Sebagai bentuk upaya peningkatan kompetensi pemuda-pemudi Nahdlatul Ulama dalam menyongsong Indonesia Emas 2045 melalui kancah politik, Divisi Keilmuan Antariksa mengadakan acara bertajuk Ngopi (Ngolah Pikir) dengan tema “NU dan Politik untuk Indonesia Emas 2045”. Acara ini digelar pada 24 April 2024 di Antara Cafe, Darb el-Ahmar, Darrasah, Kairo. Turut hadir di acara tersebut beberapa delegasi Masisir yang terdiri dari almamater, forum kajian dan afiliatif lainnya.
Acara ini juga menghadirkan beberapa panelis: Presiden PPMI Mesir, H. Rahmat Iqbal Lc.; Ketua Wihdah PPMI Mesir, Mujida Amaniyya; Wakil Ketua Tanfizdiyah PCINU Mesir, Nizam Noor Hadi Lc. dan Ketua LAZISNU PCINU Mesir, H. Fawaid Zuhri. Rangkaian acara diawali dengan pembukaan dari MC kemudian dilanjut dengan sambutan yang disampaikan oleh Ramadhan Fajri Asshidiqi selaku Ketua Umum Antariksa.
Ramadhan menjelaskan latar belakang tentang tema yang dipilih. Ia mengaca dan melihat pada amanat-amanat yang tertuang dalam Muktamar ke-34 di Lampung dan R20 di Bali yang diadakan oleh PBNU, bahwa salah satu amanat tersebut adalah NU ingin menjadikan agama sebagai perdamaian global. Ketua Umum Antariksa itu juga sempat menyinggung dua tokoh fenomenal: Ir. Soekarno dan KH. Hasyim Asyari yang memiliki visi serupa untuk membangun Indonesia melalui pemuda-pemudinya, terkhusus Nahdlatul Ulama.
Acara dilanjutkan dengan diskusi terbuka yang dimoderatori oleh Unzilaturrahmah. Ia membagi acara ke dalam dua sesi yang terdiri dari pembicara dan dialog berupa pertanyaan dan sanggahan. Panelis pertama, Nizam Noor Hadi Lc. membincang tentang pandangan Islam politik, historisitas serta realitas Islam yang dinamis. Melalui kacamata ahlusunah waljamaah, ia mengutarakan bahwa politik dimaknai sebagai sesuatu yang bersifat kompatibilitas, komplementer atau pelengkap dan bukan menjadi hal yang esensial dalam ajaran Islam.
Selanjutnya, Nizam memaparkan geneologis munculnya pandangan politik Islam yang dimulai dari wafatnya Nabi Muhammad SAW sampai kepada para sahabat. Dari sini dapat disimpulkan bahwa Islam tidak menganut pandangan politik tertentu. Wakil Ketua Tanfidziyah PCINU Mesir itu juga menjelaskan pergerakan dan prinsip serta nilai ulama Nusantara dan NU dalam politik. Di antaranya tawasutiyah, tasamuhiyah, islahiyah, dan manhajiyah. “Prinsip inilah yang kemudian menjadi dasar bagi warga NU dalam menyikapi politik dan membangun Indonesia Emas 2045,” ucap Nizam.
Panelis kedua, Mujida Amaniyya menyampaikan dua variabel penting untuk mewujudkan Indonesia Emas 2045: pengembangan SDM (Sumber Daya Manusia) dan kesehatan. Ia berharap Marhalah Antariksa yang juga sebagai kader NU dapat memenuhi dua poin penting itu dengan berafiliasi ke dalam organisasi-organisi NU, sehingga dapat berkontribusi untuk Indonesia Emas 2045. Sebelum melangkah kepada dua panelis berikutnya, sesi diolag yang dibuka sejenak berjalan cukup panas.
Merangkak pada panelis ketiga, H. Rahmat Iqbal Lc. Ia memulai presentasinya dengan menampilkan tokoh-tokoh alumni al-Azhar yang berkarir dalam politik, dan tokoh dari partai politik itu sendiri. Rahmat juga menjelaskan dinamika politik Masisir yang terdiri dari PPMI, Wihdah, Senat dan kekeluargaan yang disebut dengan SGS (Student Government System). Selanjutnya, ia menjelaskan politik sebagai ilmu pengetahuan yang memiliki tiga unsur: objektif, logis dan metodologis.
Beranjak kepada panelis terakhir, H. Fawaid Zuhri. Ia memberikan definisi politik yang berarti menciptakan suasana keadilan, kesejahteraan dan keharmonisan. Ia menekankan kepada kader NU untuk peduli terhadap politik dalam koridor yang telah ditetapkan oleh pendiri NU. Lebih jauh dari itu, Fawaid memaparkan dua poin yang harus dimiliki kader NU. Pertama, peran dalam dinamika politik. Kedua, literasi yang sesuai dengan disiplin keilmuan tertentu.
Rangkaian acara beralih menuju dialog terbuka antarpanelis dan delegasi yang berlangsung lama sekaligus sangat panas. Meski ada beberapa pertanyaan yang menurut saya kurang tepat dan tidak relevan terhadap tema besar, tetapi itu tidak mengurangi semangat Masisir untuk terus berdiskusi dan beradu argumen. Melihat waktu yang tidak memungkinkan untuk melanjutkan dialog, acara ditutup dengan menyisakan beberapa pertanyaan yang belum sempat diutarakan dan dijawab. (Anggi Agusti)










