KAIRO, BEDUG—Aksara, salah satu marhalah angkatan yang berada di bawah naungan PCINU Mesir menyelenggarakan webinar kebudayaan dan literasi (8/9).
Dikemas dalam tajuk Urgensitas Langkah Preventif dalam Menjaga Kebudayaan, Ngatawi al-Zastrouw, seorang budayawan Nahdliyin memberikan gambaran tentang kebudayaan dari beberapa tokoh.
Ia mengutip pandangan beberapa tokoh tentang kebudayaan. Kroeber dan Kluckhon, berpendapat bahwa kebudayaan adalah proses yang diperoleh manusia bisa melalui kepercayaan, kesenian, hukum, moral dan adat.
Kebudayaan juga bermakna aturan hidup seseorang agar dapat menjaga tatanan sosial dan interaksi manusia dengan alam, sebagaimana definisi menurut Koentjoroningrat dan Gus Dur.
Ngatawi, eks ketua Lembaga Seni Budaya Muslim Indonesia NU periode 2004-2009 juga menambahkan bahwa kebudayaan juga merupakan hasil kreativitas manusia saat berinteraksi dengan sesama dan lingkungan sekitar. Dengan mendalami makna ini, mereka dapat menjalani kehidupan sehari-hari dengan semestinya.
Selain menghadirkan budayawan, webinar Aksara juga mengundang novelis kondang Habiburrahman El Shirazy (Kang Abik).
Kang Abik memperkenalkan semangat literasi yang sudah ditorehkan oleh Ir. Soekarno dalam proses kepenulisan teks proklamasi. Sehingga mampu memberikan pemahaman akan makna hari kemerdekaan NKRI.
Ia juga menambahkan kisah kecintaan Bung Hatta terhadap buku. Pernah suatu ketika, beliau memilih untuk tidak makan beberapa hari karena ingin membeli karya buku yang baru saja terbit. Kecintaan tersebut juga dapat terlihat melalui banyaknya buku dibawanya dari Belanda. Bung Hatta membutuhkan waktu tiga bulan untuk menata buku-buku tersebut.
Tidak hanya itu, Kang Abik juga menyinggung beberapa alumni al-Azhar yang bergelut dalam dunia literasi dan menjadi tokoh besar serta patut kita ikuti. Pertama, Prof. Mahmud Yunus. Ia termasuk salah satu santri al-Azhar generasi pertama yang berasal dari Indonesia dan mampu menerbitkan Kamus Yunus yang dekat di kalangan santri.
Kedua, Prof. Muhammad Quraisy Shihab. Seorang cendikiawan muslim yang mumpuni dalam bidang ilmu tafsir dan aktif menulis buku. Di antara karyanya ialah tafsir al-Mishbâh, Wasathiyyah, Lentera hati, 40 Hadits Qudsi Pilihan. Karena tingginya keilmuan beliau, Syekh Ahmad Thayyib selaku Grand Syekh al-Azhar saat ini, sangat menghormatinya.
Ketiga, Prof. Khuzaimah. Ia adalah salah satu tokoh perempuan di Indonesia yang pernah menjadi anggota komisi fatwa MUI pusat. Tokoh yang baru wafat beberapa waktu ini merupakan wanita Indonesia yang pertama kali mendapatkan gelar Ph.D dari Universitas al-Azhar.
Webinar yang dilangsungkan melalui Zoom ini disambut hangat oleh 500 peserta baik dari Masisir maupun mahasiswa di Indonesia, seperti UIN Jakarta.
Setelah berlangsung hampir lima jam, acara dipungkasi pada pukul 17.00 WLK dengan lancar.
Reporter: Khosi
Editor: Hamidah











