Pergulatan Spritual Rĕnĕ Guĕnon dan Infiltrasi Tasawuf Islam

0 251

Sikap skeptis terhadap diskursus keilmuan Islam banyak diterapkan oleh orientalis dalam proses mengkaji dunia ketimuran. Sikap skeptis tersebut mereka terapkan dalam mengkaji hal-hal prinsipil dalam Islam seperti autentitas Hadits dan Ijmak. Dua hal ini (Hadits dan Ijmak) telah menjadi fokus pembahasan kajian reguler sebelumnya dengan tema besar orientalisme. Sementara pada kajian minggu ini, tepatnya pada tanggal 09 Maret 2019, Nizam Noor Hadi sebagai pemakalah menyajikan pembahasan mengenai orisinalitas diskursus tasawuf dengan judul “Dialektika Orisinalitas Diskursus Tasawuf; Keterpengaruhan Rĕnĕ Guĕnon terhadap Mistikisme”. Dalam hal ini, pemakalah mengangkat seorang tokoh orientalis berkebangsaan Prancis, Rĕnĕ Guĕnon sebagai tokoh yang mengafirmasi orisinalitas diskurus tasawuf dalam tubuh Islam.
Di sub judul pertama, pemakalah memaparkan dialektika orientalis dalam membahas orisinalitas ajaran tasawuf. Sosok Ignaz Goldziher termasuk tokoh yang skeptis terhadap kemurnian ajaran tasawuf dalam Islam. Ia menilai bahwa tasawuf Islam mengadopsi ajaran sufistik dari agama-agama lain seperti Katolik dan Hindu. Sedangkan Nicholson, seorang orientalis yang fokus mengkaji mistikisme dan tasawuf, mengakui bahwa diskursus tasawuf Islam adalah orisinal yang mana sumbernya adalah al-Quran dan Hadits Nabi.
Pada posisi ini, Rĕnĕ Guĕnon berada di barisan yang mengakui orisinalitas tasawuf Islam. Bahkan, ia terpengaruh dengan tasawuf dan mistikesme dalam Islam hingga akhirnya ia menjadi seorang mualaf. Namun, pada poin inilah yang menjadi titik kritik pada makalah kali ini. Dimana pemakalah belum menjelaskan secara detail geneologi keterpengaruhan Rĕnĕ Guĕnon terhadap tasawuf Islam. Sejak kapan ia mengenal tasawuf, motif apa yang melatarbelakanginya menyelami dunia mistik dan sufistik dan untuk apa ia—sebagai orientalis—memfokuskan kajian ketimurannya khusus pada diskursus tasawuf. Selain itu, struktur penyusunan makalah yang sedikit berbeda dari biasanya, banyak menuai kritik dari para anggota kajian, khususnya masalah struktur prolog. Abdul Munthalib adalah salah satu yang mengkritik bagian ini. Ia berpendapat bahwa sebuah prolog seyogianya memaparkan kerangka teoritis yang meliputi premis-premis serta metodologi penulisan yang dipakai oleh pemakalah. Sementara, prolog dalam makalah saudara Nizam Noor Hadi belum menampilkan hal yang demikian.
Akan tetapi, pemilihan sosok Rĕnĕ Guĕnon untuk dikaji oleh pemakalah mendapat banyak apresiasi oleh para anggota kajian. Sebab Rĕnĕ Guĕnon termasuk tokoh yang ulet dan gigih dalam mengkaji tasawuf Islam. Bahkan, dalam sejarahnya, ia menuju Mesir setelah mendapat gelar bachelor di salah satu universitas di Perancis. Di Mesir, ia bermulazamah kepada Syekh Abdurrahman Alisy al-Kabir, seorang ahli fikih bermazhab Maliki. Darinya, Rĕnĕ Guĕnon belajar yuridis Islam dan tasawuf. Perjalanan intelektual sekaligus spiritual itulah yang membuat Grand Syekh Abdul Halim Mahmud menulis sebuah buku biografi tentang Rĕnĕ Guĕnon.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.