Menakar Kritik Joseph Schact terhadap Konsensus Ijmak Ulama

0 70

Kelompok kajian Said Aqil Siradj (SAS) Center melanjutkan diskusi dwi-mingguan pada Senin, 2 Desember 2019 di Sekretariat SASC, Darrasah.

M. Nur Iman sebagai pemakalah kedua dalam grandtema Orientalisme menghadirkan “Neraca Kritik Joseph Schacht atas Regulasi Konsensus Ulama dalam Hukum Islam.” Melalui hasil telaah literature, kajian ini berupaya menimbang kedudukan kritik J. Schacht atas kredibilitas ijmak sebagai sumber hukum Islam.

Joseph Schacht ialah seorang murid dari orientalis terkenal, I. Goldzhier. Schacht mewarisi semangat Ignaz dalam mempelajari diskursus keilmuan Islam dan ketimuran. Semangatnya semakin bertambah setelah ia pindah ke Inggris dan mendapatkan keterbukaan, lantaran rezim Nazi Jerman yang otoriter.

Sebagaimana yang masyhur, ijmak merupakan salah satu sumber hukum terpercaya setelah al-Quran dan Hadits. Ijmak sendiri baru muncul pasca-wafatnya Rasul SAW. Peristiwa ijmak pertama kali bisa dilihat saat para Sahabat memilih Abu Bakar sebagai khalifah. Menurut Imam al-Isnawi, ijmak adalah kesepakatan golongan ulama mujtahid dari umat Nabi SAW atas sesuatu yang telah disepakati.

Konsep ijmak secara sempurna dikodifikasikan oleh Imam Syafii dalam al-Risâlah. Schact, sebagai orientalis yang fokus dalam bidang usul fikih mengkritik konsep ijmak lewat karya Imam Syafii tersebut.

Setidaknya, ada tiga kritikan yang dilontarkan oleh Schacht dalam hal termaksud. Pertama, ia berpendapat bahwa ijmak dalam Islam membatasi seseorang dan tidak memberi kebebasan dalam berpikir. Kedua, konsep ijmak dalam Islam terpengaruh dengan peraturan bangsa Romawi. Ketiga, Schacht menyatakan bahwa Hadits yang digunakan Imam Syafii dalam kitabnya cacat dan tidak sahih.

Apa yang dikatakan oleh Schacht menuai tanggapan dari cendekiawan muslim. Di antara tanggapan tersebut ialah bahwa justru ketika mujtahid bersepakat, mereka sebenarnya sudah mengerahkan argumen yang rasional sekaligus disertai dalil transmisi (naqliy). Kebebasan berpikir dalam Islam diatur dengan rapi oleh kaidah-kaidah yang kredibel. Kaidah tersebut yang menggawangi kebebasan berpikir agar tidak terlewat batas. Ini pertama.

Kedua, konsep ijmak dalam Romawi dan Islam tidaklah sama. Dalam bangsa Romawi, kesepakat (ijmak) ditentukan oleh suara terbanyak, sementara dalam Islam ditentukan oleh seorang mujtahid yang kompeten dan kredibel.

Ketiga dan terakhir, soal kesahihan Hadits yang digunakan Imam Syafii, Syekh Ali Jumah mengungkapkan bahwa Hadits termaksud tidaklah cacat. Ia sahih. Alasannya, periwayat Hadits banyak dan merupakan perawi yang terpercaya.

Terlepas dari berbagai kritik dan masukan bagi pemakalah, yang terpenting kiranya ialah bahwa implikasi yang dimaksudkan penulis dalam kritik Schacht terhadap ijmak perlu pembuktian.
Kajian regular ini merupakan yang terakhir sebelum menghadapi ujian al-Azhar. Sesuai tradisi, setiap penutupan kajian biasanya diakhiri dengan makan bersama menu istimewa. Tomyam Mix Ayam dan Udang ala Chef Zamzami berkolaborasi dengan Iip, sang koki kondang berhasil menghangatkan dinginnya Kairo di akhir tahun.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.