Pendidikan merupakan sarana yang penting dalam keberlangsungan hidup. Pendidikan berfungsi untuk mengisi gap pengetahuan antara generasi yang baru lahir dan generasi sebelumnya. Dalam agama Islam, pendidikan menjadi sarana untuk menjaga kemurnian doktrinisasi ajarannya. Sebelum 2 dekade terakhir, di Indonesia pendidikan agama selalu menjadi pendidikan kelas kedua yang pasarnya adalah masyarakat pedesaan. Hal ini karena masyarakat desa lebih cenderung spiritualis dan religius yang cocok dengan agama yang sifatnya dogmatis. Berbeda dengan masyarakat kota yang cenderung pragmatis dan materialistis.
Namun, dalam dua dekade terakhir muncul kelompok baru dari masyarakat kota yang menggandrungi agama Islam, bahkan kesalehannya melebihi masyarakat desa. Mereka mulai meramaikan tataran dunia keislaman Indonesia tak terkecuali pendidikan. Mereka mendirikan pondok pesantren, SMP/SMA syar’i dan lembaga pendidikan yang lain. Pendidikan agama yang awalnya mayoritas segmentasinya masyarakat pedesaan, mulai banyak digandrungi oleh masyarakat urban. Pendidikan agama berubah dari pendidikan kelas kedua menjadi pendidikan yang memiliki nilai prestise yang sama dengan pendidikan umum.
Salah satu sebab kemunculan kelompok baru ini adalah perubahan sejarah dari Kapitalisme ke Neoliberalisme, dan pengaruh Globalisasi yang masif. menurut Kiai Sahal, akibat globalisasi, dunia yang begitu luas seperti desa kecil yang mana segala macam informasi dengan gampang tersebar. Menurut Ulrick Beck di planet kita ini tidak ada kejadian yang disebut peristiwa lokal terbatas, semua kejadian berupa penemuan, kemenangan dan malapetaka di suatu lokal akan cepat menyebar ke seluruh dunia.
Setelah Kapitalisme mengalami krisis berkali-kali, Neoliberalisme lahir dengan menghidupkan kembali pemikiran pasar bebas abad ke-18. Kata neoliberal adalah singkatan dari ‘liberalisme neo-klasik’, sebuah tradisi pemikiran ekonomi abad ke-18 yang berasal dari John Locke (1632-1704), Adam Smith (1723-1790), dan David Ricardo (1772-1823). Di Indonesia sendiri bibit Kapitalisme tumbuh saat penghancuran sosialisme dan komunisme pada masa Sukarno. Semenjak era orde baru, kapitalisme mulai masuk ke dalam kebijakan negara. Kapitalisme terus berkembang dan berubah bentuk menjadi Neoliberalisme saat runtuhnya orde baru. Perubahan dari Kapitalisme ke Neoliberalisme ini menciptakan masyarakat kelas menengah baru di Indonesia. Masyarakat kelas menengah baru ini berevolusi menjadi kelompok theocon (theocrasy-conservatism) yang berupaya memurnikan Islam –sebagaimana jargon pemurnian Kristen di AS dan pemurnian Hindu di India– yang menurut beberapa sumber ditandai sejak dekade 1980-an. Theocon Islam di Indonesia dibentuk sejak dari kampus dan kota besar. lalu kini mereka menyasar kaum borjuis; kalangan mahasiswa dan masyarakat kota. Kini mereka menguasai perguruan tinggi, dunia hiburan dan secara umum kelas menengah baru di Indonesia.
Hal ini terjadi karena masyarakat kelas menengah baru ini tidak memiliki pemahaman yang utuh tentang agama Islam. Muslim baru ini dicirikan sebagai para profesional yang pendapatannya di atas rata-rata, sehingga tidak memiliki waktu untuk belajar agama Islam yang utuh. Solusi yang mereka gunakan adalah pemanfaatan media sosial sebagai media pembelajaran agama. dalam hal ini Globalisasi mengambil perannya; informasi yang tidak ter-filterisasi dengan baik memupuk pemahaman yang salah terhadap Islam. Theocon Islam di Indonesia tumbuh dalam pengaruh globalisasi.
Theocon di Indonesia telah membawa pendidikan agama ke pasar “Tuhan”. Neoliberalisme mengubah institusi pendidikan agama tidak lebih seperti korporasi nirlaba, dan umat agamanya tidak lebih seperti konsumen. Hubungan keduanya berubah dari bersifat spritualitas menjadi hubungan pragmatis yang hanya melihat materi sebagai tujuan satu-satunya. Dari melihat para penganutnya sebagai seorang yang perlu pengayoman menjadi hanya sebatas klien atau konsumen.
Dengan Kelompok masyarakat kelas menengah barunya, theocon Indonesia segera melesat menjadi pemain besar dalam percaturan ekonomi Indonesia. Bisnis global dengan label Tuhan berkembang pesat; alat kecantikan syar’i, pakaian syar’i, makanan syar’i, tak terkecuali pendidikan syar’i. Pasar produk syar’i dan lembaga pendidikan Islam, baik SMP/SMA Syar’i dan pondok pesantren menjamur di Indonesia.
Masyarakat kelas menengah baru menjadi konsumen terbesarnya. Sebagai gambaran, dalam penelitian yang dikemukakan oleh Alvira Institut, ditemukan sebanyak 30 juta penduduk Indonesia adalah muslim baru yang tidak berafiliasi dengan Ormas. Ciri dari Muslim baru ini adalah mereka memiliki semangat agama yang tinggi namun ilmu pengetahuan agama dan nasionalisme yang sangat rendah. Mereka mengekspresikan keislaman lebih ekspresif dibandingkan dengan warga Muslim Indonesia yang berasal dari pesantren. dalam penelitiannya Muslim baru ini dicirikan sebagai para profesional yang pendapatannya di atas rata-rata.
Konsumen kelas menengah baru menjadi faktor penting dalam pesatnya pertumbuhan “pasar Tuhan“. Karena religiositas masyarakat kelas menengah baru ini dijadikan role model bagi masyarakat kelas pekerja. Akibatnya masyarakat kelas pekerja dengan sukarela merujuk pada mereka yang dianggap barometer religiositas. Fenomena ini diistilahkan oleh Neill MacFarland dengan istilah “jam Tuhan menjadi sibuk” untuk menanggapi kebutuhan sosial-psikologis baru yang diciptakan neoliberalisme dan globalisasi.
Pada pondok pesantren, misalnya ikut mengalami perubahan bentuk akibat fenomena ledakan religiositas yang dipelopori oleh theocon Islam di Indonesia. Dalam pendiriannya, pondok pesantren klasik tumbuh secara alami. Dimulai dengan adanya sosok kiai karismatik yang getol mengajarkan ajaran Islam, kemudian banyak orang tua yang ingin menitipkan anaknya untuk tinggal dan belajar dengan sang kiai. Dengan jumlah anak yang mukim terus meningkat, menuntut sang kiai untuk membangun tempat tinggal guna menampung santri yang mukim. Dan dengan seperti itu pondok pesantren terbentuk.
Namun, pada 2 dekade terakhir pondok pesantren mengalami perubahan bentuk. Pondok pesantren di zaman modern ini seolah-olah hanya asrama yang berkurikulum agama. bangunan fisiknya dibangun terlebih dahulu dan kemudian diresmikan menjadi pondok pesantren, tanpa adanya santri. Setelah diresmikan, lalu kemudian membuka pendaftaran untuk penerimaan santri baru. proses berdirinya pondok pesantren semacam ini sangat berbeda dengan proses terbentuknya pondok pesantren klasik yang terbentuk secara alami.
Pondok pesantren dengan model seperti ini berdampak pada perubahan nilai. Pondok pesantren di zaman sekarang cenderung pragmatis yang hanya berlomba-lomba memberikan fasilitas yang bagus dan memasang tarif yang tinggi dengan tetap ber-label Tuhan. Hal serupa terlihat di pendidikan syar’i yang lain, misalnya kursus bahasa arab, bimbingan tes masuk universalitas-universalitas timur tengah, dan daurah-daurah bersanad. Mereka seolah-olah menjual Agama untuk meraup keuntungan sebesar-besarnya.
Pendeknya Sekitar 20 tahun belakangan ini, Agama sudah berubah bentuk menjadi nilai komoditas yang menggiurkan. Umroh menjadi sasaran empuk bagi para pengusaha travel. Pendidikan agama menjadi layanan jasa yang prestisius bagi kaum kapitalis untuk menambah pundi-pundi keuangannya. aktivitas keagamaan seperti acara pengajian juga tidak terlepas dari intrik Neoliberalisme. Dari fenomena perubahan itu telah muncul adagium “The God of Market” istilah ini penulis dapatkan dari Meera Nanda, seorang feminisme India yang menekuni ilmu filsafat dan sejarah. Tuhan telah menjadi label pasar, artinya segala produk yang berlabel Tuhan menjadi pilihan konsumsi bagi konsumen kelas menengah yang sedang gandrung kepada “Tuhan”.
Penulis: Kisthosil Fachim (Mahasiswa Tingkat 3 Fakultas Syariah Islamiah Universitas Al-Azhar, aktif di Lakpesdam PCINU Mesir)











