Pentingnya Pendekatan Antroposentris dalam Membaca Tafsir al-Quran Kontemporer

0 322

Ada semacam kegelisahan bahwa selama ini diskursus tafsir telah di-sakralkan. Tafsir sebagai bagian dari turats Islam sering dipahami dan didekati dengan logika fikih; halal-haram. Pemahaman klasik yang demikian kemudian menggambarkan al-Quran sebagai kitab hukum, penafsirannya menjadi kaku dan statis. Fenomena tersebut banyak dijumpai pada masyarakat Indonesia, yang dalam bahasa Cak Nur, tidak bisa membedakan antara yang sakral sebagai sakral dan yang profan sebagai profan. Sehingga, umat Islam menganggap tafsir adalah saudara kembar al-Quran dalam ‘hierarki’ kesuciannya. Tafsir kemudian menjadi sesuatu yang statis, nirwaktu dan anti-kritik.

Berangkat dari kegelisahan tersebut, Muhammad Syadidul Isytiher mengangkat Tafsir Konstektual Sunni; Peneguhan Eksistensi Tafsir Antroposentris dalam kajian reguler lakpesdam NU Mesir. Kajian tersebut digelar pada Kamis, 21 November 2019 di Hay Sifarat, Sabik. Makalah yang dihadirkan dalam 19 halaman berusaha membaca historisitas tafsir melalui kacamata sentrisme. Suatu pembacaan ‘segar’ yang berusaha menelisik corak-corak tafsir dari masa klasik sampai era kolonialisme dan modern.

Sentrisme dalam tafsir sepanjang sejarah berjalan dengan begitu dinamis. Penulis menyatakan bahwa tafsir di masa klasik hingga era ilmu kalam awal bercorak teosentris (berpusat pada tema ketuhanan). Corak antroposentris (berpusat pada tema kemanusiaan) baru dijumpai di masa kolonialisme yang salah satunya digawangi oleh Jamaluddin al-Afghani, dengan berbagai ketegangan realitas di masa itu.

Di antara bentuk ketegangan tersebut ialah munculnya wacana pembaharuan Islam yang kemudian memengaruhi perkembangan corak penafsiran al-Quran. Perkembangan tafsir antroposentris kemudian menguat dan mengristal di masa selanjutnya (kontemporer). Kehadiran Sayyid ad-Dahlawi, Ahmad Khan di India dan Muhammad Abduh, Rasyid Ridha di Mesir mengawali era tersebut dengan memasukan tema-tema sosial terhadap tafsir.

Masa kontemporer menandai era pembaharuan tafsir dan pendekatan-pendekatan tafsir hermeneutis. Pendekatan tafsir dengan corak demikian pertama kali dikenalkan oleh Fazlurrahman dengan teori double movement-nya yang kemudian disusul oleh Nasr Hamid Abu Zaid dalam bukunya, Mafhûm al-Nash. Kehadiran hermeneutis di sini sebagai ‘yang liyan’ dalam diskursus Islam tidak ditolak sepenuhnya, ataupun diterima secara keseluruhan. Sampai di sini, penulis menawarkan pembacaan Abdullah Saed sebagai figur kontemporer yang membawa wacana “tafsir kontekstual”. Suatu pendekatan tafsir al-Quran yang melibatkan aktivitas penafsiran teks-konteks-kontekstualisasi sekaligus.

Mengenai pembaharuan tafsir dalam sunni, penulis berangkat dari prinsip “keterbukaan” yang berada dalam prinsip moderatisme sunni. Prinsip tersebut juga didasarkan pada pemikiran Imam Asyari yang semula menolak takwil dalam bukunya, al-Ibânah dan kemudian menerimanya, dalam al-Luma’. Dari sini, wacana tafsir kontekstual sunni menemukan momentumnya. Ia hadir sebagai upaya memperluas horizon ‘konteks’ dan ‘kontekstualisasi’ dalam tafsir sunni. Ini penting diketengahkan dalam rangka mengadaptasi tema-tema yang diangkat sesuai dengan realitas kontemporer.

Penulis melihat bahwa tafsir kontekstual sunni hanya bisa diwujudkan dengan membumikan tafsir kiri (al-tafsîr bi al-wâqi’). Namun pada kedua tema tadi, audiens menilai pembahasannya belum matang. Selain belum ada figur mufasir kontemporer sunni, penerapan tafsir tersebut pada sebuah ayat juga belum bisa dihadirkan.

Pembahasan tema kajian menjadi cukup hangat ketika memasuki perdebatan keabsahan hermeneutika dalam disiplin keilmuan Islam. Sebagian audiens menilai bahwa ilmu penafsiran tersebut selain karena produk Barat yang notabene digunakan untuk Injil, juga karena hermeneutika sepenuhnya belum matang sebagai suatu ilmu. Selain itu, subyektivitas dalam hermeneutika rentan untuk membuka penafsiran yang semena-mena (tanpa otoritas yang baku) terhadap al-Quran.

Audiens lain menilai sebaliknya. Hermeneutika tidak bisa ditolak secara mutlak. Sebab, hermeneutika sebagai filsafat pemahaman memiliki berbagai aliran dan pendekatan dalam memahami teks. Dari situ, kehadiran hermeneutika diharapkan bisa menyempurnakan dan melengkapi disiplin tafsir dalam khazanah keilmuan Islam. Terlepas dari semua itu, pro-kontra hermeneutika sebenarnya kembali pada persoalan otoritas dan tradisi dalam sunni sendiri.

Tepat pada pukul 22:00 WLK, kajian diakhiri dengan hidangan berat dan obrolan ringan seputar penutupan kegiatan pra-ujian termin I.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.