Urgensi Akal dalam Etika Islam

0 232

Diskursus etika dalam perkembangan tradisi filsafat merupakan kajian yang membincang moralitas dan tingkah laku manusia. Ia tidak lain merupakan bentuk usaha rasional dalam menyusun teori-teori mengenai tindakan manusia.

Kajian kritis moral dimulai pertama kali pada masa Yunani Kuno, tepatnya ketika terjadi pertentangan sengit antara Socrates dengan lawan semasanya, kaum sofis. Pertanyaan-pertanyaan seputar apakah suatu tindakan baik, apakah suatu tindakan buruk, dari mana asal pertimbangannya menjadi titik fokus pembahasan para moralis. Bahkan, tak jarang kita juga menggunakan pertimbangan-pertimbangan moral dalam mengambil keputusan-keputusan besar dalam hidup, seperti pekerjaan apa yang seharusnya saya ambil? Apakah salah jika saya mengambil keputusan ini? Apakah baik jika saya masuk universitas ini? Dari sinilah kemudian Sidi Gazalba dalam karyanya, Sistematika Filsafat, mengatakan bawah etika merupakan teori tentang perbuatan manusia dipandang dari nilai baik dan buruk, sejauh yang dapat ditentukan oleh akal.

Dalam dunia Islam, semangat kajian kritis mengenai tindakan manusia ini sudah dimulai sejak turunnya al-Quran. Ayat-ayat seperti “Demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)-Nya, maka Dia mengilhamkan kepadanya (jalan) kejahatan dan ketakwaan,” (QS al-Syams: 7-8) menjadi pijakan utama para penggagas studi etika dalam Islam, seperti Ibnu Miskawaih dalam Tahdzîb al-Akhlâq atau Imam al-Ghazali dalam Ihyâ ‘Ulûm al-Dîn. Mereka mencoba memadukan antara teori-teori agama dengan pemikiran-pemikiran rasional seputar etika yang berkembang pada saat itu.

Terlepas dari pemikiran kedua tokoh tersebut, saya hanya akan menyoroti bagaimana peran rasio dalam mendampingi syariat Islam, terkhusus dalam ranah moral.

Pada dasarnya, manusia tercipta dengan membawa prinsip-prinsip moralitas dalam dirinya. Selain dibekali kemampuan berbahasa dan mengakses dunia luar dengan indra, ia juga dibekali kemampuan alami untuk membedakan antara keindahan dan kebusukan, antara tingkah laku baik dengan yang buruk. Oleh sebab itu, secara naluriah manusia cenderung memuji seseorang yang bertingkah laku baik dan berpaling dari hal-hal yang ia anggap buruk. Muncul rasa tenang ketika berbuat baik dan cenderung gelisah ketika berbuat buruk. Sumber dari kepekaan alami ini ialah apa yang sering disebut oleh moralis sebagai hati nurani (dlamir).

Dalam perjalanannya, kemampuan alami ini sering kali tereduksi oleh dorongan-dorongan negatif, seperti keinginan-keinginan pribadi, hasrat, fanatisme kelompok, ataupun tradisi-tradisi buruk yang berkembang. Pada akhirnya, hal tersebut menjadi hijab antara kemurnian hati nurani dengan realitas yang sedang diamati. Sehingga, hal-hal yang buruk menjadi dianggap baik, atau sebaliknya.

Oleh sebab itu, pada akhirnya sember kepekaan ini membutuhkan penimbang sekaligus pengontrol agar tetap pada jalur yang semestinya. Penimbang yang mampu mengidentifikasi mana kehendak yang bersumber dari hasrat emosional dan mana kehendak yang benar-benar bersumber hati nurani. Sehingga selain kepekaan rasa (wijdan), manusia juga dibekali software identifikasi baik-buruk (secara moral) yang sering disebut akal budi (rasio).

Akal budi mendapat posisi sentral dalam kajian etika. Sebagaian moralis menganggapnya sebagai sumber etis tingkah laku manusia. Socrates misalnya, menjadikan hukum akal sebagai nilai universal dalam moralitas manusia. Atau kaum Stoa, mereka menganggap hidup berkeutamaan adalah hidup yang berlandaskan akal budi. Kemudian Emmanuel Kant, yang juga melandaskan prinsip-prinsip etikanya pada kehendak suci akal budi murni yang ia anggap sebagai sumber moralitas tertinggi.

Dalam agama Islam, akal yang secara fitrah memiliki kemampuan untuk membedakan baik-buruk (secara moral) tersebut memiliki keterkaitan yang erat dengan agama (syariat), baik sebelum turunnya syariat (yang dibawa oleh seorang nabi), ketika masa turun, atau setelah turun. Syariat di sini, bagi seorang yang beragama merupakan sumber moralitas tertinggi.

Masa sebelum Turunnya Syariat (Masa Fatrah)

Akal menjadi sumber moralitas utama bagi seseorang. Di sini, akal sebagai bekal alami seorang manusia ketika menilai realitas yang melingkupi seseorang. Semisal, bagaimana hukum moral penyembahan berhala, berzina, atau membunuh orang lain. Mengenai hal ini, dalam sebuah Hadits dikatakan bahwa ketika Tuhan menghendaki kebaikan atas hamba, maka Ia letakkan penasehat dalam diri hamba tersebut—memberi perintah sekaligus memberi larangan.

Akan tetapi, pada kenyataannya akal tidak selalu mampu untuk menilai perbuatan moral dalam setiap tingkah laku manusia (karena sifat akal yang manusiawi). Khususnya, dalam tata laku yang berhubungan dengan interaksi hamba dengan Tuhan, dan perilaku yang samar nilai. Misal, hukum baik-buruknya minuman keras. Hukum ini membutuhkan syariat, sebab di beberapa tempat, khamr dianggap minuman biasa dan baik dikonsumsi.

Syekh Abdullah Diraz dalam bukunya, Dirâsât Islâmiyyah fî al-‘Alâqah al-Dawliyyah wa al-Ijtimâ’iyyah membagi kemampuan akal dalam melihat baik-buruk suatu perbuatan menjadi tiga. Pertama, perbuatan yang akal mampu menentukan hukumnya. Yaitu dalam hal baik-buruk yang sifatnya sudah umum. Mencuri itu buruk dan membantu orang lain itu baik, misalnya. Di sini, syariat datang sebagai penegas dan penguat hukum akal.

Kedua, perbuatan yang akal berpotensi terkecoh ketika menghukuminya. Yakni, perbuatan yang masih samar baik-buruknya. Semisal hukum zina, khamr, bohong untuk keselamatan diri, kejujuran yang dianggap akan menimbulkan masalah lebih besar. Di sini, hukum syariat berperan sebagai pencerah bagi kesamaran hukum akal dan penerang kerancuannya.

Ketiga, perbuatan yang penilaiannya di luar kemampuan akal. Semisal hal-hal yang berhubungan dengan interaksi hamba dengan Tuhan, seperti hukum salat, haji, dan wudu. Penilain baik-buruk perbuatan tersebut merupakan ranah wahyu. Oleh sebab itu, di sini hukum agama memiliki otoritas mutlak sebagai sumber moralitas manusia.

Dalam dua hal terakhir, akal harus tunduk pada hukum moral yang ditentukan oleh agama. Penilaian akal dalam keduanya masih menyimpan celah untuk terpeleset ke jurang kesalahan. Agaknya dari situ kita bisa tahu asal muasal dari ungkapan, “Perbuatan baik adalah perbuatan yang dianggap baik oleh syariat, sedang perbuatan buruk adalah perbuatan yang dianggap buruk oleh syariat.”

Masa ketika Turun Syariat dan Setelahnya

Pertanyaan yang mungkin bisa diajukan di sini adalah apakah dengan turunnya hukum agama, kemampuan akal dalam membedakan baik-buruk (secara moral) harus dikesampingkan, seperti halnya keberadaan air yang membatalkan tayamum?

Jelas tidak. Seperti yang diungkapkan Syekh Diraz, suatu cahaya (syariat) tidak akan membinasakan cahaya yang lain (akal), akan tetapi saling menguatkan dan melengkapi. Sehingga, dalam menjawab hal ini, setidaknya di tengah superioritas hukum agama sebagai sumber moralitas manusia, ada tiga urgensi akal budi manusia. Pertama, memberikan perincian terhadap hukum agama yang sifatnya umum. Banyak dari perintah agama yang bersifat universal (umum). Sebagai contoh, dalam al-Baqarah ayat 223 dikatakan, “… Dan kewajiban ayah menanggung nafkah dan pakaian mereka (anak) dengan cara yang patut”. Dalam ayat ini, ihwal rinci mengenai pakaian patut yang wajib diberikan seorang ayah kepada anaknya menuntut pemahaman yang lebih. Sehingga, di sini akal memiliki ruang untuk memberikan perincian: seperti apa pakaian yang patut itu? Bagaimana cara mendapatkannya?

Kedua, memberikan pemaknaan lebih terhadap hukum agama. Ketika seseorang memercayai agama tertentu, salah satu konsekuensinya adalah ia wajib tunduk pada perintah yang datang dari agamanya. Sehingga agama sebagai sumber moralitas manusia, selain diartikan sebagai perintah Tuhan, juga sebagai hukum moral yang harus diterima sekaligus diikuti. Salat dan puasa bukan lagi dimaknai sebagai perintah Tuhan semata, tapi juga sebagai perbuatan moral manusia yang bisa dihukumi baik-buruk. Contoh lain misalnya, minum khamr dipandang sebagai larangan agama sekaligus perbuatan moral yang memiliki nilai baik-buruk.

Ketiga, membangun kesadaran moral beragama. Tatkala agama dipandang sebagai sumber moralitas tertinggi bagi manusia beragama, maka setiap perbuatan moral yang dilakukan mesti sesuai kriteria agama, yakni berorientasi pada Tuhan (lillâhi ta’âlâ) serta dilakukan dengan kesadaran dan kerelaan penuh (ikhlas). Ikhlas merupakan tujuan tertinggi dari perbuatan manusia beragama. Memaknai suatu perbuatan dengan orientasi seperti ini harus melalui kesadaran penuh akal manusia.

Oleh karena itu, layaknya dua sisi mata uang, syariat dan akal tidak akan bisa dipisahakan, apalagi dipertentangkan. Keduanya berasal dari sumber yang sama dan memiliki orientasi yang sama. Membedakan antara yang baik dan buruk, yang benar dan salah, sekaligus menjelaskan bagaimana manusia menghiasi dirinya dengan kebaikan dan kebenaran serta menyisihkan keburukan dan kesalahan.

Tinggalkan pesanan

Alamat email anda tidak akan disiarkan.