi penulis, fenomena di atas membelah umat Islam ke dalam dua golongan. Golongan pertama adalah mereka yang berusaha bersikap akomodatif tehadap tradisi “liyan”, dalam hal ini produk Barat. Golongan lain merasa “gengsi” jika harus mengakui superioritas Barat dengan gaya menggelitik bahwa semua prestasi saingan peradabannya itu sudah sejak lama dibicarakan Alquran. Dari golongan kedua ini, muncullah wacana islamisasi ilmu atau lebih spesifik islamisasi sains.

Wacana Islamisasi ilmu dalam pandangan penulis adalah sebentuk respon terhadap kemajuan ‘saingannya’ itu. Sayangnya, respon ini agak menggelitik dan justru semakin menegaskan inferioritas mereka dalam bersaing secara jujur dan ilmiah. Misalnya, salah satu tokoh modern, Harun Yahya—terlepas dari skandal pribadinya—sempat menarik perhatian sejumlah golongan tentang bagaimana Alquran mengakomodasi sains; ia dalam sejumlah karyanya berusaha melakukan cocokologi Alquran dengan penemuan-penemuan saintis.

Tafsir Ilmi dalam Sorotan

Berangkat dari prinsip bahwa Alquran turun kepada bangsa Arab membawa muatan teologis dan moral, maka dalam tinjauan penulis wacana islamisasi ilmu terkhusus di masa modern—yang dalam kaitannya dengan wacana tafsir adalah tafsir ilmi—adalah sebentuk keterpaksaan intelektual di tengah ketatnya persaingan antarperadaban. Alquran adalah kitab hidayah yang bersifat transendental-absolut yang tidak boleh dipaksakan untuk selalu selaras dengan temuan-temuan ilmiah seperti fisika, kimia, astronomi yang bersifat temporal-relatif.

Narsisme beragama ini tidak hanya menjadi kegelisahan para pemikir kontemporer. Di masa klasik pun problem ini menjadi unek-unek sebagian sarjanawan Islam, Imam al-Syatibi salah satunya. Dalam magnum opusnya, al-Muwâfaqât, ia mengomentari orang-orang yang secara apologis melakukan cocokologi terhadap Alquran dengan terma-terma al-thabiiyyat. Bagi al-Syatibi, Alquran datang kepada bangsa Arab di masa turunnya tidak melampaui konteks nalar masyarakat penerima wahyu kala itu, karena landasan syariat adalah kemaslahatan bagi manusia. Karena itu, tidak mungkin Alquran berbicara tentang term yang tidak mampu dipahami oleh yang diwicarainya. Hal itu menyalahi landasan maslahat yang menjadi fondasi ajaran Islam.

Di era modern, kritik juga disampaikan oleh al-Zahabi dalam al-Tafsîr wa al-Mufassirûn. Ia melandaskan kritiknya terhadap corak tafsir ilmi dengan tiga dasar. Pertama, dalam aspek kebahasaan, tafsir ilmi ini tidak diterima karena hanya akan menjadikan Alquran dipaksakan untuk meggunakan istilah-istilah yang tidak ada di masa turunnya. Kedua, dari aspek balaghah corak tafsir ini memaksa Alquran berbicara bukan atas konteks di mana ia turun, yang hal ini bertentangan dengan prinsip balaghah bahwa setiap pembicaraan yang baik adalah yang sesuai dengan konteks (muqtadla al-hâl). Sedangkan umat Islam sepakat bahwa al-Quran adalah kalâmun balîgh. Ketiga, pada aspek teologis, Alquran yang bersifat transendental-absolut tidak bisa disandingkan dengan penemuan ilmiah relatif-temporal yang akan berdampak fatal kepada sisi ilahiah Alquran saat suatu teori sains di satu zaman dianggap benar dan bisa salah di zaman lain.

Di sisi lain, gerakan islamisasi ilmu ini semakin mempertegas inferioritas umat Islam di dalam kancah persaingan peradaban. Bagaimana tidak, pada saat yang sama mereka hanya mengandalkan “label” dalam menunjukkan eksistensinya, namun di dalam internal mereka kerja-kerja intelektual dibatasi dengan begitu ketatnya serta tidak segan dikeluarkan dari agama Islam saat ada sekian orang yang mengutarakan pendapat yang dianggap asing.

Kitab Berwatak

Seperti yang sudah disampaikan di atas, memaksakan Alquran berbicara tentang term-term yang tidak dikenal oleh lawan wicara pertama di masa turunnya adalah sebuah usaha yang absurd dan ahistoris. Yang perlu disadari oleh pengkaji Alquran adalah bahwa ia adalah kitab berbahasa. Ia memiliki logika dan struktur bahasa di balik rangkaian redaksi indahnya.

Dalam hal ini, Amin al-Khuli menegaskan dalam Manâhij al-Tajdîd bahwa sebelum masuk kepada ranah pemahaman atas Alquran dan interpretasinya, seorang pengkaji Alquran harus memandang bahwa ia adalah kitab berbahasa Arab yang agung serta memiliki pengaruh sastra. Ia turun kepada manusia, menggunakan bahasa manusia namun kualitas kesusastraannya begitu mendalam dan jauh di atas kualitas sastra bangsa Arab yang dikenal memiliki selera sastra yang tinggi.

Bagi al-Khuli, kesadaran sastra adalah hal yang paling utama dan pertama dalam mendekati Alquran  karena pada kesadaran ini pendekatan objektif terhadapnya menemukan momentumnya. Kesadaran yang terlepas dari agama, sekte dan bahkan keimanan. Pada titik ini pula, Alquran tampak sebagai mukjizat, di mana para pembaca akan mampu menyentuh sisi-sisi ilahiah terlepas apakah ia mengimani atau hanya mencari kelemahan Alquran.

Spirit sastra dalam memahami Alquran sebagaimana yang digelorakan al-Khuli di atas akan menjadi pondasi dasar sebelum melangkah pada aspek interpretasi Alquran (marhalah al-ta’wil). Hal ini merupakan sebentuk sinergi dalam mendekati teks yang sesuai dengan karakter aslinya (thabîat al-nash). Sebagaimana tiap bahasa memiliki watak masing-masing, Alquran juga memiliki perangkat wajib yang mutlak diperlukan untuk memahami kandungannya. Perangkat itu mewujud dalam ilmu-ilmu alat seperti nahu, saraf, balaghah, isytiqaq atau derivasi, logika. Singkatnya, ia adalah kitab berkarakter. Secara tegas, Alquran mendeskripsikan dirinya sebagai ‘arabiyyun mubîn.

Pada saat Alquran dipaksa berbicara tentang keilmuan yang tidak ada pada masa turunnya, tentu hal ini memiliki dampak yang cukup fatal. Secara umum, dampak tersebut terangkum dalam dua alasan: pertama; memaksakan Alquran berbicara apalagi sampai menghegemoni ide-ide modern adalah sebentuk penabrakan spirit Alquran dan bahasa Arab itu sendiri. Kedua, hal ini semakin menegaskan bahwa umat Islam dalam mengejar ketertinggalannya sebagai pesaing peradaban, tidak mampu melakukan persaingan dalam bentuk inovatif dan ilmiah, alih-alih dengan cara apologis menyeret Alquran pada ranah yang bukan seharusnya.

Walhasil, memaksakan Alquran berbicara tentang sains semakin memperkeruh citra Alquran itu sendiri. Biarlah Alquran berbicara dengan caranya sendiri. Muatan teologis dan moralitas mestinya tetap menjadi spirit awal. Sebagai kitab berkarakter, pendekatan yang diupayakan semestinya juga berkarakter, terbuka terhadap liyan agar jargon bahwa Islam relevan sepanjang masa dan ruang tidak menjadi pemanis bibir belaka. Sejak kapan ilmu memiliki agama sehingga harus diislamisasi?

 

Kontributor: M. Syadidul Isytiher, Koordinator Lakpesdam NU Mesir

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.