Notula Bincang Santai: Mengenal Korelasi Ilmu Qiraat dan Ilmu Lainnya

0 232

Pemateri Pertama: Al-Ustadz M. Nizanul Falih, Lc. Dipl.

Acara seperti ini yang seharusnya digalakkan di masisir, apalagi kita termasuk golongan akademis.

Di Fakultas Ushuludin, Ilmu Qiraat dipelajari dalam mata kuliah Ulum Al-Quran, sedangkan di Fakultas Bahasa Arab ada mata kuliah tersendiri mengenai Ilmu Qiraat. Jadi, Ilmu Qiraat lebih banyak dipelajari di Fakultas Bahasa Arab. 

Karena temanya adalah mengenal korelasi Ilmu Qiraat dengan ilmu lainnya, maka di sini saya akan menyampaikan tentang pengenalan Ilmu Qiraat.

Saat ini Ilmu Qiraat sudah menjadi disiplin ilmu tersendiri. Dulunya, masih tergabung dengan Ulum Al-Quran lainnya dan tidak tersusun sebagai disiplin ilmu yang terpisah, begitu juga dengan ilmu-ilmu lainnya.

Mengenal berarti harus mengetahui sejarah. Lalu kapan Ilmu Qiraat itu ada? Yaitu sejak turunnya Al-Quran, karena qiraat itu adalah bacaan.

Sebelum mengenal suatu ilmu biasanya kita melihat dari segi mabadi’ al-ulum-nya. Namun di sini saya akan menyampaikan secara ringkas karena menyesuaikan waktu.

Mabadi’ yang pertama adalah al-haddu. Jika dilihat dari segi bahasa, qiraat bermakna bacaan, iblagh atau mutalaah. Dari segi istilah, qiraat bermakna huruf, seperti lafaz (huruf) maaliki (مٰلك) adalah Qiraat Imam Ashim atau hurufnya Imam Ashim. Sedangkan pengertian qiraat dilihat sebagai fann ‘ilmi (disiplin ilmu) ada banyak sekali pendapat dari para ulama, di antaranya adalah menurut Imam Al-Zarkasyi dalam kitabnya Al-Burhan, yaitu:

 اختلاف ألفاظ الوحي المذكور في كتابة الحروف أو كيفياتها من تخفيف وتثقيل وغيرها

“Perbedaan cara pengucapan lafal-lafal Al-Quran baik menyangkut penulisan hurufnya atau cara pengucapan huruf-huruf tersebut, seperti takhfif (meringankan), tatsqil (memberatkan), dan lain sebagainya.” 

Sedangkan pengertian lain adalah menurut Imam Ibnu Jazari, yaitu:

علم بكيفية أداء الكلمات القرآنية واختلافها معزوا لناقله

“Ilmu yang mempelajari tata cara pengucapan kalimah Al-Quran dan perbedaannya dengan menyandarkan bacaan-bacaan tersebut kepada perawi-perawinya.” 

Pengertian ini lebih condong kepada Ilmu Qiraat secara riwayat. Dari pengertian tersebut terhubung dengan pertanyaan berikutnya, yaitu apa itu rawi dan apa itu qari’? Jika dimasukkan ke dalam contoh maka rawi adalah Imam Hafsh dan qari’ adalah Imam Ashim, kemudian dikenal riwayat Hafsh dan qiraat Ashim atau Hafsh ‘an Ashim.

Mabadi’ yang kedua adalah al-maudhu’. Apa yang menjadi objek pembahasan dalam Ilmu Qiraat?

موضوع علم القراءات هو كلام الله المنزل

Yaitu bacaan Al-Quran yang berbeda-beda, seperti perbedaan dalam imalah, tahkik dan lain sebagainya.

Orang orientalis menyerang agama Islam dengan memberikan tuduhan terhadap pemahamannya dan kitabnya. Hal tersebut karena ketidakpahaman mereka terhadap sejarah Al-Quran. Salah satu tuduhan yang dilontarkan adalah diperbolehkannya membaca Al-Quran dengan maknanya.

Ada banyak hadis Nabi yang menjadi dalil mengenai qiraat, di antaranya adalah hadis tentang perselisihan antara Sayyidina Umar dan Sayyidina Hisyam. Dari Umar bin Khathab r.a., ia mengatakan: “Saya mendengarkan Hisyam bin Hakim bin Hizam membaca surah al-Furqan tidak sebagaimana bacaan yang biasa saya baca, dan Rasulullah Saw. telah mentalaki atau mengajarkan saya cara membaca surah al-Furqan. Hampir saja saya tergesa-gesa dalam menghukuminya, tetapi saya bersabar hingga ia selesai shalat. Kemudian saya mengambil selendangnya dan menjerat lehernya, lalu saya bawa menghadap Rasulullah Saw. Kemudian saya katakan: ‘Saya telah mendengar orang ini membaca bacaan lain dari yang engkau ajarkan kepadaku.’ Nabi Saw. bersabda: ‘Lepaskanlah.’ Kemudian Nabi Saw. berkata kepada Hisyam: ‘Bacalah.’ Lalu dibaca oleh Hisyam sebagaimana yang saya dengar itu. Tiba-tiba Nabi Saw. bersabda: ‘Begitulah diturunkan.’ Lalu Nabi Saw. berkata kepadaku: ‘Bacalah.’ Lalu saya membaca. Nabi Saw. bersabda: ‘Begitulah diturunkan, sesungguhnya Al-Quran diturunkan dengan tujuh huruf, maka bacalah mana yang ringan untukmu.”

Semua ilmu itu saling melengkapi satu sama lain, baik itu Ilmu Nahwu, Ilmu Tafsir dan ilmu-ilmu lainnya. Sebagaimana salah satu syarat mufasir adalah menguasai beberapa ilmu, di antaranya adalah Ilmu Nahwu dan Ilmu Qiraat. Kaidah Ilmu Nahwu pun juga banyak mengambil dari Ilmu Qiraat.

Metode dasar qiraat adalah talaki atau musyafahah. Nabi Saw. bermusyafahah kepada malaikat Jibril, kemudian sahabat mengambil dari Nabi Saw, dan sahabat mengajarkan kepada tabiin serta orang-orang setelahnya juga dengan metode musyafahah.

Masa sahabat adalah masa kodifikasi Al-Quran, yaitu pada masa Abu Bakar r.a. dan Utsman bin Affan r.a. Mengenai sejarah kodifikasi ini bisa dibaca di kitab-kitab tarikh Al-Quran. Penyebab kodifikasi Al-Quran pada masa Abu Bakar r.a. adalah banyaknya Ahlul Quran yang syahid dalam memerangi kaum yang murtad dari Islam. Sedangkan penyebab tadwin di masa Utsman bin Affan r.a. adalah perselisihan antara umat Islam ketika peperangan Armenia-Azerbaijan yang dipimpin oleh Hudzaifah bin al-Yaman.

Saat itu umat Islam datang dari berbagai macam daerah. Ketika membaca Al-Quran, mereka saling menyalahkan bacaan satu dengan yang lain karena perbedaan bacaan. Kemudian Hudzaifah melaporkan kepada Khalifah Utsman bin Affan kejadian tersebut dan beliau memerintahkan untuk mengumpulkan Al-Quran kembali. Beliau juga menunjuk Zaid bin Tsabit sebagai ketua lajnah pengumpulan Al-Quran dan mengumpulkan mushaf para sahabat lainnya serta menjadikan mushaf Sayidina Abu Bakar sebagai patokan.

Hasil kerja dari lajnah ini adalah beberapa buah mushaf yang dikirim ke kota-kota besar, seperti: Kufah, Bashrah, Syam, Mekah dan Madinah. Kemudian Khalifah Utsman juga mengirimkan sahabat yang mengajarkannya. Pada masa ini Sayyidina Utsman bin Affan juga meletakkan kaidah-kaidah atau peraturan dalam pengumpulan mushaf. Hal itu bisa dibaca lebih banyak lagi di sejarahnya.

Telah disebutkan bahwa kaum orientalis melontarkan tuduhannya bahwa Al-Quran boleh dibaca dengan maknanya. Hal tersebut dilandasi adanya mushaf sahabat yang tertulis dengan maknanya, seperti pada mushaf Sayidina Abdullah bin Mas’ud tertulis:

حافظوا على الصلوات الوسطى صلاة العصر

Maksud dari shalawat al-wustha adalah salat asar. Dalam hal ini bacaan tersebut masuk ke dalam kategori qiraat syadzah, namun orang orientalis yang tidak memahami hal tersebut mengatakan bahwa Al-Quran boleh dibaca dengan maknanya, karena salat asar merupakan makna dari shalawat al-wustha.

Masuk pada zaman setelahnya, yaitu zaman penulisan Ilmu Qiraat, masih banyak perselisihan tentang orang pertama yang menuliskan Ilmu Qiraat. Dikatakan bahwa orang yang pertama kali menuliskan Ilmu Qiraat adalah Yahya bin Ya’mur. Namun, pendapat lain ada yang mengatakan bahwa yang pertama kali menuliskan adalah Abu Ubaid Al-Qasim bin Salam, dan juga pendapat-pendapat lainnya.

Zaman setelahnya adalah zaman Ibnu Mujahid. Pada saat itu qiraat sangat banyak sekali, ada yang mutawatir dan ada yang syadzah. Kemudian Ibnu Mujahid membatasi qiraat menjadi tujuh yang dikenal dengan al-Tasbi’. Ketika itu Ibnu Mujahid mengambil tujuh imam qurro’ dari setiap kota-kota besar, hingga kemudian kepada merekalah bacaan qiraat dinisbatkan.

Pada abad kelima muncul kitab al-Taisir karya Imam al-Dani. Beliau mencoba merumuskan kembali pemilihan bacaan qiraat dengan tujuh imam qurro’, beliau juga meletakkan syarat-syarat diterimanya suatu qiraat. Syarat-syarat ini terus mengalami perkembangan sampai pada masa Imam Ibnu Jazari.

Setelah adanya al-Tasbi’ dan al-Taisir, masuk kepada zaman Imam al-Syatibi. Beliau meringkas karya-karya sebelumnya, dan karya beliau ini adalah masterpiece dalam Ilmu Qiraat. Hingga saat ini karyanya masih dijadikan rujukan utama dalam mempelajari Ilmu Qiraat. Setiap orang mempelajari qiraat biasanya diminta untuk menghafal matan Syatibiyah. Syarah matan Syatibiyah juga sudah sangat banyak. 

Masa selanjutnya adalah masa Imam Ibnu Jazari, beliau menambahkan tiga qiraat lain yang mutawatir sehingga menjadi Qiraat Asyrah. 

Seperti itulah sejarah singkat tentang qiraat. Saya juga berharap kepada ketua baru agar dihidupkan kembali kajian-kajian seperti ini, karena salah satu tujuan didirikannya JQH adalah mengisi kekosongan kajian tentang qiraat dan Al-Quran.

Materi selanjutnya adalah mengenai korelasi qiraat dan ilmu lainnya. Ilmu syariat itu sangat berhubungan erat dengan Bahasa Arab, karena dari bahasa tersebut bercabang kepada penentuan pemahaman dalam beberapa hal seperti Aqidah. Untuk memahami Aqidah kita harus merujuk pada Al-Quran dan Sunah, namun kita tidak bisa memahaminya secara langsung melainkan harus memahami dari segi bahasa, karena Al-Quran diturunkan بلسان عربي مبين.

Qiraat juga sangat penting untuk memahami ilmu lainnya, seperti pada contoh berikut:

  • Aqidah

بل هو قرآن مجيدٌ في لوحٍ محفوظٍ / محفوظٌ

Perbedaan bacaan tersebut dari segi maknanya berkaitan dengan Aqidah. Jika dibaca kasroh tanwin maka yang terjaga adalah lauh, sedangkan jika dibaca dhammah tanwin yang terjaga adalah Al-Quran al-Majid. Maka makna yang didapatkan dengan bacaan kedua adalah بل هو قرآن مجيدٌ محفوظ في لوح.

  • Fikih

Yaitu pada surah al-Nisa’ tentang ayat tayamum dan juga surah al-Maidah tentang ayat wudhu:

أو لٰمستم / لَمستم النساء

Perbedaan bacaan tersebut menimbulkan perbedaan pendapat di antara ulama fiqh tentang hal-hal yang membatalkan wudhu. Jika kalimah لمستم dibaca panjang maka bermakna jimak saja, dan jika dibaca pendek maka bermakna jimak dan yang lainnya yaitu menyentuh.

Selanjutnya mengenai qiraat syadzah. Setiap ilmu memiliki istilahnya, dalam hal ini syadzah bukan berarti ditolak, tetapi bacaan tersebut tidak memenuhi syarat diperbolehkannya qiraat untuk dibaca dalam salat.

Ada tiga syarat diterimanya qiraat dan diperbolehkan untuk dibaca dalam salat:

  1. Sesuai dengan Mushaf Utsmani
  2. Sesuai dengan Bahasa Arab walau dari satu sisi
  3. Sanadnya terhubung (muttashil)

Hubungan qiraat dalam penafsiran juga sangat banyak, seperti:

من طور سَيناء / سِيناء

Keduanya termasuk bacaan yang mutawatir.

Jika kita mempelajari Ilmu Qiraat maka kita tidak akan mudah menyalahkan bacaan orang lain yang berbeda dengan bacaan kita.

Pemateri Kedua: Al-Ustadz Muhammad Agus Salim, Lc. MA.

Jika kita ingin terjun dalam bidang qiraat, kita harus siap meluangkan waktu. Karena belajar qiraat itu seperti belajar matematika: ketika sudah hafal rumus dan bisa menerapkan dalam Al-Quran maka selesai, namun saking banyaknya rumus tersebut maka kita harus meluangkan banyak waktu.

Jika kita perhatikan, ulama-ulama ahli qiraat yang kita kenal itu mereka hanya ahli dalam bidang Ilmu Qiraat saja, meskipun mereka juga ahli dalam bidang yang lain namun tidak terlihat. Mungkin karena mereka tidak sempat menyebarkan ilmu-ilmunya, yang mereka sempat sebarkan hanya menyebarkan Ilmu Qiraat. Karena memang perlu waktu dan tenaga sehingga ini bisa menjadi motivasi untuk kita.

Sekarang di Indonesia peminat qiraat sangat banyak sekali. Mayoritas yang mengajarkan Ilmu Qiraat di Indonesia adalah alumni-alumni Mesir.

Saya pertama kali belajar qiraat adalah ketika saya pertama kali datang ke Mesir, yaitu pada tahun 2006. Ketika itu saya tinggal di Buust, kemudian mulai mencari ulama ahli qiraat. Saat itu ada teman saya yang belajar qiraat kepada Syekh Sa’id Harun. Kemudian, saya belajar kepada Syekh Sa’id Harun. Waktu itu saya belum mengenal Syekh Nabil. Setelah menyelesaikan qiraat dengan Syekh Sa’id Harun kemudian saya belajar qiraat kepada Syekh Nabil.

Dulu sebelum tahun 2009 mencari syekh qiraat itu susah sekali. Tetapi sekarang sudah banyak sekali ulama yang ahli dalam bidang qiraat, seperti kacang, dimana-mana ada. Bagi orang yang berminat mempelajari qiraat maka di sini adalah tempatnya. Bahkan jika kita perhatikan ulama qiraat yang berada di Saudi, Syiria, dan negara-negara Timur Tengah lainnya itu berasal dari Mesir.

Dulu sebelum tahun 2006, 2007, 2008 buku-buku untuk menjamak qiraat seperti al-Muyassar itu belum terbit. Jadi ketika menjamak kita harus menuliskan sendiri dengan diajarkan oleh syekh, karena dulu al-Muyassar dan Ithaful Maharoh belum ada. Kitab-kitab inilah yang berkaitan dengan menjamak qiraat.

Dulu saya menuliskan sendiri ketika menjamak, yaitu mulai surah al-Fatihah sampai selesai surah Ali Imran. Sekarang sudah banyak kitab yang menjamak qiraat seperti al-Muyassar dan Ithaful Maharoh, ini adalah jamak Qiraat Asyrah Shugro, yaitu yang thariqnya Syatibiyah dan Dhurrah. Tetapi yang thariqnya Thayyibah masih sangat sedikit. Thariq Thayyibah adalah thariq Qiraat Asyrah Kubro. Peminatnya pun masih sangat sedikit, karena memang membutuhkan tenaga ekstra dan waktu yang benar-benar harus kita luangkan.

Menghafal Al-Quran itu hukumnya fardu kifayah. Jika diprosentasekan penghafal Al-Quran di Indonesia ini sangat banyak. Dulu di tahun 1990 minimal dalam satu kabupaten ada satu orang penghafal Al-Quran. Di tahun 2000 minimal dalam satu kecamatan ada satu orang penghafal Al-Quran. Sekarang minimal dalam satu desa itu ada satu orang penghafal Al-Quran. Ini fardu kifayah, karena sekarang semakin dipermudah dan sangat banyak fasilitasnya. Sudah banyak pondok tahfizh, rumah tahfizh, griya Quran, graha Quran, Darul Quran dan lain-lain.

Perkembangan Al-Quran di Indonesia saat ini sangat meningkat. KH. Ahsin Sakho pun pernah berpesan: “Ilmu Qiraat adalah ilmu yang ketika itu kurang laku (sekitar tahun 2000), lalu bagaimana agar Ilmu Qiraat ini semakin laku? Kita harus mencari metode yang tepat dan mudah untuk mengajarkan Ilmu Qiraat ini.”

Belajar qiraat saat ini sudah berbeda dengan zaman dulu, karena sekarang lebih dipermudah. Jika dulu sebelum belajar Ilmu Qiraat harus hafal 30 juz, maka untuk saat ini sudah tidak disyaratkan lagi. Seperti halnya orang yang belajar Ilmu Tafsir tetapi belum hafal Al-Quran dan dia membutuhkan Ilmu Qiraat, sehingga diperbolehkan mempelajari Ilmu Qiraat meskipun belum hafal Al-Quran.

Jika dulu sebelum mempelajari Ilmu Qiraat disyaratkan hafal matan Syatibiyah, maka sekarang sudah tidak disyaratkan lagi. Tetapi pada umumnya para masyayikh memerintahkan untuk menghafal matan syatibiyah yang jumlah baitnya sekitar 1178, seperti Syekh Nabil dan Syekh Sa’id Harun.

Karena kita di sini (Mesir) dan kita punya waktu, tenaga, kemampuan, serta kita masih muda, marilah kita mulai dari diri kita agar serius mempelajari Ilmu Qiraat untuk kita sebarkan di Indonesia secara khusus.

Yang perlu kita perhatikan lagi saat belajar Al-Quran adalah akhlak, karena kita sebagai pembelajar Al-Quran dan juga muqri’. Hal ini, jika saya perhatikan, di Indonesia masih sangat rendah. Banyak orang yang mencari sanad tinggi meskipun dia harus membayar sangat mahal. 

وليس على قرآنه متأكلا

Itu yang disebutkan dalam matan Syatibiyah, meskipun dalam hadis disebutkan:

إنما أحق أن يؤخذ فيه الأجر هو القرآن

“Yang paling berhak diambil ujrohnya (bayarannya) adalah Al-Quran (mengajarkan Al-Quran).”

Jangan pula menjadikan Al-Quran untuk menonjolkan diri. Meskipun sanadnya rendah tetapi akhlaknya tinggi. Itu lebih utama daripada yang punya sanad tinggi tetapi tidak punya akhlak. Pun jangan sampai tidak sopan kepada syekh, seperti menanyakan sanadnya, itu menyusahkan syekh. Hal itu menjadikan ilmu tidak barokah.

Saat ini sanad qiraat di Indonesia sangat banyak, jangan sampai kita yang di sini sampai kalah, karena di sini adalah lumbungnya. Maka, jangan sampai pulang-pulang tidak membawa sanad.

Memang terkadang orang yang mengajarkan Al-Quran tidak terlalu memperhatikan akhlak. Karena orang yang membaca Al-Quran belum tentu paham. Dia hanya pandai membaca Al-Quran tetapi tidak paham dengan yang dia baca, atau tidak belajar pernah belajar akhlak dengan guru-guru yang akhlaknya baik. Sehingga, ketika mengajarkan Al-Quran ia jadikan bisnis. 

Pembahasan ini di luar tema, tetapi ini sangat penting dan sebagai penyemangat bagi kita.

Ilmu Qiraat sangat penting, hukumnya fardhu kifayah. Karena prosentase penghafal Al-Quran di Indonesia saat ini sudah banyak, maka minimal di Indonesia saat ini ada satu orang ahli qiraat di setiap kecamatan.

Selanjutnya yaitu mengenai korelasi qiraat dengan Ilmu lainnya, di antaranya:

  • Fiqh

ويسألونك عن المحيض … حتى يَطَّهَّرْنَ / يَطْهُرْنَ

Imam Hamzah dan Kisa’i membaca menggunakan tasydid sedangkan selain keduanya dengan takhfif. Karena perbedaan ini ulama fikih berbeda pendapat dalam istinbat hukum:

Yang pertama adalah pendapat Imam Malik dan Imam Syafi’i, keduanya berpendapat bahwa seorang istri jika sudah berhenti darah haidnya maka harus mandi terlebih dahulu sebelum berkumpul dengan suaminya. Pendapat ini sesuai dengan bacaan pertama, yaitu يَطَّهَّرْنَ

Yang kedua adalah pendapat Imam Ahmad dan Imam Hanafi, keduanya berpendapat bahwa jika darahnya sudah berhenti sudah boleh berkumpul dengan suaminya tanpa mandi terlebih dahulu. Pendapat ini sesuai dengan bacaan kedua, yaitu يَطْهُرْنَ

Ada juga pendapat ketiga yang mengatakan bahwa seorang istri yang haid lebih dari sepuluh hari jika darahnya telah berhenti boleh langsung berkumpul dengan suaminya sebelum mandi, namun jika kurang dari sepuluh hari maka wajib mandi terlebih dahulu.

  • Bahasa Arab

واتقوا يوما لا تجزي … ولا تقبل / يقبل منها شفاعة

Ulama Nahwu ahli Bashrah dan Kufah saling menjatuhkan jika terdapat perbedaan pendapat, terutama ulama ahli Bashrah. Karena mereka sudah terkontaminasi oleh pemikiran ilmuan barat yang dicetuskan oleh Aristoteles.

Lalu mengapa pada ayat tersebut boleh dibaca menggunakan ya’ sedangkan Syafaah muannats? Boleh dibaca dengan ya’ (يقبل  ) disebabkan dua hal:

  1. Karena muannats dalam kalimat شفاعة adalah muannats majazi
  2. Karena ada pemisah (fasl) antara kalimah يقبل dan شفاعة yaitu kalimah منها

Dalam contoh lain seperti pada awal surah al-Nisa’:

واتقوا الله الذي تساءلون به والأرحامَ / والأرحامِ

Menurut ulama ahli Bashrah bacaan ini termasuk dalam qiraat syadzah. Banyak qiraat yang dianggap syadzah oleh ulama ahli Bashrah ketika tidak sesuai dengan kaidah Nahwu. Dalam kitab Dirasat fi Uslub Al-Quran, karya Muhammad Abdul Khaliq Adhimah, dijelaskan qiraat apa saja yang dianggap syadzah oleh ulama ahli Bashrah.

Perselisihan antara ulama ahli Bashrah dan Kufah dijadikan kesempatan oleh orientalis untuk menjatuhkan umat Islam, seperti halnya qiraat yang riwayatnya mutawatir namun tidak sesuai dengan kaidah Nahwu. Jika tidak mengetahui hal ini maka bisa saja kita malah mengikuti orientalis. Yang penting untuk diketahui yaitu apabila kita tidak tau sebab mengapa bacaan tersebut dibaca demikian maka lebih baik kembalikan (tafwidh) kepada Allah SWT.

  • Tafsir

Ilmu Qiraat juga sangat penting terutama pada penafsiran, seperti dalam ayat:

وإذ قال إبراهيم لأبيه أزرَ / أزرُ

Imam yang membaca marfu’ adalah Imam Ya’qub, hal itu karenaأزر  memiliki taqdir berupa ya’ nida’. Sedangkan Imam Quro’ lainnya membaca dengan manshub, karena أزر merupakan badal dari لأبيه. 

Al-Ab di sini bukanlah ayah Nabi Ibrahim tetapi pamannya, sedangkan ayah Nabi Ibrahim adalah Tarikh. Hadis Nabi Saw. أبي وأبوك في النار dijadikan dalil oleh orang Salafi Wahabi yang berpendapat bahwa ayah Nabi Muhammad Saw. di neraka, padahal al-Ab tidak selalu bermakna ayah, bisa bermakna paman ataupun kakek.

Pertanyaan-Pertanyaan

Nur Ahmad Fauzi

  1. Adakah kitab tafsir Al-Quran 30 juz yang membahas dari segi qiraat?
  2. Dalam sistem talaki apakah qari’ membacakan kepada rawi atau rawi yang membaca kepada qari’?
  3. Setiap qari’ memiliki dua rawi, lalu apakah qari’ yang memilihkan bacaan untuk rawi atau rawi membaca sendiri? Seperti halnya Imam Hafsh dan Imam Syu’bah, apakah keduanya memilih bacaan sendiri?

Jawaban:

Ust. Falih

  1. Saat ma’ridh 2008 ada kitab tafsir 30 juz yang menjelaskan dari segi qiraatnya تفسير القرآن الكريم في القراءات العشرة  yaitu berupa kumpulan risalah Jamilah Islamiyyah Ghaza.
  2. Ada dua macam talaki atau musyafahah, yang pertama adalah murid yang membaca kepada gurunya dan yang kedua guru yang membacakan kepada muridnya.
  3. Sudah pasti dari pilihan gurunya, karena kita tau Ima Hafsh sudah mengkhatamkan lebih dari 40 kali kepada Imam Ashim, dan beliau juga merupakan anak angkat dari Imam Ashim. Contoh pada imam lain yaitu Imam al-Dhuri, beliau banyak berguru kepada banyak quro’ dan beliau menjadi Rawi dari dua imam quro’, yaitu Imam Abu Amr dan Imam Kisa’i. Apabila bacaan Imam al-Duri disebut al-Bashriy maka dinisbatkan kepada Imam Abu Amr dan apabila disebut al-Kufiy maka dinisbatkan kepada Imam Kisa’i.

Ust. Agus

  1. Kitab tafsir dari turats yang menjelaskan banyak tentang qiraat adalah Bahr al-Muhith. Jika ingin mempelajari tafsir dan taujihnya maka banyak sekali di Bahr al-Muhith. Begitu juga di kitab-kitab lain seperti dalam tafsir Marah Labid karya Imam Nawawi, kitab ini dari segi qiraatnya pernah dijadikan materi tesis di Fakultas Bahasa Arab.
  2. Abu Abdurrahman Assulami adalah sahabat yang dikirimkan Sayyidina Utsman untuk mengajarkan Al-Quran di Kufah. Beliau dikirimkan beserta mushaf yang akan diajarkan. Beliau mengajarkan kepada banyak muridnya, di antaranya adalah Imam Ashim, Imam Hamzah, dan juga Imam Kisa’i. Jadi yang memilihkan bacaan adalah gurunya. Guru membacakan kepada muridnya dan murid-murid menirukannya. Kemudian murid-murid mengajarkan kepada rawi-rawi dan mengatakan, اثبت على هذا , bacalah menggunakan ini. 

Imam Ashim mengajar di Kufah lebih dari 30 tahun, kemudian dilanjutkan oleh Imam Hafsh dan Imam Syu’bah lebih dari 40 tahun.

Iin Nur Resa

Mengapa orang Indonesia membaca menggunakan riwayat Hafsh ‘an Ashim?

Jawaban:

Ust. Falih

Mengapa Imam Hafsh masyhur di Indonesia bahkan di dunia itu di antara faktornya adalah keberkahan. Proses penyebaran bacaan-bacaan di dunia ini perlu dijadikan kajian, seperti di Asia banyak menggunakan bacaan Imam Hafsh, di Magrib dan Andalus menggunakan bacaan Imam Warsy dari Mesir, di Libya banyak menggunakan bacaan Imam Qolun, di Sudan banyak menggunakan bacaan Imam Abu Amr, begitu juga daerah Afrika banyak menggunakan bacaan Imam Abu Amr. Hal tersebut juga dapat dilihat dari orang yang menyebarkan Islam pertama kali di daerah tersebut.

Ust. Agus

Lebih dari dua pertiga Umat Islam membaca menggunakan bacaan Imam Hafsh. Pada masa Abbasiyah sekitar tahun 200 Hijrah, Imam Ibnu Mujahid adalah panglima perang atau tangan kanannya khalifah. Beliau diperintahkan untuk mencetak mushaf dengan jumlah yang sangat banyak. Kemudian mushaf tersebut dicetak dalam riwayat Hafsh ‘an Ashim, itu adalah awal sejarah dicetaknya mushaf dalam jumlah yang banyak. Masa Kekhalifahan Abbasiyah ibukotanya terletak di Baghdad. Penduduk Baghdad menggunakan bacaan dari Kufah yaitu bacaan Imam Hafsh.

Imam Syafi’i menggunakan bacaan Imam Ibnu Katsir. Maka banyak istinbat hukumnya sesuai dengan bacaan Imam Ibnu Katsir. Jika ditanya Rasulullah Saw. menggunakan bacaan apa? Syekh Yusri pernah berkata bahwa Rasulullah Saw. menggunakan bacaan Imam Warsy. Buktinya apa? Karena dalam beberapa riwayat menyebutkan bahwa Rasulullah Saw. memanjangkan bacaannya dalam membaca Al-Quran.

Penanya Ketiga

Apakah qiraat harus sesuai dengan nahwu-sharaf atau nahwu sharaf yang harus sesuai dengan qiraat?

Jawaban:

Ust. Falih

Kaidah yang harus sesuai dengan qiraat karena di antara sumber kaidah adalah Al-Quran dengan dalilبلسان عربي مبين  dan juga sunah karena Rasulullah merupakan orang Arab yang paling fasih dalam Bahasa Arab. Kaidah nahwu juga lebih banyak khilafnya daripada fikih, karena satu kata sudah bisa banyak menimbulkan banyak khilaf.

Ust. Agus

Ada masa yang dikenal dengan ‘ashr al-ihtijaj, yaitu masa ketika Bahasa Arab boleh digunakan menjadi dalil dalam hukum. Masa ini berkisar sekitar 150 tahun sebelum diutusnya Rasulullah sampai 300 tahun setelah Hijriah, pada masa ini banyak muncul qiraat syadzah, maka qiraat syadzah boleh digunakan untuk berdalil saat itu. 

Sumber-sumber ihtijaj ketika itu adalah:

  1. Al-Quran
  2. Sunah
  3. Qoul Shahabi
  4. Syair-syair
  5. Natsr

Setelah masa itu Bahasa Arab sudah tidak dijadikan ihtijaj lagi, karena sudah banyak dakhil dan kata serapan dari basa asing dalam Bahasa Arab.

Tanzila Febi

  1. Seperti apakah sisi praktis Ilmu Qiraat dalam keseharian kita?
  2. Apakah Ilmu Qiraat yang saat ini sudah final dan tidak dapat dikembangkan lagi?

Jawaban:

Ust. Falih

  1. Salah satu faidah dari Ilmu Qiraat adalah agar kita tidak mengingkari bacaan yang berbeda dengan bacaan kita.
  2. Ilmu Qiraat dibagi menjadi dua: yang pertama Riwayah dan yang kedua Dirayah. Jika dilihat secara Riwayah, Ilmu Qiraat ini sudah final karena hanya bersumber dari musyafahah atau talaki. Jika masih dapat berkembang maka akan benar apa yang dikatakan orang orientalis bahwa Al-Quran bisa dibaca dengan maknanya. Sedangkan yang bisa berkembang adalah ilmunya atau pemahamannya yang disebut Dirayah.

Ust. Agus

  1. Faidah Ilmu Qiraat dalam kehidupan sehari-hari itu sangat banyak sekali, di antaranya seperti ayat tentang haid yang telah kita jelaskan sebelumnya. Jika kalimat يطهرن hanya boleh di baca dengan takhfif, maka akan memberatkan bagi orang-orang yang mungkin saat itu sedang di musim dingin. Contoh lain yaitu seperti pada ayat radha’ah, ayat ini merupakan qiraat syadzah, dari ayat ini juga banyak memunculkan hukum-hukum fikih yang kita gunakan dalam kehidupan sehari-hari.
  2. Masih banyak sekali Ilmu Qiraat yang belum kita pelajari. Sebagaimana dalam riwayat Imam Hafsh itu terdapat 54 thariq dan hanya satu thariq yang sudah dipelajari yaitu Thariq Ubaid bin Shabah. Dalam Qiraat Asyrah Shugro terdapat 20 thariq, karena setiap rawi memiliki satu thariq. Sedangkan dalam Qiraat Asyrah Kubro terdapat 80 thariq, karena setiap rawi memiliki 4 thariq. Hal terpenting juga dalam membaca Al-Quran adalah tidak diperbolehkannya mencampur adukkan bacaan qiraat.

Pertanyaan Online

Apakah qiraat syadzah boleh dijadikan istinbath hukum?

Jawaban:

Seperti yang telah kita bahas di pembahasan sebelumnya bahwa qiraat syadzah boleh digunakan dalam istinbat hukum.

Wallahu A’lamubisshawab.

Notulis: Nurul Hasanah 

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.