Menyoal Perbuatan Hamba Perspektif Asyairah

0 190

Dari awal kemunculannya sampai sekarang, masalah perbuatan hamba (af’al al-ibad)  selalu menimbulkan perdebatan dan kontroversi, baik dari kalangan teolog  maupun para pembaharu Islam. Sebagian para teolog menganggap teori upaya (kasb) yang diusung oleh kaum Asyairah khususnya, sebagai penyebab kejumudan umat Islam. Para teolog yang tidak sepakat dengan mazhab Asyairah mengatakan bahwa kasb menjadikan umat Islam berbudaya pasrah terhadap semua hal yang terjadi. Dalam persoalan ini, Hassan Hanafi menganggap ilmu kalam kehilangan fungsinya (meaningless) karena tidak menjamah sisi kemanusiaan.

Untuk menanggapi perkara di atas, Lembaga Kajian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia (LAKPESDAM) PCINU Mesir mencoba melakukan interpretasi ulang terhadap ajaran kasb yang digadang-gadang menjadi penyebab utama mundurnya umat Islam saat ini. Tema yang dipresentasikan oleh Silma Dianaty Elfath ini menitikberatkan pada analisis rumusan teologi Suni dalam af’al al-ibad, menguji argumentasi para pengkritik teori kasb, serta merepresentasi ajaran-ajaran Asyariyah mengenai teori kasb ke arah yang lebih progresif.

Beberapa catatan penting hasil kajian yang digelar pada Kamis, 20 Februari 2020 adalah pengulasan kembali makna kebebasan dari perbuatan seorang hamba itu sendiri. Kebebasan yang hanya mengandalkan otoritas akal dan dirinya sendiri seperti yang diusung oleh Muktazilah secara tidak langsung membuat manusia melupakan kehendak Tuhan di alam bawah sadarnya. Sedangkan manusia adalah khalifah (wakil) Allah SWT di bumi, otomatis  dalam perbuatannya, Allah berhak untuk ikut campur. Oleh karena itu, pemakalah menganggap bahwa teori kasb Asyairah ini justru sebagai jalan keluar dari ekstrem kiri (qadariyah)  dan ekstrem kanan (jabariyah).

Moderatisme Asyari dalam ajaran teologinya, menurut Shimogaki berhasil menyeimbangkan antara urusan duniawi dan ukhrawi. Teori kasb mengandung dua sisi sekaligus: spiritual-transenden dan material-duniawi. Ini sebuah titik tolak yang seimbang dalam menjalani kehidupan. Seorang manusia akan berjuang maksimal dalam usahanya mewujudkan cita-cita di dunia untuk bekal di akhirat karena dia dibekali kasb. Ketika dia menemui kegagalan pun, tidak muncul depresi atau putus asa karena semua tidak lepas dari koridor takdir Allah.

Oleh karena itu, umat Islam sejatinya tidak membutuhkan sebuah rumusan ajaran teologi baru. Memang perlu  ‘membangkitkan kembali’ teori Muktazilah, namun harus diimbangi dengan ajaran Asyairah. Karena Ahlusunnah sendiri sudah cukup mampu untuk mengakomodir permasalahan umat saat ini.

Diskusi selama enam jam ini berlangsung lancar dan semakin panas lantaran berbagai kritik dan saran yang  disampaikan peserta kajian , meskipun analisis pemakalah dalam mengkritik Muktazilah kurang matang. Di sisi lain, pemateri belum menyertakan pandangan terkait teori kasb dan implementasinya dalam menyelesaikan permasalahan umat. Namun secara keseluruhan, kaidah kepenulisan dan ketatabahasaan cukup baik, terlebih tema yang diangkat sangat menarik.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.